#Pencermat: Inikah 4 Alasan Mengapa Judul dengan Angka Lebih Diminati?

Sebenarnya, ada konspirasi macam apa sih antara angka dan media daring? Sejak saya mulai nyemplung di jagad ini menjadi penulis, rasanya angka selalu menjadi kata kunci dalam tiap obrolan kesuksesan media daring.

Pertama, tiap penulis mesti dibebani target capaian artikelnya: jumlah visitor, jumlah komentar, dan ranking website di Alexa setelah artikel itu pamor. Kedua, menyematkan angka dalam judul artikel di media daring itu akan jauh lebih memikat pemirsa. Ya, ternyata untuk mencapai angka keterbacaan yang tinggi, artikel kita juga mesti menggunakan angka!

Kalau diingat-ingat, pertama kali saya mulai menulis untuk media daring itu adalah di 2010, hingga dua tahun setelahnya pun saya hanya dibiasakan untuk menulis judul artikel dengan pola standar: sekadar merangkum tulisan dengan usaha kreatif meracik kata, kalau bisa yang sensasional. Nah, tren judul berangka ini baru saya temui di 2013.

Seorang petinggi kantor saya saat 2013 itu menegaskan dalam sesi rapat. Pada slide presentasi yang bertuliskan Magic Number itu dia berkata, “Kita harus mulai penggunakan angka dalam judul.” Setelahnya, kami tak lagi bersusah payah memikirkan judul yang kreatif. Artikel selalu dibuat dengan gaya ‘poin-poin’, bukan gaya bercerita. Judul dibuat begitu gamblang saja dan langsung menyebut jumlah poin yang kami bahas.

Terbukti, capaian keterbacaan kami meningkat. Seorang blogger yang pernah membandingkan statistik jumlah pembacanya, juga mengaku bahwa ketika ia menggunakan angka dalam judul postingnya, traffic blognya melejit 2,5 hingga 8 kali lebih banyak. Wow!

Angka menjadi trigger netizen untuk mengklik link lalu masuk ke website, membaca artikel, lalu lompat ke artikel-artikel lainnya. Kalau diamati, memang website untuk anak muda lah yang lebih banyak menggunakan strategi judul berangka ini.

Nah, setelah beberapa lama ini menggarap strategi konten dengan judul berangka saya pun mulai tahu kenapa itu bisa mujarab memikat pemirsa:

1. Angka Mengurangi Ketidakpastian

Coba ingat-ingat bagaimana rasanya berhenti dan berdiam menunggu lampu merah saat ini dan dua-tiga tahun lalu. Pasti kita sepakat bahwa berhenti di lampu merah sekarang ini lebih tak membuat kita cemas. Karena dari tampilan hitungan mundurnya kita  jadi tahu berapa lama kita harus menunggu.

Dalam kasus tulisan, judul berangka membuat pembaca mudah memperkirakan apa-apa saja yang akan didapatkan dalam artikel.

2. Bicara Angka Bicara Fakta 

Angka itu bisa didapat dari perhitungan. Perhitungan didapat dari penelitian. Penelitian didapat dari fakta. Bisa jadi karena itulah angka selalu menggugah kita. Tulisan berangka akan membuat kita semakin yakin kalau tulisan itu penting dan akurat. Apalagi kalau angka yang ditampilkan nilainya besar. Efek kejutnya akan meningkat.

3. Mempermudah Pembacaan

Beda media, beda pula habbit-nya. Di media daring, banyak ahli yang berkata bahwa pembaca media daring itu tak suka berlama-lama membaca. Mereka cenderung mencari poin-pon pentingnya saja. Karena itulah, gaya artikel yang langsung menyajikan poin-poin akan lebih dicerna. Dengan sekali skimming saja, pembaca sudah bisa mengetahui inti tulisan.

4. Number is an eye candy

Situs Mediasocialtoday.com bahkan menyebut bahwa “number is brain porn”. Angka selalu bikin otak kita terpikat. Selain angka kerap diasosiakan dengan fakta, angka juga bikin penasaran. Menemukan judul artikel “7 Alasan Bekas Kerokan Itu Trendi” dan “Alasan Bekas Kerokan Itu Trendi” pasti punya efek berbeda. Diluar topiknya yang memang bikin penasaran, judul berangka sih bikin saya jadi lebih penasaran. “Haha. Ada tujuh? Ada-ada aja. Apaan aja tuh?”

grafik persentase pencapaian jumlah viewer berbagai teknik penulisan judul (sumber: bufferapp )

Namun, rasanya penting untuk dicermati juga bahwa walaupun punya daya tarik yang ‘wah’, kita tak bisa terus-terusan menggunakan angka dalam judul artikel. Pertama, konten kita akan sangat monoton. Kedua, kurang melatih kreativitas dalam merangkai kata. Maklum strategi judul berangka itu diikuti dengan penyebutan topik tulisan secara gamblang ditulisan. Biar semakin mudah dicerna pembaca. Ketiga, jika terlalu banyak, kayaknya pembaca kita pun akan memelihara mindset numerical belaka, selalu inget to the point, selalu ingin dimudahkan, dan tak terbiasa dengan tulisan yang sastrawi. Tulisan yang mengutamakan unsur estetika bercerita.

O ya, saya baru kepikiran. Kenapa tren judul berangka ini justru dimulai oleh program TV yah ketimbang media online. Betul kan? Program On The Spot contohnya.


Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, Lodra, Andra dan Tito punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa ‘hidup’, memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s