Embun Pagi Tak Jadi Diinjak Rumah.

“Pantas kau disebut kediaman,” kata angin malam kepada rumah. “Kau biarkan orang keluar masuk, sementara kau diam tak beranjak. Ketika penghuni tercela mengacak-acak isimu, kau tak mengelak. Ketika penghuni bajik pergi, kau sekadar tenang menunggu.”

“Kau membangun pos keamanan, pagar besi mengelilingi, dan menaruh kamera pengintai. Kau begitu awas. Sekecil apapun gerakan kau anggap serangan. Apa yang bisa dibanggakan kalau cuma pandai bertahan?” Angin malam berkata. Pelan. Sambil meneguk teh hangatnya.

Besoknya, si rumah angkat kaki. Ia meninggalkan penghuninya. Berangkat kerja.

Angin malam menjelma embun pagi pekarangan depan. Dengan anggun si rumah melangkahinya.

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s