Antara Nikah dan Jual-Beli

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata akad? saya yakin kumpulan orang yang memakai baju adat, penghulu, dan pengantin menjadi gambaran yang muncul. Begitu pula lah saya. Tapi lagi-lagi, selalu ada kemungkinan lain yang terjadi. Lain di pikiran lain di kenyataan. Saya, mungkin juga kita, sudah terlalu dimanja oleh pemaknaan kata berdasarkan konstruksi sosialnya, bukan berdasar arti aslinya. Haha

Sebenarnya ini adalah cerita lama banget. Karena seorang kawan tiba-tiba mengungkitnya lagi, saya merasa jadi kepingin betul untuk mendokumentasikannya di blog. Satu alasan besarnya adalah ternyata bukan saya saja yang pernah terkecoh mentah-mentah dengan kata ‘akad’. Hira, kawan saya yang sebenernya nggak perlu disebut namanya itu, juga pernah mengalami hal serupa. Haha.

Kira-kira beginilah ceritanya:

Salah satu teman sekomplek yang sudah saya akrabi sejak kecil punya kakak yang bakal nikah. Saya kurang tahu pasti benar atau nggaknya. Pokoknya semua cerita tentang kapan dan dimana pernikahan itu akan berlangsung cuma saya dapat secara sayup-sayup alias seadanya.

Sampai suatu hari ibu saya bercerita kalau ia baru saja pulang dari acara pengajian yang diadakan keluarga calon pengantin. Nggak salah dong kalau saya pun berasumsi bahwa pernikahannya sudah tinggal menghitung hari.

Nggak lama setelah cerita soal pengajian, ibu saya meminta saya untuk menemaninya ke daerah Bintaro, “Mau ada akad,” jelasnya singkat. Dugaan saya pun makin terasa benar adanya.

Karena merasa ingin hadir, saya pun tanpa ragu mengiyakan tanpa peduli kalau besokannya itu adalah hari kerja dan saya  harus masuk kantor jam sembilan pagi. Maklum, saya mau berusaha jadi temen yang (seolah-olah) baik. Apalagi saya udah cukup lama nggak jumpa sama si temen saya itu. Jadi telat ngantor sejam dua jam mah nggak masalah sepertinya.

Tepat pukul delapan pagi di keesokan harinya, saya sudah rapih dengan kemeja lengan panjang, celana jins, dan sepatu semi vantovel. Sungguh, penampilan seperti itu terlalu formal untuk dipakai ke kantor. Tapi demi terlihat rapih di acara akad, tak apalah, toh pas ke kantornya bisa salin kaos.

Lalu ibu saya berkata kalau dirinya juga akan langsung pergi ke kantor setelah urusan akad di Bintaro. Karena kebetulan hari itu lagi ada supir, ia pun berangkat naik mobil bersama supir. Oke, nggak masalah. Saya akan tetap ikut tapi memilih naik motor. Biar bisa langsung ke kantor setelahnya.

Di sinilah cerita pelan-pelan mencapai klimaksnya.

Si ibu saya berangkat duluan. Katanya mau mampir ke bank dulu. “Lumayan bisa ngaso sebentar di rumah” pikir saya. Selang setengah jam pun baru saya mulai memanaskan motor dan siap berangkat.

Eitss, tunggu dulu, saya belum tahu dimana alamat tempat berlangsungnya akad itu. Maka saya masuk lagi ke dalam rumah dan menelpon ibu.

“Mah, alamatnya dimana? Rizki udah mau jalan nih. Mamah sekarang udah di mana?”
“Mamah baru selesai dari Bank, sekarang menuju Bintaro. Tempatnya di Bank Permata Bintaro, Ki. Yang gedungnya gede itu.”
“Oh, mamah mau ke Bank lagi baru ke akadnya Sari?’ Sari itu adalah nama kakak dari teman saya.
“Ya nggak ki. emang akadnya tuh di Bank. Mamah mau ketemu ibu X. Mau akad jual ruko. butuh ditemenin sama Rizki.”

Wahai rekan-rekan pembaca sekalian. Begitulah adanya, ternyata oh ternyata akad yang dimaksud si ibu saya itu adalah akad jual-beli.  Bukan akad pernikahan seperti yang saya maksud.

Seketika saya pun lemas dan merasa tertipu mentah-mentah. Hahaha. Semua gambaran tentang ibu-ibu berkebaya; obrolan basa-basi dan kikuk dengan si temen yang udah lama saya nggak temui; ucapan-ucapan janji sakral yang dipandu penghulu, serta kue-kue basah yang menggemaskan; runtuh seketika.

Saya tau kalau ibu saya memang sedang sibuk mengurusi penjualan ruko. Tapi kenapa yah, bisa-bisanya dia menggunakan kata akad yang merujuk pada akad jual beli di saat kami baru saja membicarakan pernikahan. Entah lah siapa yang harus disalahkan, saya, ibu saya, si supir, atau para penggagas bahasa Indonesia.

Merasa kadung sudah meluangkan waktu, akhirnya saya tetap menunaikan ibadah menemani ibu akad. Haha.

……
cerita bonus:

seperti yang saya sudah sebut di atas, Hira juga pernah mengalami hal serupa. Tapi kejadiannya lebih singkat lagi. Seorang kawan kantornya bilang kalau dia mau akad. Mendengar hal itu pun Hira serta merta menyalami dan mengucapkan selamat dengan penuh antusias. Sejurus kemudian temannya itu pun melanjutkan ucapannya “Akad jual-beli, Ra. bukan akad nikah,”

hahahhaa.

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

4 thoughts on “Antara Nikah dan Jual-Beli”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s