Bunga

Kelak akan kukirimkan

ucapan selamat untukmu

berupa bunga-bunga

yang tidak wangi

tapi abadi.

 

Kamu bisa menyiraminya dengan apa saja

air banjir depan rumahmu

air kopi buatan pembantu barumu

air mata demonstran yang tak ditanggapi.

air raksa bekas penelitian biologi di sekolah adikmu

air kencing anjingmu

 

Bunga itu kubuat dari batu.

Advertisements

Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Surat Hilang

Namaku Tri. kelas lima SD. hari ini aku bolos demi bisa ikut ibu ke kantor Pos

Kami bukan ke loket depan sebagaimana orang lain. Kami menuju tempat para pengantar surat bekerja sebelum berangkat ke rumah-rumah

“Saya mau nanya,” kata ibu tanpa permisi,”Adakah surat untuk saya, yang belum terkirim?” .

Pak Pos yang kemudian kami tahu bernama Yusuf, menjawab

“Nama Ibu siapa?”

“Siti, Pak.”

“Di dalam satu kotak ini saja sudah ada tiga ‘Siti’ yang saya temui. Nama panjang ibu siapa?”

“Siti…”

“Yaudah, nama pengirimnya siapa deh? Nanti saya cari.”

“Dari Wi…”

Aku membuat ibu menghentikan kata-katanya itu. Aku tarik-tarik tangannya ketika ia mulai menyebut nama Bapak. Di pojok ruangan, aku lihat ada pria berkumis mengernyitkan dahi dan melempar pandangannya ke kami

“…Ah, nggak, Pak. Bukan dari siapa-siapa.”

Samar-samar, aku mendengar pria berkumis di pojok memanggil rekannya. Aku mendengar mereka menyebut “buron” dan “presiden”.

Aku tak tahu apa itu buron. Tapi aku tahu apa itu presiden. Guru sejarah pernah cerita, di negara kita ini, cuma ada dua sosok yang masih hidup saat digambarkan untuk lembaran rupiah. Yaitu orang utan, dan presidenku itu

Teman-temanku menganggap itu sebagai cerita jenaka, aku mendengarnya sebagai cerita misteri

Tak lama kemudian, tiba-tiba lewat seorang pria dari dalam. Aku tak sempat melihat mukanya karena ia tinggi sekali. Aku melihat derap langkahnya, cepat dan berdebam

Ibu menoleh melihat pria itu juga. Lalu aku, ibu, dan Pak Yusuf menoleh ke bawah. Ada sobekan kertas jatuh dari tangan si pria

Astaga! di kertas itu tertulis ‘Siti’ dan tulisan yang lebih jelek dari tulisanku itu adalah tulisan bapakku

Ibu memungut sobekan kertas. Lalu menarikku keluar meninggalkan pak Yusuf yang belum berkata apa-apa itu

Ibu berjalan tergesa. Genggaman tangannya mengeras mengepal. Samar-samar aku mendengar ibu berbisik, seperti bicara dengan dirinya sendiri

Tak jelas apa yang ibu ucapkan. Entah itu “Aparat” atau “Keparat”, atau gabungan keduanya. Aku juga belum tahu artinya

Yang kutahu, surat dari bapak tak pernah datang lagi sejak itu.

Malam Minggu

Aku akan berolahraga besok pagi.

Berenang di kolam ikan bolak-balik sepuluh kali.

 

Aku akan sarapan nasi uduk di tengah jalan.

Sambil membacai puisi yang ada di halaman iklan

koran akhir pekan

 

Aku akan memperbaiki kasurku yang amblas besok siang.

Hari ini aku tidur seharian sambil nyemil Instagram.

Jempolku kapalan, berat mataku bertambah 2 kilogram.

 

Tapi malam ini aku mau memimpin upacara.

 

Di halaman rumah sudah kusiapkan seperangkat alat masak.

Demi membantu siapapun untuk menghangatkan semangat,

yang gampang basi seperti janji orang sibuk.

 

Aku sudah mengundang para perindu

yang sedang kehabisan kenangan untuk turut serta.

Akan kuajarkan cara mengheningkan cipta

diiringi drama Korea.

(Cerpen) Surat Pertama

Kamis pagi ini terasa janggal bagi Yusuf si pengantar surat. Bagaimana tidak, ketika sedang memilah-milah surat untuk dikelompokkan berdasarkan kota tujuan, ia mendapati sebuah surat dengan nama anaknya sebagai pengirim. Ditujukan ke sebuah alamat di Bandung, kode pos 40162. Dalam tumpukan itu, banyak juga surat-surat lain yang bertuliskan tulisan anak kecil.

“Kemaren siang rame banget anak-anak SD pada kemari, Suf. Sama gurunya juga. Tau deh tuh surat mau dikirimin ke mana. Satu sekolah disuruh ikutan jawab kuis kali ya,” Ali menjelaskan, seperti tahu kebingungan Yusuf.
Dua hari sebelumnya, di pelajaran Bahasa Indonesia kelasnya Suratni, anak Yusuf, Bu Yuli meminta murid-murinya membuka buku LKS. Semua anak tahu betul, kalau Bu Yuli sudah menyebut LKS, pasti jam main mereka bakal berkurang. Tapi, tugas yang akan diberikan Bu Yuli ke murid-murid kelas 5 kali itu sungguh berbeda dari biasanya.
Bu Yuli meminta anak-anak untuk membuka halaman paling akhir dari LKS.
“Suratni, coba kamu baca halaman itu,” ujar Bu Yuli
Suratni sigap, “Peserta Lomba Menulis Puisi.”
Pada halaman tersebut terdapat tiga puluh foto. Jumlah yang sama dengan jumlah murid di kelas Suratni. Di samping tiap foto, ada data nama lengkap, tanggal lahir—mereka lahir di tahun yang sama dengan Suratni dan hampir seluruh teman-teman sekelasnya; judul puisi yang mereka tulis; serta alamat lengkap.
Suratni akrab dengan dua judul puisi di antaranya. Ia ingat, ia pernah membacanya di LKS edisi sebelumnya. Di tiap edisi LKS, selalu ada halaman yang menampilkan puisi-puisi kiriman. Suratni baru tahu, ternyata puisi-puisi itu dilombakan. “Tugas kali ini nggak perlu dikumpulkan ke ibu, melainkan ke pak Pos. Besok lusa, kita ke kantor Pos sama-sama, yah,” tegas bu Yuli.
Murid sekelas diminta untuk membaca baik-baik profil di halaman itu, lalu memilih salah satu anak yang paling menarik. “Lalu buatlah surat, perkenalkan diri kalian, ajak dia berkenalan. Nanti lapor ke ibu kalau kalian sudah mendapatkan balasan,” lanjut bu Yuli.
Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling disukai Suratni. Nilai ujian Bahasa Indonesianya memang belum bisa lebih dari tujuh, tapi setidaknya Suratni selalu menulis dengan bagus, di kertas yang bagus pula: Suratni punya binder bersampul hijau muda–warna favoritnya–dengan kertas isinya yang beragam gambar, khusus pelajaran bahasa Indonesia ia memilih warna kertas hijau muda.
Tulisan tangan Suratni adalah terbagus di kelasnya. Karena Suratni juga baik hati, Onit, kawan semejanya malah jadi ogah mencatat di kelas dan lebih memillih pinjam buku catatan Suratni saja tiap seminggu sebelum ujian. Itu adalah cara Suratni menunjukkan kecintaannya terhadap pelajaran Bahasa Indonesia.
Nah, tugas kali ini bikin Suratni sangat bergairah. Ia gugup sekaligus senang. Bagaimana tidak, ia akan berkenalan dengan pemenang lomba puisi. Pasti mereka suka juga dengan Bahasa Indonesia, pikir Suratni.
Malam harinya, Suratni tidak keluar kamar hingga pukul delapan. Ini adalah kali pertama ia telat makan malam, dan susah sekali dipanggil keluar oleh ibunya.
Di pelajaran Bahasa Indonesia berikutnya, dua hari setelah tugas diberikan, Suratni dan teman-teman sekelasnya pergi ke kantor Pos bersama bu Yuli sebagai pemandu yang ditemani bu Gayatri, guru Matematika yang kebetulan sedang tak ada jadwal mengajar saat itu.
Dua minggu setelahnya, teman-teman sekelas Suratni heboh, awalnya karena Dika bercerita kalau dirinya sudah mendapatkan surat balasan.
“Surat yang kudapat panjang banget isinya. Semalam sebelum tidur aku minta ibuku bacakan. Surat itu bisa bikin aku ngantuk lebih cepat daripada ketika dibacakan Buku Pintar. Hehe,” kata Dika.
“Pengirim surat untukku cerita kalau dia pernah diserang gerombolan tawon persis kayak di film kartun,” cerita Onit tentang teman suratnya, Oka, anak di Tangerang, kelas 5 SD.
“HAHAHAHA,” semua anak yang ada di kelas tertawa, kecuali Suratni.
Saat itu, hanya dua murid yang belum bisa ikut bercerita. Pertama, Diko, yang diduga suratnya belum sampai karena pak Pos kesulitan membaca alamat yang tertera. Maklum, Diko belajar menulis dengan meniru tulisan tangan ibunya yang dokter. Kedua, Suratni. Berbeda dengan Diko, surat kiriman Suratni rapih dan meriah. Lalu, di dalam amplop, Suratni memasukkan dua permen kesukaannya. Kalau anak-anak lainnya menggunakan satu prangko, Suratni dua. Satu untuk ditempel, satu ia masukkan ke dalam amplop, agar memudahkan calon sahabat penanya mengirim balasan, cara yang sama dipakai oleh ayahnya saat pacaran dengan ibunya dulu.
“Sabar ya. Semoga surat pertama kamu bukan jadi surat terakhir,” nasihat Bu Yuli yang malah bikin Suratni makin murung. Suratni belum pernah jatuh cinta, tapi kejadian ini bikin ia merasa patah hati.
Suratni mengirim surat kepada Roki Birusenja, siswa kelas 5 sebuah SD swasta di Bandung. Suratni suka sekali puisi Roki. Penuh rima, jauh dari kalimat yang menjelimet, dan lucu. Di puisinya yang berjudul Pramuka misalnya, ada bait yang berbunyi begini:
“Aku ranger merah, kamu ranger kuning. Daripada marah-marah, ada baiknya kita pergi camping.”
Puisi Roki selalu sukses bikin Suratni senyum-senyum sendiri. Suratni ingin sekali berteman dengan Roki, dan lanjut bertukar puisi. Di suratnya, Suratni memperkenalkan dirinya. Ia bercerita tentang asal usul nama lengkapnya. “Namaku Suratni Ismail. Bapakku pengantar surat. Karena itu ada ‘surat’ tersirat di dalam namaku, lalu diikuti dengan ‘is mail’ untuk memantapkannya. Kalau nama kamu artinya apa?” tulis Suratni di awal suratnya.

“Si eneng tuh gelisah, Pak, dia kemaren kirim surat, tapi belum dapet balesan juga,” kata Ambar, ibunya Suratni, kepada Yusuf, setelah makan malam yang masih tak diikuti Suratni itu. Ambar akhirnya tahu setelah ia bertemu dengan ibunya Onit di pasar.

Yusuf merasa bersalah, seharusnya ia bisa membuat surat itu diprioritaskan pengirimannya. Dengan mencabut prangko lalu mengirimkannya lewat paket pengiriman ekspres, misalnya.
“Terus, kita harus gimana, bu?” tanya Yusuf pada istrinya.
“Lah, kan situ pak Pos. Harusnya lebih tau.”
“Kasihan Suratni, bu. Gimana ya ngakalinnya?”
“Iya, ibu juga tau gimana rasanya. Dulu waktu bapak suka kirimi ibu surat, ibu selalu nungguin, lho. Kalau seminggu belum dapet balesan, ibu datengin kantor posnya. Takut suratmu nyelip. Padahal pas udah diterima, ibu nggak ngerti suratmu, pak. Tulisan bapak kayak anak SD banget,” Ambar jadi mengenang-ngenang.
Yusuf tersontak mendengar cerita istrinya itu. Mukanya penuh suka sekaligus kejut.
“Kalau sekarang tulisanku masih kayak anak SD nggak, bu?”
“Ya naik dikit lah, dulu kayak anak SD kelas 3, sekarang kayak anak SD kelas 5.”
“Sepantaran kayak Suratni dan teman-temannya dong, bu. Ibu masih inget nggak dulu surat pertama ku ibu bales apa?”
“Mmm…masih, Pak.”
“Ambilkan kertas dan pulpen, bu.”
– April 2016

Taman

Di kamus yang ada di sekolah, kamu adalah sinonim dari taman.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.

Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.

“Di sana kami belajar, kok, Bu” kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, “Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan.”

Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.