Bersiasat dengan Perangkat.

Kita sudah dikuasai smart-phone. Kesehariaan kita dikeliling kabel dan listrik. Kita adalah si gardu listrik berjalan (merujuk ke budaya menenteng power bank). Kita adalah si haus koneksi. Kita adalah si penggenggam dunia. Kita adalah si sungai yang dialiri pesan yang begitu deras, debitnya kencang, volumenya besar dan jenisnya pun beragam: cecuit Twitter, berita, artikel, chat, SMS, email, meme, update status kawan-kawan, dsb. Coba bayangkan jika ada sungai yang dialiri lebih dari dua-tiga zat cair. Jika tak pandai diolah, muara hanya berisi limbah.
“I fear the day when the technology overlaps with our humanity. The world will only have a generation of idiots.”

Mungkin kalian sering juga melihat quote yang banyak sekali menyebar di dunia maya ini. Quote bernuansa kritik ini dihakimi netizen sebagai quote dari Albert Einstein, walau berdasarkan sebuah penelusuran, Kakek Einstein tak pernah mengatakan atau menuliskan kalimat tersebut. Tapi tak apalah, toh, quote ini bagus dan sedikit-banyak membawa kebaikan atau setidaknya menyadarkan kita: bahwa bukan tak mungkin, teknologi yang awalnya dibuat untuk memudahkan serta mencerdaskan kita, berpotensi juga membuat kita bodoh. Karena candu akan gadget, tak lihai menjadi makhluk yang hidup di dua dunia sekaligus, tak pandai mengelola terpaan pesan yang deras mengalir dan urung mengulik teknologi, mencari aplikasi yang tepat digunakan sehari-hari.
Oke. Tulisan melantur terlalu jauh sepertinya. Haha. Betapa saya sedang dirubung kekisruhan akibat gadget. Di posting kali ini saya ingin berbagi rekomendasi tentang aplikasi-aplikasi apa yang saya pasang di smart-phone Android saya. Karena merasa sering dibodohi sama si ponsel pintar ini, saya merasa perlu bersiasat. Mencari perangkat-perangkat yang bisa memudahkan saya untuk selamat membagi diri di dunia maya dan dunia nyata.

Teknologi bisa menjadi candu yang membuat kita take no logic. Karena itu kita perlu bersiasat, agar selamat dan tak tersesat. Sikaat:

1. Aviate 


“The intelligent homescreen that simplifies your phone.” itulah Aviate. Aplikasi theme-launcher ini meringkas kecanggihan Android, dan menjernihkan tampilan. Begitu menjajal Aviate berdasarkan rekomendasi Jodi, kawan saya yang seorang programmer, saya merasa Android saya ini jadi lebih ramah pikiran (sejenis ramah lingkungan gitu. :p )

Andaikan saja rajin sedikit lagi, fungsi Aviate ini akan maksimal. Saya belum optimal memanfaatkan fitur penyesuaian susunan aplikasi pendukung berdasarkan lokasi dan waktu. Padahal dengan begitu, saat pagi hari misalnya, aplikasi-aplikasi yang dimunculkan di atas layar utama adalah aplikasi cuaca, email, dan aplikasi News.
Unduh di sini

2. Dropbox

Dropbox adalah survival kit untuk hidup di budaya terus terhubung ini. Karena nyatanya, kita tak hanya perlu terhubung dengan orang, tetapi juga data pribadi kita. Mempunyai dropbox itu sama rasanya seperti memiliki gudang dan agen distribusi di dunia maya. Jadi, ketika kita membuka cabang koneksi di berbagai perangkat, kita bisa dengan mudah mengakses data-data kita. Saya bisa membuat tulisan di laptop lalu membacanya di hape kalau file dokumennya saya save di dropbox. Guna meng-update Instagram misalnya, saya juga sangat memanfaatkan Dropbox: gambar yang ada di laptop saya pindah kan ke Dropbox, setelah ter-sync saya tinggal export gambar itu saja ke hape. Begitu juga sebaliknya, ketika sehabis memotret dari hape, jika ingin mengeditnya di komputer saya tak lagi tranfer data dengan kabel, tetapi dengan upload via Dropbox. 
Asiknya, Dropbox juga memungkinkan sharing folder dengan orang-orang. Sungguh ini membantu saya yang punya beberapa proyek dengan teman. Jadi, folder di dropbox menjadi markas kami. Seluruh file mesti kami taruh di situ biar bisa diakses teman-teman yang lain juga. Menurut saya, Dropbox adalah aplikasi yang paling signifikan fungsinya di era smartphone ini.

unduh di sini

3. Google Keep


Hidup di network society membuat kita banyak menemukan sekaligus mudah kehilangan. Kita bisa banyak menemukan inspirasi, menemukan acara keren yang asik untuk didatangi, dsb. Tapi seperti anak kecil yang terlepas dari orangtuanya di mall, kita juga mudah hilang! Google Keep membantu kita menjaga temuan-temuan penting, serta hal-hal yang perlu kita lakukan. Google Keep adalah pencatat sekaligus pengingat.
Sebenarnya  ada banyak sekali aplikasi to do list dan reminder di Play Store. Namun, Google Keep adalah yang paling cocok. Pertama, tampilannya simpel. Kedua, catatan to do list kita bisa ditempel di layar utama seperti post it. Cara menset reminder atau alarmnya pun mudah sekali. Ketiga, seperti namanya, aplikasi ini membantu kita meng-keep hal-hal penting lainnya di luar to do list, yaitu notes, foto.
Keempat, Google Keep juga tersedia versi desktopnya. Bisa diakses dengan menggunakan Google Chrome Launcher. Tentunya Google Keep juga bisa sync lintas gadget. Ini yang bikin asik, selama ada Google Keep saya mencatat ide-ide atau menuliskan hasil liputan di sini. Menulis di hape, lalu diteruskan di laptop. Semenjak ada Google Keep, saya melupakan Evernote.
unduh versi Chrome-nya di sini dan versi Androidnya di sini 

4. WhatApp Plus

Saya gagap dalam mencerna banyak informasi dalam waktu yang sama. Begitu juga ketika melihat notifikasi pesan WhatsApp yang masuk. Bisa-bisa lebih dari 100 conversation yang diumumkan di status bar.
Keberadaan messenger semacam WhatsApp ini membuat kita menganggap obrolan massal bisa mudah terjadi. Hasilnya, kelompok-kelompok pun sepakat menjadikan groupchat di Whatsapp sebagai tempat nongkrong. Konsekuensinya adalah chat bisa masuk kapan pun, tak mengenal waktu, dan karena anggota grup banyak, maka jumlah chat yang masuk pun sangat banyak. Sebuah distraksi yang absolut.
Saya menyebut WhatsApp + adalah WhatsApp yang manusiawi. Mengapa? Karena memungkinkan untuk menyembunyikan notifikasi pesan, entah itu dari grup atau dari perseorangan. Dengan begitu kita terlindung dari terpaan chat yang tiba-tiba deras. Distraksi bisa berkurang. Jadi, notifikasi yang dimunculkan hanya dari perseorangan. Selama ini saya menganggap chat dari perseorangan lah yang perlu diprioritaskan.
Permasalahan kedua dari WhatsApp adalah adanya jejak informasi kapan kita sedang online dan kapan terakhir kita membuka WhatsApp. Karena itu, tak jarang kita menerima complain “Last seen-nya baru beberapa menit lalu, kok chat saya sejam lalu belum dibales yah.” Atau “tadi udah writing tapi kok nggak ada balesannya sih.”
Padahal kadang kita butuh waktu untuk mencerna pesan yang masuk dan mempertimbangkan apa balasannya. Tak langsung membalasnya. Nah, WhatsApp “biru” ini memungkinkan kita menyembunyikan jejak online dan last seen kita.
WhatsApp + nggak mungkin kalian temui di Play Store, melainkan mesti di unduh dari sini 

5. Pocket

Begitu banyak temuan konten menarik saat kita sedang berselancar di internet atau di media sosial. Saya perlu bersiasat agar temuan penting dari selancar sekilas di internet bisa saya nikmati dengan utuh, tak hanya baca judulnya, lead, atau sekadar skimming.
Pocket adalah jurusnya. Aplikasi ini membuat kita bisa menyimpan konten dari tautan yang kita temui lalu dibaca kemudian ketika sudah senggang dan dengan tampilan lebih menarik. Sebutlah ini aplikasi penampung bookmark di web.
Selain itu, menurut saya membaca konten di Pocket jauh lebih enak dibanding membacanya di web aslinya. Layoutnya bersih, font-nya pun bikin tulisan lebih enak dibaca. Selain itu kita juga bisa membuat kategorisasi konten dengan sistem tag. Dengan begitu saya pun juga menjadikan Pocket sebagai wadah penampung artikel-artikel yang saya suka dari web.
Biar lebih asik, pasang juga extension Pocket di Chrome. Jadi, ketika menemukan konten menarik kita saat browsing via PC atau laptop, kita bisa melanjutkan atau membacanya lagi di ponsel. Waktu sebelum tidur dan saat sedang di perjalanan (kalau naik angkot) adalah waktu yang biasa saya pakai untuk membuka Pocket.
Pocket untuk Chrome bisa diunduh di sini
Pocket untuk Android bisa diunduh di sini

Tentu saya tak hanya menggunkan lima aplikasi ini di Android saya, tapi lima aplikasi ini lah yang paling terasa manfaatnya.

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s