Meninggalkan 28

28 adalah angka yang saya bangga-banggakan. Alasannya sederhana. Saya lahir di tanggal itu. Saya kemudian mencari kebanggaan lain, mencari-cari hubungan antara angka tanggal lahir, bulan lahir dan tahun lahir. Kesemuanya kelipatan 4. Sama dengan genap. Tidak ganjil.

Saat menyambut usia 27, sahabat saya, Sundea, bilang kalau itu akan jadi umur yang istimewa. Maklum, sejarah mencatat banyak pesohor yang meninggal di umur segitu: The 27 Club; sebuah kelompok yang anggotanya masuk tanpa mendaftar lebih dulu, setelahnya pun tak ada yang sadar sudah bergabung. Kurt Cobain dan Chairil Anwar bisa disebut sebagai salah duanya.

Saya ingat, saat menjalani umur 27 itu, saya sedang mencapai titik puas. Pun, saya sudah pernah merasakan gimana rasanya hidup akan berakhir, dalam mimpi. Jadi, kalau pun semesta pengin klik kanan lalu men-delete saya dari kehidupan, saya nggak akan merasa saya dilempar ke trash bin.

Tapi kemudian, memulai umur ke-28 adalah yang paling saya rayakan. Saat itu adalah satu-satunya momen saya merasakan 28 April untuk ke-28 kalinya. Dalam perayaan yang sunyi saat itu, saya diam-diam menanam keinginan ini-itu, dan menyiraminya dengan keyakinan begini: “Pencapaian ini akan seru jika terwujud di umur saya yang ke-28.”

Merayakan ulang tahun adalah lumrah yang perlu disyukuri manusia. Kita perlu sepakat soal itu. Pasalnya, hanya manusia yang menjalani hidup dengan kesadaran bahwa kita punya umur dan di kemudian hari kita akan mati. Sejago-jagonya binatang bertahan hidup dan mengelak dari serangan binatang lain tingkat atasnya di rantai ekosistem, mereka tak sadar kalau punya umur dan akan mati. Dan satu pertanyaan yang paling sering kita terima tiap kali merayakan umur baru adalah:

“Kamu mau apa?”

atau bentuk lainnya adalah:

“Apa yang kamu mau dari dirimu sendiri?”

Sungguh, kedewasaan saya diuji lewat pertanyaan ini. Semakin lancar saya bisa menjawabnya maka semakin sah saya merasa dewasa.

Saya bisa menjawabnya, kok.

Tapi… begini:

Saya ingin menjadi diri sendiri tapi ngeri dengan keterasingan. Ingin menjadi pemberontak tapi tak menolak kenyamanan. Ingin bergantung tapi tak mau mengakar. Ingin jadi petualang tapi ogah tersesat. Ingin melawan tapi tak siap diserang.

Oh, Tuhan. Akhirnya saya tahu, setidakenak-tidakenaknya hidup adalah ketika saya selalu bertabrakan dengan ‘tapi’.

Dan bukan saya saja yang menjawab pertanyaan “Kamu mau apa?” tersebut. Melainkan juga semesta ini bersama antek-anteknya, juga kalian-kalian ini para warga semesta.

Semesta bisa mewujudkan kemauannya itu sepersekian detik setelah ia merencanakannya. Sebelum saya selesai mengucap, “Tunggu dulu!”

Sementara kalian, selalu punya cara untuk menyeragamkan pencapaian, menyepakati mitos tentang umur, dan menciptakan tuntutan-tuntutan untuk orang lain padahal kalian sendiri belum tentu bisa enteng mewujudkannya. Tidakkah kalian sadar bahwa hanya di sekolah saja, kita bisa teratur naik kelas setiap tahun?

Hidup agaknya memang butuh banyak “semoga”. Agar kompromi tak cuma jadi kata yang betah nangkring di kamus. Seringkali, kedewasaan itu berarti kemampuan saya berkompromi dengan kemungkinan-kemungkinan hidup itu.

Menjadi 29

Saya nggak suka sama angka ’29’. Ia bilangan prima dan ganjil pula. Bilangan prima itu egois. Cuma bisa dibagi oleh 1 dan dirinya sendiri.

Tapi itu adalah alasan yang diada-ada saja. Sebenarnya, mah, ya sayanya saja yang belum siap bertambah usia lagi. Dan bisa ada banyak lagi alasan untuk merutukinya. Tapi buat apa?

“Toh, banyak  yang sudah kamu hasilkan,” kata Rima suatu saat.

Walaupun menakar manfaat untuk orang banyak atas gerakan yang saya inisiasi demi kepuasan pribadi itu agak ironis, tapi boleh lah yah saya bersyukur sudah punya kemampuan dan berdaya.

Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, di ulang tahun saya kali ini saya mendapat kejutan. Pertama, dari Rima. Ia menyuguhkan saya kue ulang tahun dengan lilin angka 20 yang bisa saya tiup. Kedua, dari temen-temen saya yang menyuguhkan biskuit Selamat diiringi lilin angka 17.

Saya jadi teringat dengan potongan lirik lagu “Selamat Ulang Tahun”. Makna yang saya tangkap adalah bahwa panjangnya usia itu mesti  sepaket dengan kemuliaan hidup.

Tapi…

Tidakkah cukup kita hidup bahagia saja? Apa yang bisa membuat keberadaan kita di hidup ini menjadi mulia? Seberapa muliakah menjadi mulia?

Advertisements

Published by

terlalurisky

gajah di pelupuk mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s