Hari ke-5: Pada Sebuah Kediaman

Diam adalah ambulans 
yang selalu dipanggil ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling mengobati. 
Diam adalah brankas 
yang selalu diambil ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling percaya menjaga cerita masing-masing.
Diam adalah penerjemah
Yang selalu dipakai ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling memahami bahasa masing-masing

Diam adalah hakim 
yang selalu ditunjuk ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling memutuskan. 

Tapi, begitulah diam. Ia terlanjur akrab dengan misteri. 
Jadi, resep obat, kode brankas, terjemahan serta surat keputusan yang akhirnya ia berikan selalu berisi teka-teki.
Kali ini, ia bermain tebak-tebakan lagi: 
“Katak, katak apa yang bisa membuat kita tidak butuh diam untuk menyelesaikan masalah?” 
Di kediaman masing-masing, setelah beberapa lama, barulah kita bisa menemukan jawabannya
Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi” 
Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

One thought on “Hari ke-5: Pada Sebuah Kediaman”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s