Menonton The Impossible

Ada empat alasan mengapa saya pengin menonton film ini. Pertama, Tom Holand. Pertama kali tahu film pun dari Tom Holland. Ketika saya sedang mencari tahu tentang film-film Tom, saya menemukan The Impossible sebagai film pertama yang dibintangi Tom sebagai aktor. Sebelumnya, ia sudah pernah terlibat di film sebenarnya, film garapan studio ghibli pula. Cuma aja, di film itu Tom hanya jadi pengisi suara.

Saat menonton The Impossible ini, saya membayangkan tokoh Lucas yang diperankannya adalah jelmaan dari Peter Parker muda. Dia tangguh banget sebagai anak kecil, namun ada rapuhnya juga.

“Aku adalah anak yang pemberani, Bu. Tapi sekarang ini aku takut sekali,” katanya di tengah-tengah banjir tsunami yang sudah menyeretnya jauh, tak lama setelah ((( akhirnya ))) ia bertemu dengan ibunya.

Kedua, Ewan McGreggor. Ya walau film ini masih berasa menye-menyenya, tapi nggak terlalu gamblang diceritakannya. Si sutradara apik membuat saya “merasa” tanpa perlu “mengetahui” sepenuhnya apa yang terjadi. Udah gitu, di film ini ada Ewan McGreggor! Saya sedang kangen film Beginners yang dia perankan. Tapi saya takut menontonnya. Maklum, di film itu saya akan menemukan dialog “make it easy to end up alone.” Kalau kalian main Mobile Legends, maka kalimat itu sama sakitnya seperti serangan dari Karina. Ia selalu menghilang ketika menyerang, tapi dampaknya nyata sekali. Cepat pula ditinjukannya.

Saya pikir, dengan menonton film melankolis lainnya yang menampilkan Ewan McGreggor yang entah gimana parasnya itu melankolik sekali, saya bisa jadi merasa sedikit sensasi film Beginners.

Di film The Impossible, Ewan berperan menjadi si kepala keluarga. Sebelum ombak tsunami menumpasnya, ia sedang berenang bersama dua dari tiga anaknya. Ia adalah ayah yang hmm, lagi-lagi, kuat tapi pecah belah alias rapuh juga.

Semoga kalian belum lupa kalau di tulisan ini saya ingin menyebut empat alasan. Alasan ketiga adalah, karena ini film tentang keluarga. Saya sedang merasa perlu menerpa cerita-cerita tema keluarga agaknya, dengan alasan yang sebaiknya saya nggak sebut di sini. Kalau kalian tetep maksa pengen saya cerita, berarti kalian sama saja seperti anggota keluarga yang “jauh” tapi hobi betul mengajukan pertanyaan seolah merekalah yang menjalani hidupmu. Hhh~

Keempat, ini adalah film tentang bencana. Somehow, saya suka melihat bagaimana cara manusia bertahan diri di ujung hidupnya. Dan melihat apa yang mereka perjuangkan serta apa yang mereka lepas ketika kekuatan mereka sedikit. Ketika dalam bencana, tingkat kesadaran manusia terhadap kematian melonjak drastis. Beda dengan pernikahan, naik haji, naik jabatan, atau lolos seleksi; kematian adalah momen yang pasti terjadi, tapi agaknya tak pernah menjadi pencapaian siapa pun selama sedang hidup. Nah, di saat bencana manusia (kayaknya (aing belum pernah)) memikirkan kematian dua kali lebih sering daripada bernafas.

Di saat bencana pula, Tuhan dan semestanya membanjiri hidup dengan kemungkinan, sederas mungkin. Apakah ada batang pohon yang bisa dipeluk agar tak terbawa tsunami lagi; apakah akan ada Coca Cola yang bisa diminum ketika selamat; apakah anak itu akan bertemu ayahnya lagi; apakah jika turun dari mobil untuk kencing, sopir galak akan meninggalkanmu; semua hanya bisa dijawab dengan “mungkin.”

Ada satu adegan yang saya suka dari film ini. Yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menahan kematiannya demi memperjuangkan sesuatu. Ia seperti sudah melihat malaikat maut bilang “assalamualaikum”, tapi ia berhasil menyuruh si malaikat menunggu di teras dulu, nggak langsung masuk ke dalam rumah lalu menjambret nyawamu.

Begitulah, pemirsa. Manusia hidup akan mati. Tapi manusia yang sudah terlanjur  hidup, akan terus menghidupi hidupnya. Semungkin mungkin.

Advertisements

Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang

Saya pernah ke Semeru, dan karena itu saya melewati juga jalur yang dilewati para pelancong yang menaruh Bromo pada tujuannya. Tapi sampai 11 Juni 2017 saya belum pernah mengunjungi pegunungan mungil yang pemandangannya banyak betul didamba orang tersebut.

Perjalanan ini nggak ada di rencana saya. Betul-betul mendadak. Adik saya yang kuliah di Malang sakit. Mamah saya pengin menjenguknya. Karena kami sekeluarga nggak mungkin membiarkan mamah terbang sendiri, akhirnya saya ikut pesan tiket juga. Kebetulan saya sedang dapat shift libur dua hari berturut-turut.

Saya juga sudah sering ke Malang sebenarnya. Selain ke Semeru, saya pernah ke Pulau Sempu saat kuliah dulu, dan tahun lalu juga diminta liputan ke sini. Tapi kunjungan-kunjungan itu nggak membuat saya merasa akrab sama Malang. Itulah juga yang memicu saya untuk berangkat ke sana.

Rencana untuk cabut ke Bromo baru muncul setelah isya. Paska urusan-urusan pengobatan adik saya selesai dan ia terlihat membaik keadaannya. Di perjalanan pulang dari rumah sakit menuju penginapan, adik saya bercerita tentang pengalamannya berkendara motor menuju Bromo. Butuh empat jam perjalanan, katanya. Pun, nggak bisa sembarang motor. Motor matic punya adik saya terhitung renta untuk mendaki jalanan menanjak dan medan berbatu. Jadi, kalau pun saya mau berangkat, pilihan menggunakan motor mesti dicoret.

Saya banyak bertanya.

“Kalau ke Bromonya siang enak nggak sih? atau harus malam?”

“Di sana cuma enak lihat sunrise, yah?”

“Kira-kira ada travel nggak ya, Fal?” tanya saya kepada adik.

Continue reading Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang

Dari Hai Club, Pers Abu-abu Hingga Hai School Crew

Perjalanan Komunitas Wartawan Pelajar Majalah Hai Dari Masa ke Masa.

“Mas, Koran SMA, tuh, dulu berhentinya tahun berapa?”

“Tahun 2008. Pertama kali terbit 2005.”

“Berarti ada vakum 3 tahun yah sebelum rubrik My School Page muncul di zaman Mate.”

“Iya. Mate yang bikin MSP. Nama MSP itu diambil dari salah satu rubrik di Koran SMA dulu.”

“Ohh! Baru tau gue.”

“Kalau dulunya lagi, namanya Pers Abu-abu.”

Itu percakapan saya dengan mas Yorgi pada Jumat, 3 Juni kemarin, sekitar tiga jam sebelum acara buka bersama sekaligus reuni komunitas wartawan sekolah Hai dimulai. Saya perlu menanyakan hal tersebut karena di acara nanti saya mau cerita kilas balik tentang keterlibatan anak-anak SMA di majalah Hai. Mas Yorgi, editor Hai yang sebentar lagi gantung keyboard dari jalan Panjang. hiks, adalah orang yang membentuk Koran SMA.

Di acara reuni ini, kami bertukar cerita tentang pengalaman jadi wartawan sekolah dan mengisi rubrik My School Page dari tahun ke tahun. Dimulai dari Adhie, alumni SMA Yadhika yang pada 2005 gabung jadi wartawan untuk Koran SMA Hai, lalu Mate (Rahmat Budiman), mantan managing editor Hai yang membentuk rubrik My School Page, dilanjut Rian Sidik, pengurus MSP 2013-2014, ditutup cerita dari saya yang ngangon Hai School Crew sejak 2016.

Hai adalah media yang segitunya dalam mengulik segala cerita seputar sekolah. Tanpa mendapat press release, tanpa bisa googling demi mencari tambahan data, Hai datang langsung ke sekolah, sok asik gabung ke tongkrongan, dan ngobrol di chat demi bisa mendapat cerita seru seputar anak SMA, dari yang berbau akademis, urusan pensi, korupsi di sekolah, tawuran, geng motor, sampai skandal syur remaja di era informatika ini. Hai selalu ngasih ruang untuk bahasan sekolah,  selain bahasan tentang pop culture dan gaya hidup remaja. Bahkan, sampai ada desk-nya sendiri. Rubrik khusus wartawan sekolah itu adalah salah satu bagian dari rubrik Skul yang lebih gede lagi.

Di artikel ini, ada baiknya sekalian saja saya bikin cerita tentang rubrik khusus wartawan SMA di majalah Hai dari masa ke masa. Toh, sekarang ini saya bisa menelusuri majalah Hai dari tahun jebot sampai yang terbaru hanya dengan klik-klik-klik. Semua ini berkat mas Muluk, pengarsip segala data redaksi, yang sudah mendigitalisasi seluruh edisi Hai. Jadi, saya bisa mudah mencari tahu perjalanan rubrik sekolah di majalah Hai ini.

Dan setelah ditelisik lagi, ternyata sebelum Pers Abu-abu saya jadi tahu bahwa HAI punya HAI Club. Wah apa lagi tuh? tahan sebentar. Saya jelaskan di bawah.

HAI Club (1979-1980-an)

Hai pertama kali terbit pada tahun 1977, tak lama setelahnya, Hai tampaknya sudah punya banyak penggemar. Buktinya, hingga di tahun 1979, Hai sudah sering mengumpulkan pembaca setianya di kandang Hai, yang saat itu masih di Jalan Palmerah Selatan.

Dari pertemuan-pertemuan itu, Hai dan pembacanya punya ide untuk bikin “sesuatu”. Dicetuskanlah nama Hai Club untuk menyebut perkumpulan para pembaca setia suka menulis dan antusias dengan dunia media cetak. Di masa awal pembentukan, Hai Club bisa menjaring 30 remaja untuk mengisi formasi organisasi. Dan mereka nggak sekadar kumpul-kumpul. Mereka berhimpun untuk fokus membuat publikasi yang kemudian dinamakan KOMA alias Koran Remaja.

Gagasan ini muncul karena mereka merasa media saat itu nggak ada yang benar-benar mewakili perspektif remaja dalam melihat dunia. Remaja pun butuh corong untuk menyampaikan suaranya.

Beberapa nama yang ikut Hai Club adalah  Jay Bimo. Musril Rahimsa, Arya Dipayana, Leila S. Chudori, Nony Lukito dan Wiwiet Wicaksono. Konon, mereka adalah penulis cerpen yang langganan dimuat Hai. Belakangan, Hilman Hariwijaya (pengarang Lupus) bergabung juga dengan Hai Club saat ia sudah masuk masa SMA.

Saya belum tahu pasti kapan KOMA berakhir. Namun, di Hai edisi ulang tahun ke 10, saya menemukan cerita bahwa KOMA dan HAI Club sudah padam saat itu.

“Sayang umurnya pendek sekali. Keluar dari perut bumi seolah cuma aksi lalu melempem. Hingga sekarang tidak terbit lagi,” tulis Hai di tahun 1986 tentang KOMA.

Kiprah Sekolah – Pers Abu-abu (1988-1990-an)

Rubrik Kiprah Sekolah Hai nomor 21 tahun 1990

Di lumbung arsip Hai saya mengetik kata kunci “Pers Abu-abu” dan menemukan rubrik yang bernama Kiprah Sekolah. Rubrik ini diisi oleh kumpulan artikel singkat kiriman anak sekolah. Tema artikelnya nggak jauh dari acara sekolah dan ekskul.

Di waktu yang sama, Hai sering roadshow ke sekolah-sekolah membawakan materi tentang jurnaslistik. Mas Wendo yang kerap jadi pembicaranya. Dia ngomporin anak SMA untuk jadi Pers Abu-abu. Mencari anak-anak SMA yang bisa diajak untuk jadi wartawan kontributor. Dalam perjalanannya, komunitas Pers Abu-abu yang terbentuk dari Hai juga bikin tabloid tentang masa SMA yang diberi nama Hermes. Dino Martin adalah salah satu petingginya. Sekarang Dino Martin dikenal sebagai CEO dari Karir.com

HAI nomor 19 tahun 1991

Dari hasil penelurusan saya dengan kata kunci “Kiprah Sekolah”, saya menemukan rubrik ini aktif di periode 1989-1991. Setelah periode itu, para Pers Abu-abu dapat akses untuk mengisi rubrik-rubrik lain di luar rubrik tentang sekolah. Yoris Sebastian saya temui pernah menulis tentang musik dan film di masa-masa ini. Saat itu Yoris adalah siswa SMA Pangudi Luhur Jakarta.

Kalau kamu pembaca Lupus karangan Hilman, maka akan tahu bahwa Lupus yang seturut cerita fiksi itu bersekolah di SMA Merah Putih, adalah juga wartawan contributor Hai masa 1991. Saat itu editornya adalah Dharmawan dan Redaktur Pelaksananya adalah mas Iwan.

Belakangan saya tahu bahwa mereka berdua jago betul di dunia tulis-menulis. Suatu hari di Februari lalu, saya bertemu dengan mas Dharmawan di kedai milik yang diasuhnya, Kedai Tjikini, saya kasih lihat dia Hai terbaru dan dibuat kikuklah saya. Mas Dharmawan detil betul memindai artikel demi artikel menemukan sejumlah kejanggalan dalam penulisan dan tata letak.

Balik ke Lupus. Lupus sering bikin liputan feature untuk Hai. Beberapa yang pernah saya baca adalah liputan Lupus tentang anak SMA yang mudik lebaran. Liputan tersebut membuat Lupus malah kebawa kereta sampai ke Yogya saking asiknya wawancara. Lupus juga pernah ikut liputan konser Duran Duran di Hongkong dan mewawancara idolanya. Dan terakhir, saat Lupus baru masuk kuliah, ia liputan tentang cewek-cewek SMA yang suka diskotek. Dasar playboy, sambil liputan, Lupus ngegebet Phia si narasumbernya yang masuk kelas 2 SMA itu. Artikel jadi, pacaranpun pasti.

Perekrutan wartawan kontributor dari kalangan pelajar terus berlanjut sampai era 90-an akhir. Beberapa nama yang saya tahu pernah jadi salah satu anggotanya adalah Kristupa Saragih (pendiri Fotografer.net), dan Felix Dass, hingga kini aktif sebagai pengamat musik dan penggerak sidestream scene di kisaran Jakarta. Kalau ditilik dari Instagramnya, sih, mas bewok satu ini sedang di London. Asik betul.

Koran SMA (2005-2008)

rapat Koran SMA dipimpin oleh mas Yorgi Gusman (Baju merah)

Yang membentuknya adalah Mas Yorgi, wartawan sekolah Hai saat itu. Seperti namanya, jenis konten bukan sekedar rubrik di dalam majalah, melainkan koran mini 10 halaman yang dibuat oleh anak SMA . Koran SMA disisipkan di majalah Hai secara berkala.

“Waktu itu gue bikin pengumuman perekrutan wartawan SMA lewat iklan kecil di majalah. Besoknya banyak banget anak SMA yang nelpon ke kantor. Banyak juga yang mau ikut,” cerita mas Yorgi tentang awal mula Koran SMA.

Dengan terpilih menjadi anggota, mereka-mereka itu resmi jadi wartawan sekolah. Sebuah predikat yang bikin ngerasa keren. Ya coba aja bayangin, ketika temen-temen lo ke pensi sebagai pengunjung biasa, mereka datang sebagai wartawan. Masuk nggak bayar, dan sepulangnya nama mereka dikenal, karena namanya ada di akhir berita yang mereka bikin. Udah gitu, tiap kali nulis di Koran SMA bakal dikasih honor.

Sebagaimana koran, Koran SMA pun punya sejumlah rubrik. Ada rubrik CCP-an yang berisi profil cewek cakep dari suatu sekolah yang asik untuk bahan curi-curi pandang. Ada juga rubrik liputan pensi tentunya.

Kalau dilihat dari tahunnya, sih, Koran SMA terbit saat saya kelas 2 SMA. Dan asal kalian tahu, sekolah saya adalah SMA yang paling dekat dengan kantor Hai. Nggak sampai 500 meter. Tapi sayang, saya belum punya minat gede sama majalah dan jurnalistik jadi nggak segitunya sama majalah Hai dan nggak kena terpa info soal perekrutan wartawan SMA ini. Saat itu saya baru di tahap hobi ngumpulin majalah-majalah gratis dan segala pamflet yang ada di distro saja.

Banyak banget anak Koran SMA yang setelah lulus kuliah lanjut bekerja di majalah Hai sebagai wartawan. Bahkan ada yang selulus SMA sampai ia lulus kuliah nggak putus jadi kontributor Hai.

My School Page (2010-2015)

Rubrik MSP 2012

Agak lama yah jeda kosong antara Koran SMA dan My School Page. Tiga tahun! Kalau nggak salah inget, Mas Yorgi cerita bahwa Koran SMA tuh berhenti karena biaya cetaknya lumayan. Jadi disudahkan saja.

Hingga pada 2010, inisiatif untuk bikin komunitas wartawan sekolah muncul lagi. Adalah Rahmat Budiman alias Mate inisiatornya.

“Dulu gue masuk Hai tuh tahun berapa yah, 2008 kalau nggak salah. Setelah beberapa lama gue sering liputan ke sekolah gue mendapati banyak anak SMA yang nanya gimana caranya  ikut nulis untuk majalah Hai. Dari situ gue kepikiran untuk bikin rubrik khususnya. Gue konsultasi ke Yorgi dan akhirnya pakai nama rubrik yang dulu pernah ada di Koran SMA dulu yaitu My School Page,” cerita Mate di acara bukber yang saya ceritakan tadi.

MSP Angkatan 1
Rapat MSP tahun 2010 bersama Mate

My School Page terdiri dari dua halaman. (kalau dilihat dari jumlahnya yang jamak itu, seharusnya nama rubrik ini adalah My School Pages. Hehe) Isinya adalah artikel feature yang dikerjakan oleh 3-5 anak MSP sekaligus. Temanya beragam dari yang ringan kayak daftar aturan ngeri di sekolah, cerita horor di sekolah, hingga kebiasaan pacaran para anak SMA.

Hampir setiap bulan sekali, para anak MSP itu selalu rapat di kantor Hai. Membicarakan ide tema artikel yang sekiranya asik untuk dibahas sebulan ke depan. Setelah ide artikel ditentukan, pembagian kerja dilakukan. Setelahnya, ya kerja deh. Deadline pengumpulan artikelnya ya sama kayak anak redaksi, tiap Rabu! Makanya, password akun-akun MSP tuh nyerempet-nyerempet urusan deadline. 

Dosma, salah satu alumninya cerita tentang serunya proses kerja sebagai anak MSP. “Gue angkatan pertama MSP. Gue inget banget dulu diminta nulis tentang sekolah-sekolah yang punya cerita horornya. Terus, pernah juga H-1 ujian nasional gue ditelpon Mate diminta bantuin nulis. Tentang bocoran UN, kalau nggak salah,” kata Dosma.

Mate kemudian naik menjadi editor Hai, mandat kepengurusan MSP dilanjutkan ke Ananda Rasulia. Terus, setelah Nanda cabut dari Hai, Rian Sidik yang megang, lalu Satria Perdana dan baru deh pindah ke saya. Kami para pengasuhnya ini bertugas untuk supervisi rapat, mengoordinasi liputan, menyunting tulisan, dan nraktir pizza atau nasi padang.

My School Pages “HSC” (2015-…)

Rubrik MSP tahun 2015

Di masa kepengurusan Satria dan saya, kami mengusulkan nama Hai School Crew (HSC) untuk menyebut para wartawan SMA ini. Sempat kepikiran untuk menamainya Hai School Press atau Hai School Squad. Tapi setelah dipikir-pikir, nama Hai School Crew lebih asik bin kekinian. Maksud utamanya adalah, agar keterlibatan para anggotanya nggak terbatas pada kegiatan “Press” saja.

Satria cabut pada 2016 awal. Sontak saya jadi satu-satunya pengurus. HSC masa kepengurusan ini bisa dibilang spesial karena merasakan tiga Pemimpin Redaksi, dan tiga perubahan medium: dari mingguan ke bulanan lalu berhenti cetak dan jadi full digital.

Udah gitu, saat masih mingguan MSP tahun ini panjangnya jadi 8 halaman.

“Kita perlu lebih banyak melibatkan anak SMA nih untuk nulis di Hai. Biar meningkatkan engagement,” kata mas Adit, managing editor, di suatu rapat tengah 2016. Saya cuma bisa nelan ludah sampe ke lidah-lidahnya saat mendengar.

Oh berarti jumlah HSC sekarang ini harus diperbanyak. Untuk mengisi 10 halaman itu, pikir saya saat itu. Saat perekrutan pun saya memilih sekitar 70 orang untuk ikut gabung. Domisilinya kebanyakan di Jakarta, tapi ada juga di Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Magelang, dan Kalimantan.

Cuplikan rubrik MSP 2016

Konten MSP pun berubah. Karena 8 halaman, saya mantapkan namanya menjadi My School Pages dengan ‘s’ di belaakang. Kalau sebelumnya hanya satu artikel, MSP ini kami bagi menjadi 5 rubrik, yaitu: School Story (artikel feature tentang sekolah), Hiplist (daftar segala yang hip di sekolah), Art n Lit (puisi dan gambar kiriman pembaca), Skul Star (profil anak-anak SMA yang menonjol di sekolahnya), dan Student Talks (opini pelajar tentang suatu fenomena)

Pola kerja HSC pun agak beda dengan masa lima tahun lalu. Kalau dulu untuk koordinasi liputan mesti telpon, dan untuk rapat mesti datang ke kantor, sekarang ini HSC bisa ngalor-ngidul di grup percakapan LINE. Thanks to Brown and Conny.

Rapat HSC di suatu malam di 2017
Hai School Crew saat meliput pensi Skyave 2016. Berfoto di depan panggung yang roboh ditiup badai.

MSP 10 halaman ini berjalan hingga 7 edisi dan padam karena Hai berubah jadi bulanan. Mas Pemred memutuskan untuk mencabut rubrik MSP dari majalah dan memindahkan saja ke Hai-online. Kami semua sedih. Bagaimanapun ngerjain MSP di majalah ada keseruan tersendirinya, deadline-nya ketat dan artikelnya di-layout dengan asik. Jadi lebih ena’ dilihat.

Ya, MSP Goes Online. Di Hai-online dibuat kanal khusus MSP yang isinya segala tulisan bikinan para Hai School Crew ini. Kami semua menulis tentang sekolah, tapi bisa juga menulis hal-hal lain. Dalam setahun ini, setelah saya hitung, HSC sudah menulis 95 artikel untuk MSP di online ini. Wuih.

We need more space!

Cover majalah HAI edisi terakhir

Juni 2017 adalah bulan terakhir majalah Hai terbit. Di media sosial, banyak banget warganet yang menyatakan dukanya. Dengan melihat bahwa warganet yang kaget dengan tutupnya majalah Hai lebih banyak yang berusia 30 tahun ke atas ketimbang yang masih berseragam SMA, tanpa diberi tahu lagi pun, kita bisa tahu alasan majalah Hai berhenti cetak kan? Hehe.

Iya, kami menyatakan diri lulus dari media cetak, tapi tak memilih punah. Lulus satu, Hai akan tumbuh seribu. Konten-konten Hai akan tetap hidup, tumbuh, di media yang tak pernah punya batasan jumlah halaman, nggak butuh ongkos cetak, dan nggak mentok pada kertas saja, tetapi bisa mengeksplor multi media.

Satu hal yang pasti lagi adalah Hai akan terus menjadi majalah remaja yang dengan senang hati mengajak anak-anak SMA untuk terlibat membuat konten. Para Hai School Crew bisa membuat liputan pensi dalam bentuk vlog atau laporan langsung lewat Instagram LIVE, misalnya, sambil tetap membuat artikel panjang tentang cerita seru di sekolahnya untuk dimuat di Hai-online. Dan masih banyak kemungkinan jenis konten yang bisa dibuat lagi di jagad digital ini.

Ah, saya jadi ingat salah satu novel Lupus yang menceritakan Lupus lulus SMA dan lanjut berkuliah. Sebagaimana Lupus, majalah Hai juga lulus dari media cetak. Kalau cerita Lupus itu diberi judul, “Idih Lupus udah gede”, cerita majalah Hai ini cocok untuk ditajuki “Idih, Hai udah digital.”

“Karl Marx Tentang Keterasingan Manusia” oleh Franz Magnis-Suseno SJ.

(makalah extention course Eksistensialime, Sekolah Tinggi Filsafat, yang dibawakan pada 20 Februari 2017)

Pada tahun 1932 Ryazanov, direktur institute Marx-Engels di Moskov (yang kemudian dilikuidasikan oleh Stalin), mempublikasikan untuk pertama kalinya apa yang disebut “Naskah-Naskah Ekonomis-Filosofis”, catatan-catatan yang dibuat Marx pada tahun 1844 di Paris. Dalam naskah-naskah itu Marx terlihat memperihatinkan keterasingan manusia. Ia melihat bagaimana pekerjaan upahan mendehumanisasikan manusia. Manusia sebenernya makhluk yang bebas dan universal.

“Naskah-naskah Paris” itu membuka salah satu sudut dalam pemikiran Marx yang sebelumnya seakan-akan tertutup. Bahwa Marx tidak pertama-tama bicara tentang hukum-hukum baja ekonomi, melainkan tentang manusia, bahwa ia bermaksud untuk membebaskan manusia dari keterasingannya.

Akan tetapi, sebelum bicara tentang Marx kita harus kembali ke Hegel (1770-1831), guru besar filosofis Karl Marx.

Continue reading “Karl Marx Tentang Keterasingan Manusia” oleh Franz Magnis-Suseno SJ.

Bunga

Kelak akan kukirimkan

ucapan selamat untukmu

berupa bunga-bunga

yang tidak wangi

tapi abadi.

 

Kamu bisa menyiraminya dengan apa saja

air banjir depan rumahmu

air kopi buatan pembantu barumu

air mata demonstran yang tak ditanggapi.

air raksa bekas penelitian biologi di sekolah adikmu

air kencing anjingmu

 

Bunga itu kubuat dari batu.

Cara Bayi Melepas Duka

Akang, keponakan saya yang berusia dua tahun, ikut saya dan ibunya mengantar kakek-neneknya ke bandara pagi tadi. Ia senang betul ketika tiba di bandara. Melihat troli pengangkut koper, ia menolak diangkat didudukkan  di sana. Akang ingin ikut mendorong troli. Di bandara Soetta terminal 3 yang megah nan nyaman itu, Akang juga berlari-larian, apalagi ketika melihat ada taman kecil di tengah-tengah. Neneknya ikut girang melihat Akang yang aktif dan periang itu. Beberapa kali ia mengeluarkan ponsel lalu memfoto akang dan aksinya.

Hingga jam penunjukkan pukul 08.00.  Satu jam sebelum mamah-papah saya itu harus masuk ke ruang tunggu pesawat. Mamah sudah tahu betul bahwa Akang akan menangis begitu pisah. Akang memang lengket banget sama mamah. Mamah jago mengajak bicara akang, suka menggendongnya dan mengajak main.

Biar nggak terlalu bersedih saat ditinggalkan, mamah bersiasat, ia bilang ke akang bahwa di lantai bawah ada perosotan, wahana permainan favorit Akang. Benar saja, Akang girang bukan main. “Ayo kita ke pocotan,” kata Akang berkali-kali.

Continue reading Cara Bayi Melepas Duka

Meninggalkan 28

28 adalah angka yang saya bangga-banggakan. Alasannya sederhana. Saya lahir di tanggal itu. Saya kemudian mencari kebanggaan lain, mencari-cari hubungan antara angka tanggal lahir, bulan lahir dan tahun lahir. Kesemuanya kelipatan 4. Sama dengan genap. Tidak ganjil.

Saat menyambut usia 27, sahabat saya, Sundea, bilang kalau itu akan jadi umur yang istimewa. Maklum, sejarah mencatat banyak pesohor yang meninggal di umur segitu: The 27 Club; sebuah kelompok yang anggotanya masuk tanpa mendaftar lebih dulu, setelahnya pun tak ada yang sadar sudah bergabung. Kurt Cobain dan Chairil Anwar bisa disebut sebagai salah duanya.

Saya ingat, saat menjalani umur 27 itu, saya sedang mencapai titik puas. Pun, saya sudah pernah merasakan gimana rasanya hidup akan berakhir, dalam mimpi. Jadi, kalau pun semesta pengin klik kanan lalu men-delete saya dari kehidupan, saya nggak akan merasa saya dilempar ke trash bin.

Continue reading Meninggalkan 28