Cara Tintin Belajar Terbang

 
Rasanya karakter Tintin itu sudah tidak asing lagi di benak kita, apalagi belum lama ini dia hadir di bioskop. Saya adalah salah satu orang yang mengenal Tintin dari film gubahan Steven Spielberg itu. Bahkan yang nggak pernah baca atau nonton langsung kisahnya pasti tahu siapakah Tintin itu.
Hmm, tapi nggak ada salahnya saya berbagi persepsi. Tintin, di pikiran saya adalah seorang petualang sekaligus wartawan. Yap, profesi petualangnya lebih pantas disebut di awal mengingat cerita petualangannya lebih dominan dibanding kisahnya menjadikan petualangan serunya sebagai berita. Betul kan? Bahkan kita hanya dibiarkan tahu kalau dia wartawan dari pernyataannya saja. Tanpa itu kita hanya akan mengira ia hanya pemburu harta karun belaka.
 
Tapi, alih-alih terkesan dengan petualangannya, hingga kini justru cerita tentang kewartawanannya yang saya kenang. Ada satu hal yang melekat erat di benak saya sejak menonton Tintin di bioskop Desember lalu, yaitu adegan ketika Tintin berhasil merebut pesawat musuh yang hendak menyerangnya saat ia terdampar di lautan. Setelah semua awak naik ke kapal Kapten Haddock sedikit heran dan bertanya.
 

“Tintin, apakah kamu yakin bisa mengemudikan pesawat?” tanyanya
 

“Ya, saya pernah mewawancara seorang pilot!” jawab Tintin singkat untuk meyakinkan. Tak lama, pesawat pun berhasil mengudara.

Saat mendengar percakapan itu saya tersentak sambil senyum kecil. Pastinya, ini karena ada kedekatan jenis profesi antara saya dan Tintin. Sedikit banyak esensi dari kalimat yang diucapkan oleh Tintin mewakili  dari apa yang senangi dari kegiatan saya sehari-hari yakni mencari, menulis, berbagi pengalaman dan informasi. 
Jika dilihat dari pekerjaannya yang menjaring informasi lalu disebar kepada publik lewat media, maka profesi saya biasa disebut wartawan. Entah mengapa, sebutan itu sedikit membebani. Mungkin karena stigma masyarakat soal wartawan  adalah profesi yang dekat dengan politik, kasus, dan memiliki pemikiran kritis. Sementara saya, cuma hal-hal ringan dan menyenangkan saja yang diberitakan. Jadi saya lebih senang kalau disebut reporter atau penulis saja. Ya, penulis. Terdengar sederhana. Toh, saya kan memang menulis. :p
 
Oke, balik ke soal Tintin. Dari pernyataan pemuda Belgia itu saya menemukan esensi dari kegiatan menulis ini. Jika sebelumnya saya selalu bingung menjawab pertanyaan mengapa saya suka menulis maka sekarang saya akan dengan tegas menjawab: karena dengan menulis kita akan mempelajari bahkan mengalami langsung ihwal yang akan kita tulis. 
Bayangkan, untuk bisa mengoperasikan pesawat sekali pun Tintin tidak butuh sekolah penerbangan. Satu-satunya modal Tintin – yang disebut dalam film – adalah pengalamannya mewawancara seorang pilot.
 
Saya coba membayangkan kira-kira topik apa yang diangkat Tintin saat mewawancara si pilot itu. Sepertinya nggak mungkin cuma untuk sekedar mendapat kutipan dari si pilot mengomentari suatu isu, soal penerbangan misalnya. Pasti Tintin menghabiskan waktu lama dengan si pilot itu. Mengikuti kegiatannya selama ada di pesawat. Atau mungkin ia melakukan wawancara sambil ikut pilot terbang, duduk di dalam cockpit sambil memerhatikan cara pilot mengemudikan kendali. Lalu setelah jam kerja usai, karena merasa senang diajak cerita banyak, sang pilot pun memberi Tintin kesempatan untuk menjajal pesawat.
 
Jika benar begitu, maka Tintin adalah seorang wartawan yang sangat handal. Ia bisa menjalin kedekatan dengan narasumber dengan baik. Kalau dilihat dari kepribadiannya yang penuh percaya diri, supel dan punya rasa ingin tahu yang besar rasanya memang tak ayal Tintin bisa dengan mudahnya membuat narasumber itu nyaman. Pantas saja dia punya hobi bertualang, tak hanya peta harta karun yang ditelusuri tetapi juga pengalaman dan pengetahuan orang.
 
Sepengalaman saya wawancara dan mempelajari cara wartawan senior wawancara, narasumber bakal antusias mengeluarkan seluruh isi pikirannya kalau wartawannya memiliki antusiasme yang lebih besar, pastinya dilengkapi dengan  cara pendekatan yang ramah dan ‘hangat’. Bahkan si narasumber tidak merasa seperti sedang diwawancara, melainkan ngobrol panjang dengan fans beratnya. Hehe
 
Kalau Tintin bisa belajar terbang, lalu apa yang saya dapat? 
Saya memiliki ketertarikan yang besar terhadap hal-hal ini: seni – termasuk di dalamnya fotografi film dan musik – kreativitas, kehidupan anak muda, dan gerakan serta pemikiran alternatif. Jangan kira saya nggak pernah mencoba menjadi pelaku yang speasialis dan professional di salah satu bidang tersebut. Saya sempat mencoba kuliah seni rupa tapi gagal, saya sempat menggeluti fotografi dan segala teknik-tekniknya, tapi ternyata saya merasa nggak begitu bakat untuk jadi professional, dan  saya pernah melewati masa-masa aktif mengikuti sederetan festival kreatif, khususnya di bidang periklanan, tapi merasa nggak minat untuk terjun di dunia komersilnya. 
Soal anak muda dan gerakan alternatif, sampai sekarang saya cukup merasa bangga bisa punya pemikiran yang nyeleneh. Beberapa ide itu pun berhasil saya wujudkan, sayang aja, penyakit moody selalu mengombang-ngambingkannya. Hehe.
 
Ketertarikan pun saya ubah arahnya. Bukan untuk ‘menjadi’ tetapi untuk mengada diantaranya. Mengamati hal-hal kesukaan saya itu. Dan itu bisa saya dapat dengan menulis. Walau saya nggak merasa pandai dan ahli di bidang penulisan, tapi untungnya saya gemar untuk berbagi pengalaman. Ditambah lagi saya orang yang sulit untuk bercerita secara verbal, menulis adalah toa yang bisa saya andalkan untuk berbagi. 
 
Menulis adalah Terminal 
Jika kegemaran-kegemaran saya itu adalah bus, maka menulis sama hal seperti menjadi terminal tempat bus-bus itu berlabuh. Tentunya, saya bisa memilih bus mana yang saya siapkan lahan untuk berlabuh. Saya bisa dengan seringnya mengamati  hal-hal yang suka itu.
 
Lantas, hubungan bus dan terminal itu bukan sekedar sebagai tempat berlabuh tetapi juga bertransaksi. Bus dan terminal saling bertukar muatan (bisa jadi penumpang). Bus menurunkan muatan ke terminal dan terminal menawarkan calon muatan baru. Sebuah simbiosis.
 
Dengan saya menuliskannya maka sekaligus saya memublikasikan serta mengapresiasi keberadaan mereka beserta muatan-muatannya. Pastinya, sebagai terminal yang berusaha menjadi baik, saya pun akan merawat dan pelan-pelan ikut mengembangkan  angkutan-angkutan yang langganan mampir di terminal saya. Caranya? Menulis hal-hal yang positif, inspiratif sekaligus apa-adanya. Moga-moga saja khalayak kian banyak berdatangan ke terminal saya untuk kemudian menumpang ke bus.
 
Lantas, saya bisa menyerap muatan berupa pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi dari hal-hal yang saya senangi. Saat saya bekerja di majalah seni, saya bisa mendapat akses untuk menghadiri pembukaan pameran seni rupa, meliput konser-konser musik dan menonton pemutaran film-film alternatif dan menyimak diskusi soal seni, budaya dan sosial serta berkenalan dengan individu dan komunitas-komunitas yang inspiratif.  Sederetan referensi terkait pun mau tidak mau saya baca guna memperkaya diri dan tulisan.
 
Kini, saya ikut menulis di rubrik sekolah sebuah majalah remaja pria satu-satunya di Indonesia. Pastinya hal ini membuat saya kerap bercengkrama dengan anak-anak SMA, entah itu sekedar memfollownya di twitter, mewawancara, atau seharian jalan bareng. Ya, saya jadi senang  bisa selalu menyimak geliat anak-anak SMA hingga bisa menyerap semangat mereka untuk berekspresi dan berkarya tanpa pamrih. Sesuatu yang sulit saya lakukan sekarang.
 
Seperti halnya Tintin, kita tidak perlu untuk menjadi pilot untuk bisa terbang, kita tidak perlu menjadi seniman untuk aktif di kegiatan seni, kita tidak mesti menjadi fotografer untuk mengaku cinta sama fotografi, kita tidak mesti berumur muda untuk sekedar memiliki jiwa muda. Cukup menjadi penulis yang baik, maka kita akan merasakan, mengalami, dan mempelajari banyak hal yang kita suka!
 
Maret, 2011.

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

2 thoughts on “Cara Tintin Belajar Terbang”

  1. wah, kalimat yg Tintin bilang itu jg kalimat yg “ngena” lho buat saya. soalnya sy punya pngalaman langsung.
    waktu itu, sy pernah meliput ttg Trike. dari liputan waktu itu, saya dapat full teori ttg menerbangkan pesawat kecil tsb.dan, kalo aja waktunya lebih panjang,sy sudah dpt kesempatan lgsg mjajal psawat tsb (tntunya dgn asistensi pilot aslinya). nah, mgkn itu juga yg dialami Tintin.
    Itu sebabnya sy kmudian bkesimpulan.jadi wartawan itu-klo bener-bisa kaya.bukan ky materi,tp ilmu dan wawasan. welcome.. 🙂

    ini dia blog saya: http://ceritamate.blogspot.com/2008/04/main-main-ke-angkasa.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s