Awak Kapal Yang Merindukan Ombak

Pada Rabu (30/03) kemarin, Eta minta tolong saya untuk memfoto dirinya berpose dengan majalah HAI edisi terbaru yang berhalaman sampul foto Zayn Malik. Di tengah remang-remangnya ruang redaksi yang kalau pukul 18.00 teng lampunya dimatikan, Eta berpose di sebelah lampu meja.

Saya memfotonya tanpa kecurigaan barang seupil pun. Paling-paling hanya dugaan bahwa Zayn Malik adalah idola mamah bayi 8 bulan ini, atau pengerjaan edisi itu bikin ibu Art Director yang udah kerja di HAI bertahun-tahun ini berapi-api.

Keesokan harinya, hape saya kedapatan notifikasi dari Instagram yang menyebutkan kalau Eta menyebut (mention) saya di keterangan foto terbarunya. Dan itu adalah foto Eta bersama majalah HAI tadi. Saya membacai keterangan dan komentar-komentar di bawahnya. Nadanya haru.  Mengisaratkan kalau Eta akan ciao dari majalah HAI.

“Ah, tau lu mau resign gini, gue jadi nyesel kemaren motoin,” kata saya ke Eta pada Jumat (31/03) sore saat saya menemui Eta di lantai dasar yang dikelilingi banyak sekali bungkusan  yang kemudian disuguhkan kepada kami. Eta membeli sebakul besar es doger agar di hari perpisahannya ini kami bisa melakukan sesuatu yang Eta sebut  Ice Danger Party.

Perpisahan itu menyedihkan, kawan. Karena itulah kita dibiasakan untuk membuatkan pestanya, ritual tipikal di hari terakhir ngantor. Menyuguhkan makanan, agar semua teman kerja berkumpul di mengeliling meja, lalu menyayangkan kepergian sambil menguyah nikmatnya sajian. Ngilu di hati dikelabui lezat di mulut.

Dan tahukah kamu, sejak Oktober kemarin,  redaksi HAI sudah ditinggal 5 awaknya: Rama, wartawan film, pada September; disusul Zaki si hobit yang wartawan musik pada Oktober.

Bursa perpisahan paling ramai pada Maret ini: tiga sekaligus! Pertama, Satria, wartawan satu desk dengan saya, desk sekolah, diikuti Adhie wartawan multitalenta (ia paling bisa diandalkan di banyak desk, bahkan saat resign ia sedang berada di desk sosmed, ya, dia jadi admin sosmed!), dan yang paling “wah” adalah perginya Eta ini. Eta sudah bertahun-tahun kerja di HAI, itulah mengapa di acara perpisahannya, teman-teman alumni HAI berdatangan.

Coba bayangkan jika kamu sedang di atas sebuah kapal, lalu menyaksikan banyak penumpangnya yang tiba-tiba memboyong skoci yang sudah mereka siapkan diam-diam lalu melipir keluar kapal, tidakkah kamu akan mengira bahwa akan ada bahaya di depan sana, atau jangan-jangan kapal yang kalian tumpangi itu akan memilih untuk menenggelamkan diri? Apa pula yang membuat kamu tetap ikut terombang-ambing dalam kapal? Makan tuh loyalitas! 

Selain ngilu di hati, gelisah di kepala pun mana mungkin bisa dihindari kalau segitu banyak kepergian mesti dihadapi.

Dan ini bukan satu-dua kali saya merasakannya, di kantor-kantor sebelumnya, kepergian massal-yang-walaupun-satu-persatu-dan-diam-diam ini juga pernah terjadi. Bahkan saya pernah menjadi salah satu pesertanya.

Seharusnya saya terbiasa, tapi nyatanya tetap tak mudah.

Saya percaya, bagi sebuah kapal, ada yang lebih menyedihkan daripada ditinggal awak, yaitu ketika nahkodanya membiarkan kapal lama-lama berada di atas perairan tak berombak, dan malah mengajak para awaknya meniup-meniup segala layar sekuat tenaga alih-alih belajar mengendalikan angin yang belakangan ini tak bisa diajak main.

Barangkali saya bukan awak baik untuk kapal-kapal manapun yang setia pada nahkoda, tapi kan saya tetap ingin mengarungi samudera betapapun samudera tak cukup dimasukkan ke dalam karung di peta saya sendiri

Tiap keadaan seperti ini terjadi, saya selalu bertanya pada diri:

Bukankah kita bisa bergerak mencari ombak agar kita bisa berlayar lebih jauh, walaupun itu mengharuskan kita berpindah kapal atau berenang sendiri, daripada sekedar diam asal selamat?


:):

Jalan Panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

2 thoughts on “Awak Kapal Yang Merindukan Ombak”

  1. Gue kenapa sedih, ya, Kiw, baca posting ini?:(

    Semua metafornya ngegambarin banget kondisinya, sampe ke metafor “Ngilu di hati dikelabui lezat di mulut.”

    Semoga kapal lu nggak akan tenggelem — dengan ataupun tanpa elu di dalemnya. Itu kapal besar yang udah ngebawa banyak sejarah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s