Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

IMG_20170417_200255

Saya sudah lama tahu novel ini. Pertama kali saat kuliah, salah satu teman baik saya, Andra, punya satu di kamarnya. Ia pernah bercerita bahwa ini adalah novel tentang kemarahan.

Baru pada 2015 saya membelinya: versi bahasa Inggris. Nemu di sebuah obral buku. Dijual cuma Rp 45 ribu. Saya coba baca, duh, bahasa Inggris saya kurang mumpuni ternyata. Jadi, saat dengar kabar penerbit Banana cetak ulang versi bahasa Indonesia ya saya niatkan beli.

Saya selalu suka cerita-cerita tentang cowok SMA beranjak dewasa. Nah, cerita Holden ini menawarkan tema baru. Hidup Holden penuh masalah dan karena itu ia senang mempermasalahkan banyak hal. Ia nggak dikeluarkan dari sekolah karena nilainya kurang baik–kecuali bahasa Inggris. Guru yang berpengaruh baginya pun cuma bisa menolongnya dengan nasihat alih-alih kenaikan kelas. Teman sekamarnya kencan dengan kasih tak sampainya.

Continue reading Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

Bisnis Plesetan (nan Slengean) a la Kamengski


Dengan plesetan visual, Kamengski membuat pemuda urban gemar dengan Firdaus Oil, Meggy Z dan Nike Ardila
Kita tentu sepakat, bahwa di kalangan pemuda kelas menengah macam kita-kita ini, produk bermerk Firdaus Oil pasti ditampik. Kita menyadari keberadaannya sebagai minyak penumbuh bulu, tapi sangat jarang sekali menggunakannya. Begitu juga Meggy Z. Agaknya, jarang ada pemuda kekinian yang peduli dengan pedangdut Anggur Merah tersebut. Sebenarnya, Firdaus Oil dan Meggy Z tak beda dengan Pomade dan Elvis Presley. Semuanya bagian dari budaya popular. Hanya saja, mereka ngepop di dua kelas masyarakat yang berbeda. 
Hingga hadirlah Kamengski, lini usaha yang dalam konten baju dagangannya melakukan culture jamming bergaya plesetan visual. Dengan bahasa visual, Kamengski mencampur-adukkan budaya popular lintas kelas dan lintas regional—budaya pop global dicampur dengan yang lokal. Gambar pria brewok pada logo Firdaus Oil dibuang, diganti dengan rupa wajah tokoh yang sama-sama berbulu, tetapi datang dari budaya popular kelas berbeda. Diambillah gambar Chewbecca, karakter di Star Wars yang tubuhnya dipenuhi rambut, untuk menjelaskan merk Firdaus Oil. Begitu juga dengan Meggy Z. Kamengski menyematkan gambarnya di artwork untuk lagu “Holy War… The Punisment Due” milik Megadeth. Bukankah Meggy Z dan Megadeth nyaris sama bunyinya jika dilafalkan? 
“Anjr*t, kepikiran aja nih yang bikin. Hahaha,” komentar saya ketika pertama kali melihat produk  Kamengski. Saya yakin, kekaguman pemuda-pemuda lain akan Kamengski dimulai dengan ekspresi yang tak jauh beda seperti saya itu. 
Dimulai Dari Hasrat Berkarya dan Bercanda
Bendera Kamengski berkibar sejak 2009. Penggagasnya adalah Sulaiman Said dan Aditya Fachrizal (Godit). Tapi sekarang, Said menjadi satu-satunya biang keladi Kamengski. Pemuda 26 tahun lulusan Desain Komunikasi Visual, IKJ ini punya misi sederhana saat mendirikan Kamengski, “gue pengin karya gue bisa dijadiin kaus dan dipakai banyak orang.”
Ingin tahu asal nama Kamengski? siap-siap heran. Saat Said dan Godit memikirkan nama brand, lewatlah seniornya di kampus yang bernama Meang. Said biasa memanggilnya Ka Meang. “Biar lebih asik, ditambahin imbuhan -ski deh,” kata Said. Jadilah Kamengski. 
Walau mengangkat becandaan di karyanya, Said tak main-main dengan motivasi berkayanya itu. Ia pun serius mengumpulkan modal. Lulus kuliah, Said pun bekerja menjadi desainer grafis kantoran. Bukan untuk menetap, melainkan sekadar untuk mengumpulkan modal. Sambil bekerja, sambil ia terus jalani Kamengski. Satu persatu ide plesetan visual diproduksinya dan diperlihatkan ke teman-teman.
Mendulang respon yang baik, Said kian gencar membesarkan usaha. Ia pun nekat meminjam uang ke bank untuk modalnya membeli mesin cetak direct to garmen (DTG) seharga Rp 15 juta agar bisa memproduksi kaus satuan dengan mudah. Daya produksi pun meningkat sejalan dengan meningkat pula permintaan pasar. Tak disangka, pinjaman bank yang seharusnya diangsur setahun sudah bisa dilunasi Said hanya dalam jangka enam bulan. “Waktu itu, gara-gara lebaranan, kaus laku banyak banget. Pinjaman pun gue lunasin terus gue resign dari kantor,” kenang Said. 
Sudah sangat banyak sekali rupa culture jamming yang turut  meramaikan pergaulan muda-mudi perkotaan gara-gara ulah Kamengski. Selain Chewbecca di logo Firdaus Oil dan Meggy Z di album Megadeth, beberapa produk pamor dari Kamengski lainnya adalah baju bergambar cupang slayer yang disandingkan dengan logo band Slayers, tokoh fiksi Detektif Conan disandingkan dengan logo kamera Canon, dan logo sepatu Nike yang ditambahkan tulisan ‘Ardila’. 
Laku keras, kaus-kaus plesetan Kamengski pun viral di ranah online. Hingga tulisan ini dibuat, Kamengski memiliki 3750 pengikut di Twitter, 2573 di Facebook, dan  12397 di Instagram. Kini, Kamengski juga sudah punya markas. Di sebuah rumah mini daerah Lenteng Agung, Said bermukim. Di sana pulalah ia sendiri bekerja mengurusi produksi sekaligus penjualan Kamengski. Modal utamanya: mesin cetak DTG, dua unit PC, koneksi internet dan smartphone. Tak jauh dari tempat tinggalnya, Said juga menyewa toko. Kamengski pun menjadi distro. 
Soal omzet, jangan ditanya. Tiap bulan, kaus Kamengski yang dihargai Rp 115-150 ribu ini bisa terjual setidaknya seratus potong. Belum lagi jika Kamengski ikut buka lapak di bazar. “Minimal empat juta gue kantongin tiap bazar. Paling heboh sih waktu Holy Market di ruangrupa. Belasan juta deh gue dapet,” cerita Said senang. 

Sederhana Dalam Pemasaran. Santai dalam Penjualan

Said memilih untuk sederhana dalam pemasaran dan santai dalam penjualan. Untuk pemasaran, dia hanya mengandalkan akun-akun media sosialnya, itu pun bentuk promosinya sederhana dan tetap bernada bercanda. Di kolom bio Instagramnya saja, Kamengski mencantumkan deskripsi yang nyeleneh bukan main. “Rajin Ibadah, Ramah Tamah, Baik Hati, Murah Senyum, dan Tidak Sombong, mau curhat hubungi 081317722721.”
Etalase digitalnya di Instagram pun tak mewah, hanya berupa foto kaus, tanpa model,  itu pun difoto dengan kamera hape. Tidak seperti kebanyakan online shop yang tampil elegan dan tak jarang berhamburan hashtag.
Andalan promosi Kamengski lainnya adalah jaringan pertemanan. Berada di scene seni Jakarta juga membawa keuntungan bagi Said. Beberapa koleganya yang lebih dulu diikuti banyak followers, kerap mempost foto dirinya memakai baju Kamengski. Dari situ, plesetan visual khas Kamengski kian viral. 
 “Gue juga pernah coba ajak kerja sama akun humor di Instagram. Gue isi konten di situ. Lumayan. Sekali post, bisa nambah follower sampai 500,” cerita Said. 
Soal penjualan, sebenarnya, bisa saja Kamengski diikutkan ke bazar-bazar akbar seperti Jakcloth atau Brightspot. Tapi Said memilih untuk pelan-pelan. “Gue nggak mau agresif gitu ah. Lagian kalau gitu jadi nggak lux lagi produknya,” katanya. Beberapa temen yang ingin berinvenstasi juga pernah datang ke Said. Tapi lagi-lagi, Said belum menggubris satu pun tawarannya.  
 
Plesetan nggak ada matinya”

Untuk pengikut brand Kamengski sejak awal berdiri, pasti akan tahu bahwa di awal pendiriannya, gambar-gambar di kausnya lebih nyeni dengan menampilkan berbagai karya buatannya dan beberapa teman kampusnya. Namun, tak lama sejak itu akhirnya berbelok arah, dan memilih mengangkat plesetan visual saja hingga sekarang. 
Kenapa plesetan?
“Karena gue susah serius. Gue mau keliatan keren tapi udah pasti kalah keren. Jadi, mending katro aja deh. Jadi nggak mutu aja. Eh, malah banyak yang senang,” ujar Said enteng. 
Selain itu, menurut Said, bisnis parodi seperti yang dilakukannya itu tak akan pernah mati. Project Pop dan grup lawak Warkop saja, sebut Said, hingga kini masih terasa lucunya jika kita menyaksikan karya-karyanya. 
“Parodi, apalagi dalam bentuk visual pasti nggak gampang basi,” ujar pemuda yang juga merilis novel grafis Munir, Juli lalu. 
Ekspansi Dengan Berkolaborasi
Belum lama ini, Kamengski merilis kaus yang sama sekali tak mengandung unsur plesetannya. Gambarnya adalah sekolah anak punk sedang menyalami tangan ibunya. Di produk itu, Kamengski mengajak  Mufti Priyanka, ilustrator yang lebih dikenal dengan nama Amenkcoy. 
Amenkcoy, adalah satu dari beberapa nama seniman muda yang pernah diajak Kamengski untuk berkolaborasi. Bagi Said, Kamengski sangat terbuka dengan kolaborasi. Bahkan ia membutuhkannya agar menambah variasi produknya. “Kolaborasi penting biar kita bisa bersinergi dan saling bantu. Mau kolaborasi di media apa pun ayo-ayo aja,” jelas Said. 
Selain Kaus, Kamengski juga akan menambah jenis produknya.Selain pernah membuat gantungan baju berbentuk senapan, Kamengski juga berencana mengeluarkan casing smartphone dalam waktu dekat ini. Tentu, dengan desain yang khas dan unik.
“Gue nggak nyangka juga sih Kamengski udah segede ini. Apalagi gue nggak ada basic bisnis. Gue cuma menjalani ya karena gue suka dan gue senang,” tutup Said. 
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Oktober. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  Berikut inilah bukti penampakannya: 


(foto: Dok. Kamengski )

Self-Published Your Photobook and Be Happy

Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 

Ridzki Noviansyah, seorang penikmat sekaligus pengamat fotografi cum co-founder Jakarta Photobook Club bahkan bercerita bahwa scene buku foto di Indonesia itu belum begitu hidup. “Sejak tahun 50-an, photobook Indonesia itu paling cuma ada 150-an buku. Sementara di Jerman setiap tahun bisa ada 150-an photobook yang terbit,” ujarnya. Data Ridzki tersebut mengacu dari pameran pemenang dan nominasi Penghargaan Buku Fotografi Terbaik Jerman 2013 yang digelar oleh Goethe Institute. 
Kalau melihat animo masyarakat akan fotografi yang terus meningkat, penerbitan buku foto itu perlu digalakkan demi menyeimbangkan semangat berfotografi masyarakat. Jika selama ini aspek produksi  dan distribusi (baca: pamer) foto yang paling sering digembar-gemborkan, maka penerbitan buku foto akan memicu semangat mengonsumsi serta mengapresiasi foto. Jika siklus produksi-konsumsi dalam ekosistem fotografi ini seimbang, geliat fotografi Indonesia pasti akan terus tumbuh dan semakin seru.

Untungnya, beberapa fotografer, baik dari kalangan hobi atau profesional, mulai memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi, media sosial dan industri percetakan. Satu persatu fotografer kemudian merancang, mendesain, mencetak lalu menjual buku fotonya secara independen, tanpa menunggu ‘ajakan’ dari penerbit besar. Tanpa mengandalkan penjualan di toko buku mayor. Kini, jika  rajin berjejaring di forum maya para pecinta fotografi, kita akan sering sekali disuguhi posting seorang fotografer yang sedang memperkenalkan buku fotonya. 
Aji Susanto Anom misalnya, fotografer muda asal kota Solo ini pada 13 September 2013 lalu merilis buku fotonya secara independen. Aji mengumpulkan foto-fotonya yang menggunakan pendekatan street photography merespon kejadian-kejadian sehari-hari di kota tempat tinggalnya. Buku berukuran sedikit lebih besar dari kartu pos itu kemudian ia beri judul Nothing Personal.

“Aku pengin menerbitkan buku karena aku pengin nyumbang karya dalam bentuk yang lebih nyata buat scene fotografi Indonesia,” tegas Aji yang juga menganggap menerbitkan buku foto dengan semangat Do It Yourself itu lebih mengasyikkan karena kita bisa menunjukkan idealisme dan cara berekspresi dengan sangat bebas. 
Selain Aji, ada juga Rian Afriadi, fotografer hobyist yang menggeluti fotografi pendekatan dokumenter subjektif yang  kini sedang merencanakan penerbitan buku fotonya. Bagi Rian, menerbitkan buku foto itu adalah  art statement. “Kalau gue lebih sebagai art statement dan doing it for love. Bukan demi uang. Apalagi hitung-hitungan profit bagi fotografer indie tentunya tidak terlalu wow,” ungkap Rian.
Bermodal Konsep dan Tekad
Berbicara soal langkah penerbitan buku foto, Ridzki menegaskan bahwa ketika kita ingin menerbitkan buku foto, maka yang paling perlu lakukan adalah mematangkan konsep dari foto-foto kita itu. “Jangan terlalu buru-buru apalagi merasa dikejar untuk menerbitkan photobook. Pematangan konsep dan tema foto itu lebih dibutuhkan,” ungkap Ridzki yang juga merekomendasikan kita untuk melihat sebuah photobook independen tentang joki cilik di pacuan kuda di NTB yang pengumpulan fotonya digarap oleh Romi Perbawa selama empat tahun. 
Matang di konsep dan tema, langkah selanjutnya adalah mendesain dan mencetak buku. Untuk tahap ini, kita bisa mengerjakan sendiri seluruh alur pengerjaan buku sendiri seperti yang dilakukan oleh Aji. Lulusan jurusan Desain Grafis ini mengerjakan sendiri desain tata letak, penulisan, pemilihan kertas dan pencetakan hingga penjilidan buku. 
proses pembuatan buku Nothing Personal. (foto dicomot dari FB Aji Susanto Anom)
Namun, jika belum menguasai teknik produksi buku, tak perlu risau. Dengan modal tekad yang kuat, kita pasti tetap bisa membuatnya, dengan menggunakan bantuan kawan misalnya, seperti yang dilakukan oleh Rian. Ia banyak berkonsultasi dengan desainer, teman-temannya yang sudah pernah berurusan dengan pencetakan buku, penulis dan editor.

O ya, metode kolaborasi juga bisa jadi opsi. Terutama jika kita punya kawan yang pendekatan fotografinya sama. Astrid Prasestianti dan Renaldy Fernando misalnya, yang pada 2012 lalu merilis buku berisi kumpulan foto-foto terbaiknya dari kamera analog. Buku yang diberi judul 88 itu dikerjakan secara kolaboratif. Setelah foto-foto dipilih bersama, Astrid yang sehari-harinya bekerja sebagai desainer mengerjakan urusan desain buku, sementara Renaldy banyak berperan di urusan promosi dan penjualan.
Satu hal lagi yang mesti diperhatikan dalam penerbitan buku foto adalah penyuntingan yang mencakup pemilihan foto, penentuan alur dan urutan penempatan foto. Dalam tahap ini, menurut Ridzki, fotografer memerlukan second opinion agar penyuntingan foto tak melulu mengikuti ego fotografer.
Pendapat Rian juga senada dengan Ridzki, katanya, “Si fotografer cenderung punya bias terhadap foto-fotonya. Ada kalanya kita ingin mempertahankan foto favorit padahal di mata viewer, foto itu malah dianggap merusak alur photobook.
Nah, soal pencetakan, seperti yang sudah kita tahu, kini jasa digital printing sudah menjamur. Semua pasti menyanggupi layanan cetak buku foto. Harga produksinya pun tak akan begitu mahal, apalagi jika kita langsung cetak banyak. Cukup siapkan file siap cetak, pilihan kertas dan jilidnya, selanjutnya kita serahkan ke para petugas percetakan.

Promosi dan Penjualan Bisa Tanpa Modal
Lewat media sosial kita bisa sangat mudah memperkenalkan buku foto kita dan menjualnya. Syaratnya pun simpel, cukup rajin berjejaring dengan forum-forum (group) pehobi fotografer dan pecinta buku foto. Setelahnya, cukup dengan membuat posting promosi yang menarik, kita sudah bisa mendapatkan peminat. 
Enaknya lagi, kita bahkan tak butuh banyak modal banyak untuk menerbitkan buku foto. Seperti yang dilakukan oleh Aji, dan duo Astrid-Renaldy yang menerapkan sistem pre-order. Jadi, kita hanya perlu modal untuk mencetak dummy, lalu kita promosikan via media sosial dan mengajak teman-teman yang berminat membeli untuk membayar uang mukanya terlebih dahulu. Uang muka itulah yang menjadi modal kita mencetak buku. Aji dan duo Astrid-Renaldy pun bisa mencapai target penjualan seperti yang diharapkannya. 
“Aku pertama cuma berencana bikin 100 buku, tapi ternyata permintaannya sampai 150 buku. Lumayan lah,” cerita Aji. 
Tentu, keberhasilan penjualan buku foto ini juga berbanding lurus dengan seberapa besar jaringan pecinta fotografi yang sudah dibangun si fotografer. “Pasar photobook itu sebenernya kecil. Tapi tergantung dengan networking si fotografernya juga,” ujar Ridzki. 
Perlunya Meningkatkan Pencapaian

Tren photobook ini jelas menjadi kabar baik bagi scene fotografi Indonesia. Namun, walau begitu, seperti yang disebutkan Ridzki, kita masih perlu juga meningkatkan pencapaiannya. Pertama, buku foto independen baiknya tak hanya disasar ke lingkup jaringan pertemanan di media sosial saja, melainkan ke segmen yang lebih luas lagi. “Para penerbit buku foto independen di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura itu perhitungan pasarnya sudah nyebar ke negeri-negeri lainnya,” ungkap Ridzki. 
Selain itu, sekali lagi Ridzki mengingatkan jika kita ingin menjual buku foto, kita perlu mematangkan konsep atau setidaknya punya alasan kenapa khalayak mau membeli buku kita tersebut. “Karena itu, artist talks setelah buku foto dirilis perlu digelar sebagai sarana bedah buku dan ajang sharing cerita di balik pembuatan buku foto tersebut,” tambah Ridzki lagi. 
Nah, biar makin semangat, selalu ingatlah juga ungkapan “foto yang baik adalah foto yang dicetak.” Walau pun sekarang kita bisa mudah melihat foto di layar gadget, tetapi sensasi melihat foto kita tercetak dengan baik di kertas pilihan, apalagi dalam bentuk buku itu tak akan ada yang bisa menggantikannya. Selalu membahagiakan. Karena itulah, Mari kita cetak buku foto kita sendiri, seperti saran Aji jika kita ingin  menerbitkan buku foto maka, “Just do it! aja.”
Selamat mencoba. 😀
=======
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Juli. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  

Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama

Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda.
Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.
Tak ada catatan pasti kapan Kassian pertama kali berlatih fotografi, tapi jika dilihat dari waktu tinggal Simon di Yogyakarta, maka Kassian mulai menggeluti fotografi pada kisaran 1861-1871.
Kassian tak salah jika kita anggap istimewa. Pertama, Kassian berkesempatan memiliki suatu alat penanda modernitas yang saat itu begitu mahal harganya dan hanya biasa dimiliki oleh warga negara asing. Kedua, Kassian  adalah penanda pertama kali dimulainya eksplorasi fotografis Indonesia oleh pribumi. Tapi coba lihat foto-fotonya, mungkin kalian akan punya kegelisahan yang sama seperti RA Kartini.
”Kerap kali benar saya ingin memiliki alat foto dan dapat memotretnya kalau kami melihat hal-hal yang aneh pada bangsa kami, yang tidak difahami oleh orang Eropah. Banyak benar yang ingin kami tulis disertai gambar-gambar, yang kiranya dapat memberi gambaran yang murni kepada orang Eropah tentang kami, bangsa Jawa,” 
Itu adalah sepotong tulisan Kartini dalam dalam suratnya yang ditujukan untuk Mr. J.h. Abendanon tanggal 1 Januari 1903. Saat itu sudah lebih dari tiga puluh tahun Kassian memotret dan pastinya foto-fotonya pun sudah menyebar luas, termasuk (mungkin) ke daerah tempat Kartini tinggal. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Kartini masih merasa perlu membuat foto yang memberi gambaran murni tentang bangsa Jawa? Padahal sudah ada Kassian, pribumi yang membuat foto Tanah Airnya sendiri.
Dari situ, bisa muncul sebuah jawaban bahwa memang Kassian tidak melihat Indonesia secara kritis. Indonesia dalam foto-foto Kassian selalu terlihat sangat indah, kebanyakan merupakan foto pictorial – fotografi yang mengedepankan nilai estetika. Kassian memotret Sultan dengan busana kesultanannya yang megah dan tak jarang dilengkapi atribut-atribut keeropaan, perempuan-perempuan Jawa yang didandani hingga terlihat begitu eksotis, kelompok yang sedang membawakan tarian tradisional, foto arsitektural bangunan-bangunan bersejarah Indonesia dan foto-foto lainnya, seperti foto potret di studio foto komersilnya.
Representasi Indonesia dalam foto-fotonya Kassian adalah baku, mewah, eksotis, dan Jawa sekali. Pemandangan keseharian masyarakat Yogya, seperti apa masyarakat bekerja, apa yang terjadi di rumah rakyat kelas bawah atau suasana penindasan oleh para penjajah tak akan kita tahu dalam foto-foto dari kamera  Kassian.
Tentu, fotografi itu tak bisa lepas dari subjektivitas. Fotografer bebas menentukan bagaimana, apa, dan siapa yang akan difotonya Tapi, sebagai pemirsa, kita juga juga tak salah mempertanyakan asal-usul subjektivitas Kassian. Mari kita telusuri
Pribumi Rasa Eropa
Kassian lahir di Yogyakarta pada 15 Januari 1845. Cephas adalah nama baptisnya yang mulai ditambahkan pada namanya sejak 1860. Sudah sejak kecil Kassian dekat dengan  Belanda. Ia pernah tinggal bersama keluarga Philips Steven, seorang Belanda yang menjadi guru agama Kassian di Purworejo. Selain itu, sebagai seorang Kristen, Kassian juga kian mudah lekat dengan pergaulan Belanda.
Pada 1860an Kassian kembali ke Yogya dan bekerja di lingkungan Keraton. Di sanalah ia belajar fotografi kepada Simon. Setelah paham pengoprasian kamera, Kassian ditunjuk menjadi jurufoto pemerintah oleh Sultan Hamengkubuwono VI pada kisaran 1877. Hingga pada kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana VII Kassian mulai banyak berkarya.
Karier fotografi Cephas pun berjalan dalam naungan Belanda. Kassian banyak bekerja untuk Isaac Groneman, seorang dokter kebangsaan Belanda yang juga memiliki minat besar pada sejarah dan budaya Jawa. Bersama Isaac Groneman, Kassian kerap melakukan penelitian. Kassian membantu pendokumentasian objek-objek penelitian Isaac. Sejak itu, foto-foto Kassian banyak bermunculan di sejumlah publikasi seperti surat kabar, buku-buku kebudayaan, dan dokumen arsip yang dipesan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Untuk pekerjaan arkeologi dan kebudayaannya itu Kassian memotret bangunan-bangunan bersejarah seperti istana air Taman Sari, Candi Borobudur, Komplek Candi Loro Jonggrang di Prambanan dan kumpulan adegan tari-tari tradisional yang ada di Jawa.  Dalam beberapa proyek, Sem Cephas, anak Kassian juga ikut membantu pemotretan.
Tak lama setelah banyak bekerja memotret untuk Belanda, Kassian pun menjadi bukan orang Jawa biasa lagi. Apalagi jika kita tahu bahwa sejak 1891 pun Kasian bersama dua anaknya, Sem dan Fares berhasil mendapatkan pengakuan status hukum sebagai orang Eropa oleh Gubernur Jendral. Tentu, status barunya itu membuat Kassian tidak diperlakukan berdasarkan hukum pribumi lagi melainkan hukum Eropa.
Di luar pekerjaan penelitianya itu, Kassian juga sebenarnya memotret atas namanya sendiri. Dengan mengandalkan Daguerrotype-nya, Kassian juga ikut bersaing dengan fotografer-fotografer Belanda lainnya dengan membuka studio foto di rumahnya di Lodji Ketjil Wetan yang kini menjadi Jalan Mayor Suryotomo. Kassian tak tanggung-tanggung mempromosikan usahanya. Saat di Yogya pertama kali terbit surat kabar yang bernama Mataram, Cephas memasang iklan penawaran jasa fotonya di edisi pertama surat kabar itu. Orang-orang pun berdatangan untuk dibuatkan foto potret, baik itu potret sendiri atau pun bersama keluarganya. Di luar studionya, Cephas juga sering membuat foto bangunan, jalanan dan monumen kuno.
Setelah sekian lama menggunakan Daguerrotype, akhirnya pada 1886 Kassian pun punya mainan baru, yaitu apa yang disebut photographie instantanee, kamera yang lebih ringkas yang mampu mencuplik cahaya dengan kecepatan 1/400 detik. Dengan begitu foto, terutama foto potret, lebih mudah dibuat. Tidak seperti sebelumnya yang mengharuskan objek yang difoto tak boleh bergerak untuk beberapa detik. Sejak teknologi fotografi mulai berkemang saat itu, foto-foto Kassian juga mulai direproduksi bukan hanya untuk arsip saja, tetapi juga untuk dijadikan official merchandise Kesultanan dan dijual dalam bentuk kartu pos ataupun album kumpulan foto.
Keterlibatan Kassian dalam proyek-proyek dari pemerintah Belanda ditambah dengan kedekatannya dengan Kesultanan Yogya kian melambungkan reputasi Kassian. Buktinya, Kassian ditunjuk sebagai anggota luar biasa oleh Masyarakat Seni dan Ilmiah Batavia. Kemudian, Saat Raja Chulangkorn dari Thailand  yang pernah berkunjung ke Yogya tahun 1896 dan menghadiahinya tiga buah kancing permata. Lalu, Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda memberi penghargaan medali emas untuk Kassian atas kerjanya melestarikan peninggalan arkeologis dan budaya Jawa.
Kita boleh berbangga hati mendengar reputasi serta prestasi Kassian dalam merekam Indonesia. Tapi kita juga perlu tahu, bahwa saat itu, fotografi juga didominasi oleh kepentingan politik, komersial selain juga ilmu pengetahuan. Bangsa Eropa yang menjajah suatu negara menggunakan fotografi untuk mengumpulkan inventaris visual atas daerah jajahannya. Foto-fotonya sengaja dibuat untuk menunjukkan eksotisme, keindahan dan keunikan budaya daerah jajahannya.
Kassian yang sudah begitu akrab dengan budaya Eropa dan memang berada dilingkungan masyarakat kelas atas pun mengikuti perspektif tersebut dalam memotret Jawa. Tak salah rasanya jika kita simpulkan bahwa sejak awal motivasi Kassian memotret adalah untuk kepentingan Eropa. Kassian mengenalkan Jawa kepada mata Eropa dan masyarakat kelas atas lainnya. Jawa yang dipotret Kassian adalah Jawa sebagai objek, Jawa yang dibuat dengan setting, tidak melihat Jawa  bukan sebagai subjek yang juga memiliki kuasa, yang bisa bebas dan tidak dipaksakan nilai-nilai, seperti keluguan, kecantikan dan eksotisme.
Barangkali juga karena ongkos pemotretan saat itu sangat mahal, Kassian pun mau tak mau mengedepankan nalar ekonominya ketimbang jiwa kritisnya. Jadi, Kassian hanya melakukan pemotretan atas sesuatu yang kiranya dapat menggantikan biaya pemotretan dan menghasilkan keuntungan. Karena itu sasaran pemirsa karya-karya fotonya adalah mereka yang Eropa dan masyarakat kelas atas yang memiliki cukup uang, bukan untuk rakyat Indonesia dari kelas bawah, dan kalangan-kalangan menengah yang nasionalis, seperti ibu kita Kartini.
***
Tulisan ini merupakan versi belum diedit untuk zine The Future of The Past. Perlu saya sebutkan juga sepertinya bahwa saya ini penulis yang baru belajar. Penulusuran serta analisis foto-foto Kassian Cephas di sini juga salah satu bentuk pembelajaran saya. Jadi kalau menemukan kejanggalan, ketidaktepatan analisis atau kesalahan menyebut nama, tahun, atau tempat, mohon beri tahu saya yah. Terima kasih.  😀
sumber rujukan: 
Artikel“Kassian Cephas, Juru foto Pribumi Pertama” oleh Budi Darmawan (www.seribukata.com)
Artikel “Kassian Cephas Hanya Membuat Foto-foto Indah” OlehNurainiJuliastutipada
Buku “Membaca Fotografi Potret: Teori, Wacana, dan Praktik” oleh Irwandi dan M. FajarApriyanto
*** 
Penampakan di The Future of The Past edisi 2: 

Film Director: The God Of Movie

Hai Magazine edisi 44, 2012
Memengaruhi perasaan dan pemikiran penonton, menuangkan idealisme dan mimpi, serta menegakkan passion. Nggak heran kalau sutradara disebut sebagai dewanya film.
Siapa yang sudah nonton Perahu Kertas 2? Ngaku deh, pasti ada dari kalian yang perasaannya berubah drastis setelah film usai. Sebelum masuk studio kita bisa ketawa-ketiwi sama pacar,  eh saat layar bioskop padam, kita malah termenung di kursi, galau karena merasa cerita Kugy dan Keenan yang ada di film begitu menyentuh. Atau malah ada yang merasa konflik pada film mirip dengan kejadian yang pernah kita alami. 
Nah, perubahan emosi dan pemikiran itulah efek dari kepiawaan seorang sutradara meracik film. Karena, dari mulai alur cerita, angle pengambilan gambar, akting para pemeran, urutan adegan, sampai penyatuan musik latar yang sesuai dengan mood menjadi tanggung jawab seorang sutradara. 
“Seorang yang bertanggung jawab di bidang kreatif film. Memvisualkan teks-teks skenario menjadi gambar. Pokoknya, sutradara bertanggung jawab penuh terhadap gambar. Sutradara harus bisa bercerita banyak dari rangkaian plot,” begitulah definisi sutradara dari seorang Hanung Bramantyo, Sutradara dari dua film Perahu Kertas (2012). 

Kalau kita perhatikan, di tiap judul film pasti nama sutradara muncul menyertainya. Kita pun serentak bakal mengira bahwa hanya sutradara lah yang punya andil besar dalam sebuah  film. Benarkah? 
“Dari seluruh bagian, produser, sutradara dan penulis skenario adalah inti dari film. Keputusan tertinggi ada pada tiga film ini, jadi masing-masing harus punya kesadaran bahwa kita membuat film hasil kerja bersama,” jelas Hanung panjang lebar. 
Pada Perahu Kertas, menurut Hanung, keputusan untuk memecah film menjadi dua bagian pun datang dari hasil rundingan ketiga jabatan tersebut. 
“Tadinya ada pertentangan antara saya dan produser, kalau bicara personal saya menolak untuk buat jadi dua film, tapi karena sudah jadi keputusan bersama, saya harus menaatinya,” ungkap Hanung bijak. 
Dilihat dari track record-nya, sutradara jebolan Institut Kesenian Jakarta ini sudah beberapa kali membuat film yang diadopsi dari novel best-seller. Walau bisa mudah mencapai banyak penonton, menurut Hanung, hal ini sangat menantang. Alasannya? 
“Film ini udah fanbase-nya, dan ending-nya pun sudah ada. Jadi pembaca datang ke bioskop bukan untuk menonton film, melainkan untuk kroscek. itu adalah hambatan sekaligus tantangan. Dan itu melelahkan,” jawab Hanung 
 Tentunya, tantangannya pun nggak datang dari penonton saja. Sutradara juga harus bisa menjembatani visinya dengan sang penulis novel. 
“Ada beberapa penulis novel yang memercayakan filmnya pada sutradara, ada juga yang merasa harus terlibat, contohnya yah Dewi Lestari,” tandas Hanung. Di film Perahu Kertas, Dewi Lestari memang melibatkan diri dalam film, nggak cuma sebagai penulis skenario, tetapi juga sebagai peracik soundtrack-nya. 
Menariknya, walau penonton bisa mengetahui alur serta endingnya dengan membaca novelnya, film-film adaptasi novel karya Hanung selalu laris. 
Sebut saja, Ayat-Ayat Cinta (2008) yang menurut Hanung, sukses menyedot perhatian 3,8 juta penonton. Lantas, walau dipecah menjadi dua film pun, Perahu Kertas tetap dapat banyak ‘penumpang’. Tercatat lebih dari 700 ribu penonton yang sudah nonton film tersebut. 
Menampilkan hal yang berbeda dari anggapan orang. Formula itulah yang Hanung selalu aplikasikan pada film-filmnya. Terbukti, kita yang sudah tahu ending cerita Perahu Kertas pun tetap sukses dibuat penasaran saat menonton filmnya. 
“Berbeda dengan di novel, di film saya tampilkan banyak twist.  Di Perahu Kertas saya men-delay cerita Keenan dan Kugy jadian,” cerita Hanung. 
Untuk yang sudah nonton Perahu Kertas 2, pasti setuju dong kalau konflik percintaan Kugy dan Keenan memang terasa begitu panjang, nggak sekompleks yang ada di novel. 
Yap, sebagai sutradara Hanung punya andil untuk merubah skenario. Nah, di Perahu Kertas, Hanung memang banyak menambahkan beberapa scene yang padahal nggak sudah dihapus oleh Dewi Lestari. Hmm.. nggak heran deh kalau filmnya pun jadi panjang banget. 
“Saat film sudah selesai diedit jadinya panjang sekali. Ada empat jam, akhirnya kita putuskan untuk dibagi dua. Hal ini karena konflik di film itu banyak dan terbagi menjadi dua,” ungkap Hanung 
Pro dan kontra terhadap sebuah film pasti ada dan nggak bisa dihindari. Tapi, sebagai sutradara, mental untuk menghadapinya pun harus lebih besar dibanding jabatan-jabatan inti lainnya. Pasalnya, segala kritik pasti dialamatkan untuknya. 
“Kalau ada apa-apa pada film pasti yang dikritik sutradaranya. Itu parahnya, di Perahu Kertas misalnya, ada penonton yang bilang plotnya lompat-lompat. Sebenarnya, itu bukan tanggung jawabnya sutradara melainkan penulis skenario,” tandas Hanung panjang lebar. 

Sutradara Dewanya Film 
Seperti yang sudah disebut sebelumnya, dalam sebuah proyek pembuatan film, ada tiga jabatan  inti yang menentukan arah film. Sementara produser bertanggung jawab di urusan produksi, dan penulis menentukan alur cerita, sutradara adalah orang yang merangkum seluruh aspek dalam pembuatan film. 
“Sutradara mulai bekerja setelah skenario jadi. Lalu dibuatlah director treatment untuk dibagi ke seluruh kru film. Saat produksi, sutradara menjaga agar storyboard  hidup sesuai  imajinasi. Sutradara juga ikutan editing untuk menjaga kesinambungan antar shot agar menjadi sebuah scene, merangkum jadi sequence hingga jadi film,” panjang lebar Hanung bercerita tentang job desk-nya
Saat film dibuat, sutradara adalah mandornya. Saat ditonton, filmnya menjadi pengendali perasaan dan pemikiran penonton. Begitulah besarnya pengaruh sutradara. “Sutradara dianggap dewa, atau dianggap kreator utama dari sebuah film,” simpul Hanung.
Big Job, Big Result
“Sutradara itu bisa dapat penghasilan 25-400 juta Rupiah  per proyek,” bocor Hanung sambil menambahkan kalau di Indonesia ini profesi sutradara memiliki prospek yang cerah. 
“Banyak televisi yang lahir. Baik film, sinetron, FTV, film dokumenter, iklan, reality show, itu semua membutuhkan sutradara. Jadi sangat menjanjikan bukan,” tambah Hanung. 
Nah, untuk yang tertarik untuk nyemplung ke dunia penyutradaraan, Hanung pun berbagi tips. Selain wajib punya passion yang besar, kita harus rajin-rajin menonton film dan menulis. 
“Banyak nonton film membuat kita kaya akan referensi. Sering menulis membuat kita terbiasa untuk merangkai cerita,” tutup Hanung. 

Metal Gothic: Kegelapan yang Elegan

(dimuat di Hai edisi 17, edisi khusus metal, April 2012)

Pertama kali mendengar kata gothic pasti yang terbayang di benak kita adalah situasi yang gelap, dan menyeramkan. Nah ketika kata itu disandingkan dengan metal, hasilnya adalah musik keras, berdistorsi dengan nuansa kelam dan muram. 
“Ya, gothic itu kan berasal dari kata goth yang kurang lebih artinya kepercayaan tentang kegelapan,” jelas Bowo, Gitaris band Dreamer, salah satu punggawa musik metal gothic di Indonesia. 
Nah, menurut Yani, sang frontman sekaligus gitaris Dreamer, suasana kelam dan gelap itu dibangun dengan musik-musik yang lebih mengedepankan simfoni, “Metal gothic bisa dengan mudah dicirikan dari musiknya yang sering menggunakan gitar melodi, piano atau kibor dengan nada-nada simfoni yang panjang serta suara vokal cewek yang soprano,”. Itulah mengapa dibalik kegelapannya, musik metal gothic ini punya citra yang elegan. 

Gelap di musik, gelap juga liriknya. Lagu-lagu metal gothic itu banyak  mengangkat hal-hal yang mengarah ke kegelapan, entah itu kegelapan jiwa dan emosi, perenungan tentang agama, kemanusiaan hingga ke dunia lain yang memang identik dengan horor “Lagunya ada yang bercerita tentang alam, pengorbanan, peperangan, emosi jiwa, agama, bahkan sampai ada yang berkisah tentang dunia vampir,” ungkap Bowo. 
Dilihat dari warna musiknya, metal gothic itu memang cocok banget untuk kita dengarkan saat kita butuh pelampiasan emosi, atau teman untuk merenung. Kalau kita datang menyaksikan aksi panggung band metal gothic pun cara asik untuk mengekspresikan dirinya adalah dengan cara berjingkrak-jingkrak, mengangkat tangan dan headbanging alias mengangguk-anggukan kepala. Nggak heran, banyak pecinta musik gotchic memelihara rambut gondrong biar bikin makin asyik headbanging.
Dari yang keras ke metal simfoni
Dilihat dari akarnya, metal gothic itu adalah sub-genre dari heavy metal yang diusung oleh Black Sabbath, Iron Maiden, dkk. Pengaruh Doom Metal yang sudah mulai menghadirkan nuansa kelam dengan distorsi bertempo lambat pun nggak lepas dari sejarah metal gothic ini. 
Menurut Yani, metal gothic itu berasal dari budaya Eropa, ”Metal gothic mulai tumbuh berkembang pada awal tahun 1990 di Eropa terutama Inggris.  Beberapa nama band yang bisa disebut sebagai pelopornya adalah Paradise Lost dan  Within Temptation.” 
Dari situ metal gothic pun mulai mengalami berbagai perkembangan. Metal gothic jadi cenderung bernuansa opera dan simfonis. Unsur keyboard atau piano dan biola pun ikut ditambahkan pada musik metal gothic ini. Nada-nada panjang dan simfonik yang dihasilkan oleh instrument-instrumen tersebut memang cocok untuk bikin suasana melankolis sekaligus dark. Within Temptation dan Moonspell adalah contoh nama band pelopornya. 
Kini, nama band metal gothic yang popular adalah Nightwish, Cradle of Filth, dan Lacuna Coil yang mulai berdiri pada periode 1995-2000. Nama Evanescene sebenarnya juga ikut andil dalam memopulerkan musik gothic. “Tapi mereka lebih cocok disebut sebagai rock gothic karena beat-beatnya tidak sekeras dan secepat metal,” Yani berpendapat  
Vokal ‘beauty and the beast’
Kalau biasanya metal itu memakai suara growling atau screaming, metal gothic lebih mengandalkan suara vokal yang tinggi. Nah, menurut Yani, vokal cewek pada band metal gothic adalah yang paling pas. “Metal gothic itu cocok kalau pakai vokal cewek yang soprano,” ungkap Yani. Yap, vokal di band metal gothic itu walau pun berat tapi bisa mencapai nada-nada tinggi. 
Itu lah mengapa pada sejak tahun 1995 banyak muncul metal gothic dengan vokalis cewek. Nggak jarang juga band metal gothic tetap menggunakan vokal cowok untuk melengkapi. Bahkan ada yang menyebut kalau metal gothic itu musik “beauty and the beast” karena campuran suara cewek yang jernih dan suara  cowok yang berat dan serak. Contohnya adalah Lacuna Coil, suara tinggi Cristina Scabbia sang vokalis cewek digabung dengan suara serak dan beratnya Andrea Ferro, vokalis cowok. 
Berdandan lebih demi gothic
“Gothic memang menonjol dari sisi fashion-nya,” ungkap Yani. Ya, benar banget tuh. Pasalnya, dari segi fashion pun metal gothic punya ciri tersendiri. Kalau band-band metal lain merasa cukup dengan kaos berwarna hitam, band-band gothic suka berdandan lebih dengan memakai jubah berupa jas kulit panjang, sementara personel ceweknya menggunakan dress. 
Satu hal yang menonjol dari penampilan band metal gothic adalah make up-nya. Pasalnya, baik personel cewek maupun cowok doyan memoles muka dengan make up. Misalnya menghitamkan lingkaran mata dengan eye shadows, meruncingkan alis dan si vokalis ceweknya memakai lipstick merah mencolok. Pokoknya terlihat seram deh. Nggak cukup di situ, untuk menambah kegarangan biasanya personel memakai pernak-pernik kayak sepatu boot, gelang spike dan piercing.  Tapi di beberapa tampilan, nggak jarang juga vokalis ceweknya tampil anggun biar terkesan seperti malaikat atau putri. 
Scene metal gothic di Indonesia
Dibanding genre metal lainnya, metal gothic memang rada telat masuk ke Indonesia, “Menurut pengamatan kami, Metal gothic itu baru mulai sering terdengar pada akhir 1999 hingga tahun 2004,” ungkap Bowo. 
Dreamer sendiri cocok untuk disebut sebagai salah satu pioneer musik metal gothic di Indonesia. Walau sudah terbentuk sejak tahun 1998, baru  di tahun 2000 Dreamer memantapkan diri di metal gothic. Tonggak dari perubahan itu adalah saat Dreamer merekrut Rika, vokalis ceweknya. Setahun berselang mereka pun merilis mini album Emperor of the Fading Sun. 
Pastinya Dreamer nggak sendirian memopulerkan metal gothic di Indonesia, “Di era-era awal metal gothic itu  Indonesia punya Inner Beauty, Gibraltar dan Total Tragedy,” kenang Bowo. 
Ya, Sejalan dengan Dreamer, Inneer Beauty yang terbentuk di 1998 juga ikut mengusung metal gothic. Baik Dreamer mau pun Inner Beauty pun mengalami tranformasi warna musik. Di awal terbentuknya Dreamer lebih cenderung bernuansa Heavy Metal sementara Inner Beauty memilih Doom Metal yang bertempo lambat. Pergantian personel pun kerap dialami oleh Dreamer, hingg kini mantap dengan formasi Yani (Gitar), Andine (vokal), Bowo (Lead Gitar), Bayu (bass) dan Ari (Drum. )  
Sayangnya, masih menurut Bowo, gairah metal gothic di Indonesia sedikit naik turun saat itu “Setelah tahun 2004 berasa banget tuh menurun, jarang ada panggung,” beber Bowo 
Bagusnya, kini scene metal gothic mulai punya massanya lagi, bahkan Yani pun merasa kaget melihat geliat musik gothic di Tanah Air sekarang, “Belum lama lalu gue manggung di sebuah acara gothic, dan  di sana banyak banget band-band yang belum gue tahu. Benar-benar mengejutkan,” cerita Yani. 
Ya, karena penyebaran informasi soal musik makin mudah, teman-teman di scene underground pun bisa mengenal sub-genre metal lainnya, termasuk metal gothic ini. Penggunan suara kibor simfoni serta vokal wanita yang merdu bukan lagi hal yang aneh tiap kali kita melihat band-band metal di Indonesia. Bahkan, Yani menambahkan kalau para pelaku metal gothic itu pun masih terhitung muda, “Kalau dilihat sih umurnya masih kisaran dua puluhan awal,” beber Yani. Pastinya ini adalah berita positif untuk berkembangan musik gothic di Indonesia. 
Nah sedikit berbeda dengan di luar negeri, metal gothic di Indonesia nggak seradikat dan membahas tema-tema yang mengarah ke pemujaan setan, “Kalau di Indonesia ya nggak mungkin kayak gitu, pasti nggak bakal diterima masyarakat, jadi isu yang kita angkat pun disesuaikan dengan situasi masyarakat,” tegas Yani.
Ya, dari mulai sisi kejiwaan manusia, Ketuhanan, serta peperangan lah yang menjadi tema besar di tiap liriknya. Bahkan Dreamer sendiri mengangkat cerita pewayangan yang khas dengan Indonesia “Di Album terbaru kami nanti bakal banyak berkisah tentang peperangan dari kisah wayang, seperti kisah Mahabrata, Arjuna dan lain-lain,” Yani memberi sedikit bocoran. 
Pastinya, Yani pun punya harapan besar kalau metal gothic dan metal-metal yang lainnya bisa terus hidup di Indonesia “Gue berharap, orang-orang yang hidup di scene metal bisa terus ada dan berkembang. Pastinya dengan adanya Hammersonic ini metal bisa kian didengar dan dikenal sama masyarakat luas,” tutup Yani. 

Mantap!

….
tampilan di majalah: 

Pedagang Pecel Lele pun Desainer.

ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Malesbanget.com April 2012, http://mlsbgt.de/JAwLNF
Gambar ayam jago dengan warna keemasan, lele yang sedang meliukkan tubuhnya, dan seekor bebek. Lalu disekelilingnya terdapat tulisan-tulisan penjelas dari gambar “Pecel Lele, Ayam Goreng, Nasik Uduk dan Tahu Tempe,” Tak jarang juga, nama penjualnya dibubuhi lebih besar sebagai penanda. Jenis hurufnya selalu besar dan warnanya eksentrik, biasanya kemerahan.
Coba visualisasikan kalimat tersebut dalam benak kalian, dan sebut hal apa yang muncul. Pasti gambaran warung tenda dipinggir jalan dengan kursi plastik dan suara gemuruh minyak yang tengah mengepung lele dan ayam yang akan muncul. Ya, itu adalah warung tenda Pecel Lele. 
Entah siapa yang memulai, tapi tata spanduk semua warung tenda pecel lele di seluruh penjuru Indonesia selalu begitu bentuknya. Kalau kita amati, spanduk sederhana itu sudah memuat unsur-unsur dalam desain grafis: tipografi dalam bentuk dan warna huruf-huruf; ilustrasi untuk menggambarkan apa yang dijualnya dan layout alias tata letak unsur-unsur tersebut.  Walau terlihat terlalu ramai dengan penggunaan banyaknya jenis huruf tapi desain spanduk seperti ini sudah tertanam di benak masyarakat sebagai bagian dari brand pecel lele. 

Ini adalah bukti bahwa desain grafis itu tidak melulu dilakukan oleh para pekerja di perusahaan kreatif saja, tetapi juga oleh semua orang termasuk kita. Untuk bisa menemukan karya-karya desain pun kita tidak mesti mencarinya di situs-situs dan majalah yang seni dan desain. Cukup lihat sekeliling, kita akan dengan mudah menemukannya. 
Sebenarnya yang disebut sebagai desain itu yang seperti apa sih? 
Gampangnya, desain dapat diartikan sebagai bagian dari seni yang berupa rancangan estetis guna mencapai  tujuan atau fungsi tertentu. Kata fungsi ini perlu digarisbawahi. Tanpa bermaksud untuk mengotak-kotakkan, tapi ada perbedaan makna desain dengan makna ‘seni rupa, yang berkembang di masyarakat, dan ‘fungsi’ menjadi kata kuncinya. 
Eka Sofyan Rizal, salah satu anggota aktif forum Desain Grafis Indonesia menyatakan lewat salah satu tulisannya bahwa desain itu adalah seni terapan. Desain berorientasi pada kegunaan yang berlaku untuk umum. Itu lah sebabnya, desain pun dibagi lagi cabangnya sesuai kegunaannya, diantaranya adalah desain grafis, desain interior, dan desain produk. Sementara seni rupa dapat dikonotasikan sebagai ekpresi yang bersifat indivualis, menekankan pada subjektifitas dari si pembuatnya. 
Seperti yang sudah disebut sebelumnya, desain itu ada dimana-mana. Begitu juga dalam keseharian kita, dari mulai tempat tidur, sprei kasur, baju, dan perlengkapan mandi dibuat dengan desain. Desain dan kehidupan itu sudah tidak dipisahkan. Kehidupan membutuhkan desain!
Coba bayangkan kalau menciduk air tanpa piranti bernama gayung, pasti hingga kini  cara kita mandi ialah dengan menceburkan diri ke dalam air. Sangat boros dan tidak efektif bukan? Tapi, dengan desain, materi plastik bisa dibentuk sedemikian rupa hingga terciptalah gayung. Desain mencipta teknologi untuk mempermudah kehidupan. 
Tak hanya untuk mempermudah saja, desain juga mesti bisa menghadirkan estetika. Itulah mengapa keindahan dan keberaturan tidak bisa lepas dari produk desain. Contohnya adalah pakaian, jika yang dikedepankan hanya aspek fungsinya saja, maka yang ada ialah lembaran kain alakadarnya untuk sekedar menutupi badan. Tapi melalui desain – dalam hal ini desain fesyen – fungsi estetika membuat lembaran kain penutup badan menjadi enak dilihat dan enak dipakai. Pakaian pun jadi beragam bentuk dan gayanya. Dari mulai kaos, jas, kemeja hingga kebaya. Menariknya lagi, dipadu dengan nilai budaya dan sosial, tiap ragam pakaian tersebut jadi memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kaos digunakan untuk kegiatan yang kasual dan jas untuk acara formal dan resmi. 
Rasanya, membicarakan desain yang ada di kehidupan sehari-hari kita tidak akan ada habis-habisnya. Belum lagi desain yang bertebaran di jalanan kota. Iklan pada baliho-baliho dan media massa seperti Koran dan televise hingga media sederhana seperti spanduk warung tenda pecel lele  sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Mereka berlomba-lomba meraih atensi masyarkat dan berkomunikasi lewat bahasa visual untuk mempengaruhi. Ihwal seperti ini biasa disebut sebagai desain komunikasi visual.
Desain perlu diapresiasi 
 Desain sudah memenuhi segala aspek yang dibutuhkan oleh kehidupan kita. Tapi apakah kita sudah memenuhi apa yang dibutuhkan desain? Hal ini lah yang harus terus kita ingat. Kita perlu mengapresiasi kehadiran desain dalam keseharian kita. Apresiasi ini dapat kita terapkan dengan menyadari sepenuhnya bahwa benda di keseharian kita itu dibuat dengan desain, dan tidak menganggapnya sebagai barang konsumsi belaka. 
Rasanya, literasi visual menjadi hal yang wajib dimiliki bagi masyarakat, terutama kita, masyarakat urban yang hidup di tengah belantara visual. Apresiasi terhadap objek visual yang bertebaran juga bisa dilakukan dengan mencermatinya. Menelaah makna dibalik tiap karya desain yang kita lihat dan gunakan. Dengan adanya interaksi antara manusia dan desain itu, perkembangan desain dan ihwal visual lainnya akan menjadi semakin sehat.