Kembali Membuat Zine

“Yah, dia narsis. Baca-baca tulisan sendiri,” celetuk Tojon serta-merta ketika melihat saya cengengesan membaca zine The Future of The Past yang baru terbit. Saya menerima celetukan si Tojon itu, bahkan mengamini. Saat itu saya memang narsis, tak bisa dipungkiri. Walau merasa geli sendiri karena nggak bisa nutupin euoforia itu, tapi saya mencoba cuek, saya pengen menikmatinya. Saya senang banget bisa membuat lagi tulisan tentang fotografi terus tulisan itu dilayout dengan gaya desain yang ciamik dan yang paling bikin greget, tulisan itu dicetak!
Kalau diingat-ingat, selepas kerja di majalah awal tahun 2013, tulisan saya di zine itu adalah tulisan pertama yang tercetak di majalan tahun ini. Jadi wajarlah ya saya seneng sampe narsis dan norak gitu. haha. Maklum, sepanjang tahun 2013 saya lebih banyak menulis untuk publikasi online, seperti blog ini, blog Card to Post dan di media online hepi-hepi tempat saya dan Tojon bekerja sekarang. 
The Future of The Past adalah zine yang mengulas secara khusus fotografi analog dan scene pehobinya.  Ide pembuatan zine ini muncul dari Renaldy FK (Enad), Astrid Prasetianti dan Irindya. Ketiganya adalah pegiat fotografi analog. Dan entah kebetulan atau disengaja, ketiganya adalah hasil didikan Universitas Binus. Haha. Sebelum tim ini terbentuk kami adalah kawanan yang saling menjaring pertemanan lewat media sosial. Jarang sekali bertatap muka langsung. 
Saya merasa beruntung bisa diajak menjadi bagian dari tim. Semua bermula pada kisaran Juni lalu, saat itu saya baru masuk di kantor saya sekarang ini. Saya diterima kerja atas rekomendasi Enad yang juga bekerja di situ. Nah, setelah beberapa minggu akrab berkawan, Enad yang emang maniak fotografi analog dan gila proyek itu menawarkan saya untuk gabung ke tim zine ini. 
Seperti orang haus yang ditawari es kelapa, saya pun langsung merebut ajakan Enad dan menenguknya bulat-bulat. Saya emang lagi kangen-kangennya bikin majalah. Udah lama banget hasrat saya untuk memproduksi media sendiri (bukan miliki perusahaan besar dan saya hanya jadi pekerja kecilnya saja) Beberapa waktu sebelum ajakan Enad, saya sempat berusaha untuk menerbitkan lagi zine Memang Terlalu, tapi tak kunjung ada hasilnya. 
Kelompok OK

Saya yakin kalau kekuatan sebuah media alternatif itu tak hanya pada soal konten yang bisa merangkul khalayak komunitas saja tetapi juga pada tim yang passionate terhadap kajian medianya dan memiliki loyalitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan tiap pos di siklus produksi dan distribusinya. Nah, mengenai hal itu, sebagai anak terakhir yang diadopsi untuk masuk ke keluarga ini, saya merasa tim TFoTP yang sudah ada itu pun solid. (maaf, saya narsis lagi ternyata). Tiap anggota memang doyan banget sama fotografi analog dan punya kemampuan masing-masing yang emang dibutuhin.

Soal desain dan ilustrasi, Astrid Prasetianti yang kini bekerja di studio desain ternama punya selera yang khas. Desainnya yang (menurut saya) mengutamakan simplisitas selalu sedap dilihat.  Enad, jam terbangnya berkecimpung di persilatan foto analog Indonesia bikin dia kenal banget sama scene-nya. selain itu bakat bisnisnya juga ngebantu pengembangan zine banget. Terus, Irin juga andal mengurusi administrasi dan segala tetek bengek urusan paskaproduksi, ditambah lagi, Irin, yang masih jadi mahasiswa DKV ini juga bisa menjamah khalayak dari kalangan mahasiswa. Komplit deh. Bagaimana dengan saya? Entah bisa menambah kesolidan atau nggak, semoga saja pengalaman saya menulis dan ngurusin editorial selama ini bisa membantu pengerjaan. :p

Mencetak zine, Mencetak Mimpi

Dan saya merasakan betul, bahwa kesamaan hasrat dan tekad itu ternyata adalah modal kuat dalam menjalankan media. Di tambah lagi, tiap anggota memang punya pengalamanan menerbitkan produk-produk indie sebelumnya. Jadi, sejak awal meeting, alur brainstorm kami mengalir lancar. Penentuan nama majalah, perencanaan konten, serta strategi promosi dan penyebaran kami bisa diskusikan pelan-pelan tapi pasti.

Sebagai pemuda yang terikat dengan institusi untuk mencari uang bulanan, proses kerja kami utamanya dilakukan di tempat masing-masing. Sesekali rapat di kafe sesuai jam kantor. Tapi, komunikasi harian dilakukan di ruang rapat virtual alias GroupChat di WhatsApp (yeah, terima kasih Whatsapp). Satu-satunya markas tetap kami adalah shared folder di Dropbox, tempat kami menyimpan file-file. Oya, untungnya, kantor saya dan Enad (sangat) santai dan membebaskan karyawannya untuk melakukan aktivitas yang nggak berhubungan dengan kantor sekalipun. Sebagian aktifitas, seperti packaging dan menyimpanan buku, dilakukan saya dan Enad di kantor. 

Selain ngurusin editorial, saya juga banyak nyemplung ke urusan pencetakan buku. Bagian kerja ini saya emban tanpa diutus, bisa jadi, karena sebelumnya saya emang biasa cetak-mencetak kartu pos. Tapi saya senang berurusan dengan produksi ini. Walau sering dibuat kesal oleh pelayanannya, tapi saya suka main ke percetakan. Percetakan itu seperti pos tempat segala gagasan dan karya yang digital nan maya dikonversi menjadi sesuatu yang nyata, berwujud dan jadi!. Percetakan itu rumah bersalin yang melahirkan karya-karya yang sudah bikin dalam rahim-rahim kreatif si induk. 
Seperti yang sudah diceritakan, Astrid itu memiliki selera yang khas dan tinggi. Jadi, ia pun ingin hasil jadinya zine ini sedikit premium. Kami ingin memakai kertas fancy tebal bertekstur untuk halaman sampul dan kertas lembut berserat untuk  bagian isinya dan memakai jilid jahit untuk menyatukan buku. Sayang aja, di edisi pertama ini kami baru bisa mewujudkan beberapanya. 
Soal konten, edisi nomor wahid ini memang belum maksimal. Jumlah halamannya hanya 48. Kalau dipikir-pikir pun, kita hanya akan butuh waktu dua puluh menit untuk melahap habis konten zine ini. Daftar isinya adalah interview fotografer analog terpilih, rubrik photostory, rubrik showcase foto kiriman pembaca, artikel semi-feature, dan rubrik tips n trick. Jadi, total hanya empat rubrik. Well, saya dan pastinya tim lain, berharap semoga aja konten-konten itu bisa dinikmati dan berkesan di hati pembaca. Hehe.

Di edisi pertama ini kami memasang tema Wanderland yang kurang lebih isinya tentang pengembaraan. Ada Michelle Liando yang nyumbang foto-fotonya berkelana ke Skandinavia, ada Yttria yang kami wawancara, dan sejumlah foto bertema perjalanan lainnya di rubrik Tons of Tones. Soal artikel, saya menulis artikel tentang alasan fotografi analog diminati, dan Enad menulis rubrik Tips n Trik. 
Satu lagi yang bikin saya senang. Edisi ini laris manis. Di hari pertama rilis, 6 Oktober lalu, 50 eksemplar yang kami siapkan habis terpesan begitu saja hanya dalam waktu tiga jam. Kami hanya menggunakan instagram dan Facebook untuk mempromosikan. Keputusan kami untuk membatasi jumlah cetak pun harus direvisi, dua minggu setelah rilis kami mencetak 30 eksemplar lagi. Tak lebih dari sehari, semua pun habis terpesan lagi. 
Fenomena itu bikin saya seneng sekaligus bingung. Saya sempat pesimis, saya kira nggak banyak orang yang rela membeli zine yang bahkan mereka belum tau isinya seperti apa, apalagi harga yang kami patok cukup tinggi, Rp 72.000. Padahal, kalau saya jadi outsider, saya akan mikir dua kali untuk beli zine yang harganya setinggi itu. Hehe. Bisa jadi, ini karena selalu ada keinginan massa untuk bisa mengonsumsi media alternatif, apalagi sejak fotografi digital berjaya, dan tiba-tiba scene foto analog Indonesia hidup lagi, baru kali ini muncul zine yang ngebahas fotografi analog secara khusus (CMIIW)
Oya, sebelum menutup tulisan ini, saya juga mau ikut berterima kasih sama Imagery Bags yang mau repot-repot support kami dengan menghibahkan 25 totebag bertuliskan nama zine ini untuk dibagi-bagikan ke 25 pembeli pertama zine. Sedikit-banyak pasti itu ngedongkrak penjualan. Hehe.

Nah, setelah majalah terbit, apresiasi pun satu per satu muncul. Ada yang memuji ada juga yang mengkritik. Semoga di edisi berikutnya, saya dan temen-temen bisa belajar lagi untuk mewacanakan fotografi Indonesia dengan lebih baik. 
Sejak dulu saya senang bermedia, beberapa waktu belakang ini hasrat itu sedikit terpendam, zine ini pun sekaligus menjadi the future of the past hasrat saya itu. Yes, semoga kedepannya saya terus diberi kesempatan untuk bekerja membuat media. 

Terima kasih semua-mua-mua-muanya. 
Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

2 thoughts on “Kembali Membuat Zine”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s