Cerita Lama

Sinar binar membangunkanku yang masih saja terlalu lugu.

Bukan air mata kok, hanya sekedar tetesan kata, maukah kau mendengarkannya?, kemudian kencangkan bahumu biar ku bersandar, buka bibirmu, biar kucium lembut.

bukan menyesal, hanya sekedar memperhitungkan lagi.

Bertumpu tangan pada dinding bumi, merendam setengah muka. dan aku tidak menangis, hanya sekedar tetesan kata.

Wahai kebisuan saksi, sekedar uluran tangan pasti kau punya.

Sekedar telinga pasti kau pun punya.

lalu aku akan berkata, pasrah dalam pangkuanmu, menutup mata.

teruslah bisu, tidak seperti keramaian yang sok tahu tentang ku.

Apa kalian akan membiarkanku hancur berantakan di bawah jembatan.

Lebih baik nyeri sekalian mati, daripada sedih tapi tak punya air mata.

Tapi sebelum mati berteman tanah, aku ingin berteriak namamu, bahkan bukan nama Tuhan, hingga buntu tenggorokanku.

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s