Sepenggal ‘Kartu Pos’ dari dan untuk Wamena

“Saya sedang ikut jadi tim sukses di Wamena untuk pemilihan tahun depan. Kalau menang, saya janji, adik berdua saya terbangkan ke sini. Berlibur kita,” 

Ada sebuah quote yang cukup ikonik di film Into The Wild, yaitu  “happiness only real when shared”. Ya, kebahagian baru terasa kalau kita bagi ke orang lain. Tidak dinikmati sendiri. Lantas, bagaimana jika saat   berbahagia – saat mengunjungi tempat wisata yang kita suka misalnya – kita pergi sendirian? kalau pertanyaan itu diajukan ke Pak Steve, maka bisa jadi ia akan menjawabnya dengan mengajakmu berkenalan, jalan bersama sambil kemudian bercerita. Ia tetap merasa harus membagi kebahagiannya itu walau di lingkungan yang asing baginya. Dan sekiranya itulah yang kami, saya dan seorang teman, alami. Seseorang yang awalnya kami  curigai mengajak bersalaman, mengenalkan dirinya sebagai Steve dan menceritakan kebahagiannya bisa berkunjung ke Kebun Raya Bogor di sela-sela jadwal Diklat dari kantornya. 

Maafkan kami Pak Steve, yang terlanjur terkontaminasi oleh pikiran bahwa jika ada orang asing mengajak berkenalan di tempat yang juga asing, maka bisa jadi ada kemungkinan tindak kriminal yang akan terjadi. Untungnya, kami berdua punya hasrat untuk mendapatkan pengalaman seru dari sesuatu yang tak terencana, maka ajakan salaman itu kami tidak anggap sebagai metode awal menghiptonis orang. Dan benar saja, sejurus kemudian cerita-cerita seru yang tak henti-hentinya mengalir dari mulutmu pun serentak membuat kami berdosa sudah punya pikiran negatif tadi. Hehehe… Setelah itu pun, kami tidak lagi cuma berdua menyusuri Kebun, melainkan bersama Pak Steve selalu.
Pertama-tama, bapak bernama panjang Steve Kayame bercerita tentang pengalamannya pertama kali berkunjung  ke Kebun Raya Bogor dengan mengungkapkan puji-pujian atas megahnya istana yang ada di depan matanya. Setelah itu pun kami balik bertanya, meminta ia bercerita tentang kota asalnya, Wamena. Segelintir kisah tentang suasana kota, klub sepak bola kebanggaannya di sana, kecantikan burung cendrawasih di pagi hari sampai tentang perjuangannya delapan kali ikut seleksi masuk pegawai negeri hingga akhirnya ia diterima di tempat kerjanya sekarang, Departemen Keuangan. 
Di antara obrolan kami, Pak Steve juga menyampaikan kekecewaannya atas media massa yang kerap menampilkan cerita-cerita negatifnya saja dari wilayah Papua. Saya pun setuju, karena memang begitulah adanya. Berita yang sering muncul di televisi tentang papua adalah berita tentang tawuran, perang antar suku daerah dan beberapa tindak anarkis lainnya.

“Orang papua itu baik-baik, kok,” ujarnya meluruskan.

Seketika, saya pun jadi ingat dengan salah satu teman saat ngekos dulu. Alfred namanya. Walau sekilas terlihat sangar, kawan saya yang asal papua itu sangatlah ramah bahkan mengayomi. 

Seolah tahu kalau saya dan teman saya butuh klarifikasi, bapak yang dikenal luas di daerah Wamena dengan nama Yeboa karena kemiripan gaya menggiring bola dengan pemain bernama sama ini pun bilang kalau dirinya memang sangat senang bergaul. Menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya. Katanya, sahabat adalah harta. Hal itu pun terbukti, bukan cuma kami saja orang yang disalami dan diajak ngobrol. Sepanjang perjalanan berkeliling bersama kami, tercatat dua kali ia menghampiri orang lain.
Tak cukup kebahagian berkunjung ke Bogor saja yang ia bagi, di akhir perjalanan pun, ia memberikan sebuah janji yang sungguh istimewa. Kalau di tengah-tengah obrolan kami bertukar kontak dan ia hanya menjanjikan jamuan kalau-kalau ada dari kami yang berkunjung ke Wamena, nah di akhir ia justru berniat menghadiahi kami tiket pesawat pulang pergi Jakarta – Wamena kalau saja di tahun depan tim suksesnya berhasil memenangkan kandidat. Hahaha… 
Dulu, saya juga pernah bertemu dengan orang asing dari luar kota saat saya berkunjung ke masjid Istiqlal. (Pernah saya tulis ceritanya di sini) Ia minta difotokan dan berharap saya mengirmkan hasil cetakannya ke alamatnya di kisaran Garut. Tapi sial, saya lupa menyimpan alamatnya. 
Demi menebus dosa saya itu sekaligus merayakan pertemuan dengan Pak Steve, saya pun, sekali lagi, menawarkan Pak Steve untuk berfoto berlatar belakang istana Bogor. Dan sekarang, foto tersebut sudah saya cetak dalam dua format: foto ukuran besar dan pastinya dalam wujud kartu pos. Hehe. Sekalian ngetes bisa nggak sih kirim kartu pos ke daerah sana. 
“Terima kasih atas persahabatan tadi. Nanti kita kontak-kontakan yah. Foto tadi juga bisa itu dimasukkan ke majalah tempat adik kerja, hahaha…” kira-kira itulah rentetan kalimat manis yang saya ingat lagi dari Pak Steve seperti halnya kartu pos buatan sendiri yang selalu menyimpan rasa, menorehkan kepercayaan pada prangko serta pesan-pesan sapaan yang singkat namun hangat

Nah, ini adalah salam pertemuan khas penduduk sana. Ketika Pak Steve bertemu dengan sejawat sedaerahny (lihat foto atas) hal yang pertama dilakukan untuk mengidentifikasi asalnya adalah dengan bersalaman seperti ini. Saling mengepit telunjuk lalu menariknya hingga bunyi. hahaha… menarik!
Ada satu quote lagi yang layak untuk diimbuhkan untuk merangkum tulisan ini. Dicomot dari film Mary and Max yang berkisah tentang persahabatan dua orang yang awalnya tidak saling mengenal:

Sometimes perfect strangers make the best friends

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

3 thoughts on “Sepenggal ‘Kartu Pos’ dari dan untuk Wamena”

  1. baru aja agustus pulang dari Papua (Barat) buat KKN 1,5 bulan. Mereka adalah orang yang ramah dan (sangat) baik! Anak-anaknya lucu dan (sebetulnya) pintar. Sayangnya mereka memang kurang terfasilitasi pendidikannya…how sweet the children are!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s