Cetak Cukil Menyegarkan Bersama Refreshink

Menjajal medium dan teknik baru dalam berkreasi itu memang menyegarkan ternyata. Siang tadi, saya mencoba membuat cetakan dengan teknik cukil. Komunitas seni grafis asal IKJ bernama Refreshink adalah biang keroknya. Mereka membuka workshop cetak cukil gratis untuk seluruh pengunjung festival seni dan budaya di Universitas Tarumanegara Selasa (7/05) tadi hingga Rabu (8/05). Awalnya, saya ikut cuma karena ingin menghabiskan waktu, tapi, setelah dicicip, ternyata menarik. Karena lagi sindrom Card to Post yang terpilih jadi nominasi di The Bobs Award, saya pun membuat logo Card to Post di karya cukil saya yang pertama itu. 
Untuk membuat cetakan, kita mesti mencukil gambarnya dulu. Media yang digunakan namanya art board, semacam kertas duplex tapi jauh lebih tebal. Pertama, saya membuat rancangannya dulu dengan pensil dan spidol, langsung di atas board tersebut. Setelah selesai, barulah saya berurusan dengan pisau cukilnya. Si anggota Refreshink mengajari saya. Walau bentuk pisaunya seperti pulpen tapi cara kita memegangnya agak beda nih. Pena pisau diposisikan sedikit menidur, disandarkan di punggung tangan di antara jempol dan telunjuk. Nah, sementara punggung tangan mendorong pisau, ujung telunjuk  mengarahkan cukilan pisau. 

Nggak gampang memang di awal-awal. Melihat peserta workshop lainnya pun, kayaknya mereka kesulitan untuk memposisikan pisau. Kebanyakan memegangnya seperti menulis dengan pulpen. Padahal, menurut para mentor, itu justru menyulitkan .
Selama mencukil, kita perlu memerhatikan bentuk gambar dan posisi cetaknya nanti. Kita harus membuatnya dengan sistem mirroring. Persis seperti stempel (stempel juga dibuat dengan teknik mencukil), kalau membuat kata pun kita harus membuatnya dalam urutan huruf yang terbalik. 
Beres dengan cukilan, kita olesi papan cukilan itu dengan tinta. Tinta offset disebutnya. Alat bantu yang digunakan adalah rol. Nah, saat mengolesi, hasil cetakan akan mulai terlihat deh. Bagian yang menonjol-tidak dicukil-akan terkena tinta, sementara sisanya tak berwarna. 
Langkah terakhirnya ya mencetak ke kertas. Letakkan kertas diatas cetakan. Tekan hingga benar-benar menempel. Lalu, untuk memastikan tinta di cetakan melekat ke kertas dengan baik, kita perlu menggosok-gosok kertas dengan benda keras. Di sana sih menggunakan botol kecap. 
Selesai? Belum. Kita perlu menjemurnya dulu sampai kering. Kayaknya sih nggak makan waktu lama. Baru deh setelahnya kita bisa memajang dan menikmatinya, termasuk memotretnya dan upload di instagram. Hehehe…
Seharian tadi, selain menjaga boothnya Card to Post, saya membuat dua cetakan cukil. Pertama, yang logo Card to Post tadi. Kedua, huruf R dengan gambar mata di tengahnya. Apa tuh artinya? Hehehe 
Setelah dicoba dan dilihat-lihat, cetak cukil ini menarik banget karakternya. Pekatnya warna yang tunggal, serta guratan-guratan pada medianya itu asik banget. Jadi pengen bikin lagi. Haha. 
Oh ya, mengingatkan lagi, acara di Untar ini masih berlangsung sampai besok.  Jadi, yang ingin menjajal. Langsung aja datang ke Untar, Fakultas Ekonomi. Selain Card to Post dan Refreshink, ada juga komunitas-komunitas seni lainnya yang siap mengajak kita berkreasi. 

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s