Bunga

Kelak akan kukirimkan

ucapan selamat untukmu

berupa bunga-bunga

yang tidak wangi

tapi abadi.

 

Kamu bisa menyiraminya dengan apa saja

air banjir depan rumahmu

air kopi buatan pembantu barumu

air mata demonstran yang tak ditanggapi.

air raksa bekas penelitian biologi di sekolah adikmu

air kencing anjingmu

 

Bunga itu kubuat dari batu.

Advertisements

Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Malam Minggu

Aku akan berolahraga besok pagi.

Berenang di kolam ikan bolak-balik sepuluh kali.

 

Aku akan sarapan nasi uduk di tengah jalan.

Sambil membacai puisi yang ada di halaman iklan

koran akhir pekan

 

Aku akan memperbaiki kasurku yang amblas besok siang.

Hari ini aku tidur seharian sambil nyemil Instagram.

Jempolku kapalan, berat mataku bertambah 2 kilogram.

 

Tapi malam ini aku mau memimpin upacara.

 

Di halaman rumah sudah kusiapkan seperangkat alat masak.

Demi membantu siapapun untuk menghangatkan semangat,

yang gampang basi seperti janji orang sibuk.

 

Aku sudah mengundang para perindu

yang sedang kehabisan kenangan untuk turut serta.

Akan kuajarkan cara mengheningkan cipta

diiringi drama Korea.

Taman

Di kamus yang ada di sekolah, kamu adalah sinonim dari taman.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.

Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.

“Di sana kami belajar, kok, Bu” kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, “Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan.”

Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.

Sebelum Amin

Seorang guru bertanya pada muridnya,
“apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?”

“Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos.”

“Tidakkah kamu merasa kafir?”

“Aku merasa khusyuk.”

“Mereka nasrani.”

“Mereka ciptaan Tuhan kita.”

“Doamu hanya akan diantar malaikat magang.”

“Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini.”

“Apa isi doamu?”

“Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu.”