“Karl Marx Tentang Keterasingan Manusia” oleh Franz Magnis-Suseno SJ.

(makalah extention course Eksistensialime, Sekolah Tinggi Filsafat, yang dibawakan pada 20 Februari 2017)

Pada tahun 1932 Ryazanov, direktur institute Marx-Engels di Moskov (yang kemudian dilikuidasikan oleh Stalin), mempublikasikan untuk pertama kalinya apa yang disebut “Naskah-Naskah Ekonomis-Filosofis”, catatan-catatan yang dibuat Marx pada tahun 1844 di Paris. Dalam naskah-naskah itu Marx terlihat memperihatinkan keterasingan manusia. Ia melihat bagaimana pekerjaan upahan mendehumanisasikan manusia. Manusia sebenernya makhluk yang bebas dan universal.

“Naskah-naskah Paris” itu membuka salah satu sudut dalam pemikiran Marx yang sebelumnya seakan-akan tertutup. Bahwa Marx tidak pertama-tama bicara tentang hukum-hukum baja ekonomi, melainkan tentang manusia, bahwa ia bermaksud untuk membebaskan manusia dari keterasingannya.

Akan tetapi, sebelum bicara tentang Marx kita harus kembali ke Hegel (1770-1831), guru besar filosofis Karl Marx.

Continue reading “Karl Marx Tentang Keterasingan Manusia” oleh Franz Magnis-Suseno SJ.

Bunga

Kelak akan kukirimkan

ucapan selamat untukmu

berupa bunga-bunga

yang tidak wangi

tapi abadi.

 

Kamu bisa menyiraminya dengan apa saja

air banjir depan rumahmu

air kopi buatan pembantu barumu

air mata demonstran yang tak ditanggapi.

air raksa bekas penelitian biologi di sekolah adikmu

air kencing anjingmu

 

Bunga itu kubuat dari batu.

Cara Bayi Melepas Duka

Akang, keponakan saya yang berusia dua tahun, ikut saya dan ibunya mengantar kakek-neneknya ke bandara pagi tadi. Ia senang betul ketika tiba di bandara. Melihat troli pengangkut koper, ia menolak diangkat didudukkan  di sana. Akang ingin ikut mendorong troli. Di bandara Soetta terminal 3 yang megah nan nyaman itu, Akang juga berlari-larian, apalagi ketika melihat ada taman kecil di tengah-tengah. Neneknya ikut girang melihat Akang yang aktif dan periang itu. Beberapa kali ia mengeluarkan ponsel lalu memfoto akang dan aksinya.

Hingga jam penunjukkan pukul 08.00.  Satu jam sebelum mamah-papah saya itu harus masuk ke ruang tunggu pesawat. Mamah sudah tahu betul bahwa Akang akan menangis begitu pisah. Akang memang lengket banget sama mamah. Mamah jago mengajak bicara akang, suka menggendongnya dan mengajak main.

Biar nggak terlalu bersedih saat ditinggalkan, mamah bersiasat, ia bilang ke akang bahwa di lantai bawah ada perosotan, wahana permainan favorit Akang. Benar saja, Akang girang bukan main. “Ayo kita ke pocotan,” kata Akang berkali-kali.

Continue reading Cara Bayi Melepas Duka

Meninggalkan 28

28 adalah angka yang saya bangga-banggakan. Alasannya sederhana. Saya lahir di tanggal itu. Saya kemudian mencari kebanggaan lain, mencari-cari hubungan antara angka tanggal lahir, bulan lahir dan tahun lahir. Kesemuanya kelipatan 4. Sama dengan genap. Tidak ganjil.

Saat menyambut usia 27, sahabat saya, Sundea, bilang kalau itu akan jadi umur yang istimewa. Maklum, sejarah mencatat banyak pesohor yang meninggal di umur segitu: The 27 Club; sebuah kelompok yang anggotanya masuk tanpa mendaftar lebih dulu, setelahnya pun tak ada yang sadar sudah bergabung. Kurt Cobain dan Chairil Anwar bisa disebut sebagai salah duanya.

Saya ingat, saat menjalani umur 27 itu, saya sedang mencapai titik puas. Pun, saya sudah pernah merasakan gimana rasanya hidup akan berakhir, dalam mimpi. Jadi, kalau pun semesta pengin klik kanan lalu men-delete saya dari kehidupan, saya nggak akan merasa saya dilempar ke trash bin.

Continue reading Meninggalkan 28

Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

IMG_20170417_200255

Saya sudah lama tahu novel ini. Pertama kali saat kuliah, salah satu teman baik saya, Andra, punya satu di kamarnya. Ia pernah bercerita bahwa ini adalah novel tentang kemarahan.

Baru pada 2015 saya membelinya: versi bahasa Inggris. Nemu di sebuah obral buku. Dijual cuma Rp 45 ribu. Saya coba baca, duh, bahasa Inggris saya kurang mumpuni ternyata. Jadi, saat dengar kabar penerbit Banana cetak ulang versi bahasa Indonesia ya saya niatkan beli.

Saya selalu suka cerita-cerita tentang cowok SMA beranjak dewasa. Nah, cerita Holden ini menawarkan tema baru. Hidup Holden penuh masalah dan karena itu ia senang mempermasalahkan banyak hal. Ia nggak dikeluarkan dari sekolah karena nilainya kurang baik–kecuali bahasa Inggris. Guru yang berpengaruh baginya pun cuma bisa menolongnya dengan nasihat alih-alih kenaikan kelas. Teman sekamarnya kencan dengan kasih tak sampainya.

Continue reading Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

Masa Depan Cerah Tren Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Tren Kamera Lama

SAYEMBARRA: Media Baik

Atas nama iseng, saya membuat Sayembarra, semacam ajang kompetisi  di Instagram dengan hadiah kecil-kecilan khas dari saya. Ini adalah kali pertama. Tema yang saya angkat adalah Media Baik. Pesertanya mesti anak SMA, ya karena saya punya mendampingi HAI School Crew jadi dekat dengan anak SMA. Tapi lebih dari itu, saya pengen tahu pendapat mereka tentang media sekarang ini.

Sekarang tanggal 26 dan gaji bulanan sudah diterima. Maka bolehlah kiranya sa iseng-iseng bikin #SAYEMBARRA sederhana. . Ini diperuntukkan untuk temen-temen yang masih SMA. Untuk yang kelas XII, pas banget kan tuh kemarin baru selesai USBN (bukan Universal Serial Bus Nasional). Otak kalian mesti masih anget-angetnya untuk diajak mikirin negara. Dedek-dedek kelas X-XI juga boleh ikut. Kan, otaknya lebih jernih belum keracunan UN. Apa yang disyaratkan? Sungguh mudah, asik, dan perlu dilakukan .

✔ Pilih satu dari dua poster yang ada di samping. Lalu regram ke akun kalian .

✔Di kolom caption, utarakan pendapat kalian tentang: .
1. Seperti apa sih media yang baik itu? Dari segi konten informasinya dan kreativitas penyajiannya .
2. Ceritakan media (web/akun IG/OA LINE/channel YouTube) favorit kalian yang menurut kalian baik nan keren; jelaskan alasannya .

✔ Sertakan tagar #mediabaik dan #sayembarra yah . . .

Semoga kita sama-sama sepakat bahwa tema ini perlu diangkat. Informasi itu seperti air. Kita butuh air minum, tapi kita benci dibuat repot karena air banjir . Mengendalikan media pembuat banjir informasi dan menghargai yang memberi “minuman” bergizi adalah perlu adanya Sa menyiapkan 3 hadiah sederhana untuk 3 pemenang: tiga novel kesukaan saya yang selain asik untuk dinikmati, juga memicu pemikiran-pemikiran seru . Pemenang pertama berhak pertama kali memilih hadiah bukunya, lalu dilanjut pemenang kedua dan ketiga Tiap buku akan disertai dengan voucher jajan di Gramedia senilai Rp 50 ribu Ditunggu sampe Selasa yaaah. Selamat Minggu ~

A post shared by Riz Kiram (@terlalurisky) on Mar 25, 2017 at 6:54pm PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Continue reading SAYEMBARRA: Media Baik