Masa Depan Cerah Tren Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Tren Kamera Lama

Advertisements

Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

1

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

Continue reading Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Bisnis Plesetan (nan Slengean) a la Kamengski


Dengan plesetan visual, Kamengski membuat pemuda urban gemar dengan Firdaus Oil, Meggy Z dan Nike Ardila
Kita tentu sepakat, bahwa di kalangan pemuda kelas menengah macam kita-kita ini, produk bermerk Firdaus Oil pasti ditampik. Kita menyadari keberadaannya sebagai minyak penumbuh bulu, tapi sangat jarang sekali menggunakannya. Begitu juga Meggy Z. Agaknya, jarang ada pemuda kekinian yang peduli dengan pedangdut Anggur Merah tersebut. Sebenarnya, Firdaus Oil dan Meggy Z tak beda dengan Pomade dan Elvis Presley. Semuanya bagian dari budaya popular. Hanya saja, mereka ngepop di dua kelas masyarakat yang berbeda. 
Hingga hadirlah Kamengski, lini usaha yang dalam konten baju dagangannya melakukan culture jamming bergaya plesetan visual. Dengan bahasa visual, Kamengski mencampur-adukkan budaya popular lintas kelas dan lintas regional—budaya pop global dicampur dengan yang lokal. Gambar pria brewok pada logo Firdaus Oil dibuang, diganti dengan rupa wajah tokoh yang sama-sama berbulu, tetapi datang dari budaya popular kelas berbeda. Diambillah gambar Chewbecca, karakter di Star Wars yang tubuhnya dipenuhi rambut, untuk menjelaskan merk Firdaus Oil. Begitu juga dengan Meggy Z. Kamengski menyematkan gambarnya di artwork untuk lagu “Holy War… The Punisment Due” milik Megadeth. Bukankah Meggy Z dan Megadeth nyaris sama bunyinya jika dilafalkan? 
“Anjr*t, kepikiran aja nih yang bikin. Hahaha,” komentar saya ketika pertama kali melihat produk  Kamengski. Saya yakin, kekaguman pemuda-pemuda lain akan Kamengski dimulai dengan ekspresi yang tak jauh beda seperti saya itu. 
Dimulai Dari Hasrat Berkarya dan Bercanda
Bendera Kamengski berkibar sejak 2009. Penggagasnya adalah Sulaiman Said dan Aditya Fachrizal (Godit). Tapi sekarang, Said menjadi satu-satunya biang keladi Kamengski. Pemuda 26 tahun lulusan Desain Komunikasi Visual, IKJ ini punya misi sederhana saat mendirikan Kamengski, “gue pengin karya gue bisa dijadiin kaus dan dipakai banyak orang.”
Ingin tahu asal nama Kamengski? siap-siap heran. Saat Said dan Godit memikirkan nama brand, lewatlah seniornya di kampus yang bernama Meang. Said biasa memanggilnya Ka Meang. “Biar lebih asik, ditambahin imbuhan -ski deh,” kata Said. Jadilah Kamengski. 
Walau mengangkat becandaan di karyanya, Said tak main-main dengan motivasi berkayanya itu. Ia pun serius mengumpulkan modal. Lulus kuliah, Said pun bekerja menjadi desainer grafis kantoran. Bukan untuk menetap, melainkan sekadar untuk mengumpulkan modal. Sambil bekerja, sambil ia terus jalani Kamengski. Satu persatu ide plesetan visual diproduksinya dan diperlihatkan ke teman-teman.
Mendulang respon yang baik, Said kian gencar membesarkan usaha. Ia pun nekat meminjam uang ke bank untuk modalnya membeli mesin cetak direct to garmen (DTG) seharga Rp 15 juta agar bisa memproduksi kaus satuan dengan mudah. Daya produksi pun meningkat sejalan dengan meningkat pula permintaan pasar. Tak disangka, pinjaman bank yang seharusnya diangsur setahun sudah bisa dilunasi Said hanya dalam jangka enam bulan. “Waktu itu, gara-gara lebaranan, kaus laku banyak banget. Pinjaman pun gue lunasin terus gue resign dari kantor,” kenang Said. 
Sudah sangat banyak sekali rupa culture jamming yang turut  meramaikan pergaulan muda-mudi perkotaan gara-gara ulah Kamengski. Selain Chewbecca di logo Firdaus Oil dan Meggy Z di album Megadeth, beberapa produk pamor dari Kamengski lainnya adalah baju bergambar cupang slayer yang disandingkan dengan logo band Slayers, tokoh fiksi Detektif Conan disandingkan dengan logo kamera Canon, dan logo sepatu Nike yang ditambahkan tulisan ‘Ardila’. 
Laku keras, kaus-kaus plesetan Kamengski pun viral di ranah online. Hingga tulisan ini dibuat, Kamengski memiliki 3750 pengikut di Twitter, 2573 di Facebook, dan  12397 di Instagram. Kini, Kamengski juga sudah punya markas. Di sebuah rumah mini daerah Lenteng Agung, Said bermukim. Di sana pulalah ia sendiri bekerja mengurusi produksi sekaligus penjualan Kamengski. Modal utamanya: mesin cetak DTG, dua unit PC, koneksi internet dan smartphone. Tak jauh dari tempat tinggalnya, Said juga menyewa toko. Kamengski pun menjadi distro. 
Soal omzet, jangan ditanya. Tiap bulan, kaus Kamengski yang dihargai Rp 115-150 ribu ini bisa terjual setidaknya seratus potong. Belum lagi jika Kamengski ikut buka lapak di bazar. “Minimal empat juta gue kantongin tiap bazar. Paling heboh sih waktu Holy Market di ruangrupa. Belasan juta deh gue dapet,” cerita Said senang. 

Sederhana Dalam Pemasaran. Santai dalam Penjualan

Said memilih untuk sederhana dalam pemasaran dan santai dalam penjualan. Untuk pemasaran, dia hanya mengandalkan akun-akun media sosialnya, itu pun bentuk promosinya sederhana dan tetap bernada bercanda. Di kolom bio Instagramnya saja, Kamengski mencantumkan deskripsi yang nyeleneh bukan main. “Rajin Ibadah, Ramah Tamah, Baik Hati, Murah Senyum, dan Tidak Sombong, mau curhat hubungi 081317722721.”
Etalase digitalnya di Instagram pun tak mewah, hanya berupa foto kaus, tanpa model,  itu pun difoto dengan kamera hape. Tidak seperti kebanyakan online shop yang tampil elegan dan tak jarang berhamburan hashtag.
Andalan promosi Kamengski lainnya adalah jaringan pertemanan. Berada di scene seni Jakarta juga membawa keuntungan bagi Said. Beberapa koleganya yang lebih dulu diikuti banyak followers, kerap mempost foto dirinya memakai baju Kamengski. Dari situ, plesetan visual khas Kamengski kian viral. 
 “Gue juga pernah coba ajak kerja sama akun humor di Instagram. Gue isi konten di situ. Lumayan. Sekali post, bisa nambah follower sampai 500,” cerita Said. 
Soal penjualan, sebenarnya, bisa saja Kamengski diikutkan ke bazar-bazar akbar seperti Jakcloth atau Brightspot. Tapi Said memilih untuk pelan-pelan. “Gue nggak mau agresif gitu ah. Lagian kalau gitu jadi nggak lux lagi produknya,” katanya. Beberapa temen yang ingin berinvenstasi juga pernah datang ke Said. Tapi lagi-lagi, Said belum menggubris satu pun tawarannya.  
 
Plesetan nggak ada matinya”

Untuk pengikut brand Kamengski sejak awal berdiri, pasti akan tahu bahwa di awal pendiriannya, gambar-gambar di kausnya lebih nyeni dengan menampilkan berbagai karya buatannya dan beberapa teman kampusnya. Namun, tak lama sejak itu akhirnya berbelok arah, dan memilih mengangkat plesetan visual saja hingga sekarang. 
Kenapa plesetan?
“Karena gue susah serius. Gue mau keliatan keren tapi udah pasti kalah keren. Jadi, mending katro aja deh. Jadi nggak mutu aja. Eh, malah banyak yang senang,” ujar Said enteng. 
Selain itu, menurut Said, bisnis parodi seperti yang dilakukannya itu tak akan pernah mati. Project Pop dan grup lawak Warkop saja, sebut Said, hingga kini masih terasa lucunya jika kita menyaksikan karya-karyanya. 
“Parodi, apalagi dalam bentuk visual pasti nggak gampang basi,” ujar pemuda yang juga merilis novel grafis Munir, Juli lalu. 
Ekspansi Dengan Berkolaborasi
Belum lama ini, Kamengski merilis kaus yang sama sekali tak mengandung unsur plesetannya. Gambarnya adalah sekolah anak punk sedang menyalami tangan ibunya. Di produk itu, Kamengski mengajak  Mufti Priyanka, ilustrator yang lebih dikenal dengan nama Amenkcoy. 
Amenkcoy, adalah satu dari beberapa nama seniman muda yang pernah diajak Kamengski untuk berkolaborasi. Bagi Said, Kamengski sangat terbuka dengan kolaborasi. Bahkan ia membutuhkannya agar menambah variasi produknya. “Kolaborasi penting biar kita bisa bersinergi dan saling bantu. Mau kolaborasi di media apa pun ayo-ayo aja,” jelas Said. 
Selain Kaus, Kamengski juga akan menambah jenis produknya.Selain pernah membuat gantungan baju berbentuk senapan, Kamengski juga berencana mengeluarkan casing smartphone dalam waktu dekat ini. Tentu, dengan desain yang khas dan unik.
“Gue nggak nyangka juga sih Kamengski udah segede ini. Apalagi gue nggak ada basic bisnis. Gue cuma menjalani ya karena gue suka dan gue senang,” tutup Said. 
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Oktober. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  Berikut inilah bukti penampakannya: 


(foto: Dok. Kamengski )

Self-Published Your Photobook and Be Happy

Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 

Ridzki Noviansyah, seorang penikmat sekaligus pengamat fotografi cum co-founder Jakarta Photobook Club bahkan bercerita bahwa scene buku foto di Indonesia itu belum begitu hidup. “Sejak tahun 50-an, photobook Indonesia itu paling cuma ada 150-an buku. Sementara di Jerman setiap tahun bisa ada 150-an photobook yang terbit,” ujarnya. Data Ridzki tersebut mengacu dari pameran pemenang dan nominasi Penghargaan Buku Fotografi Terbaik Jerman 2013 yang digelar oleh Goethe Institute. 
Kalau melihat animo masyarakat akan fotografi yang terus meningkat, penerbitan buku foto itu perlu digalakkan demi menyeimbangkan semangat berfotografi masyarakat. Jika selama ini aspek produksi  dan distribusi (baca: pamer) foto yang paling sering digembar-gemborkan, maka penerbitan buku foto akan memicu semangat mengonsumsi serta mengapresiasi foto. Jika siklus produksi-konsumsi dalam ekosistem fotografi ini seimbang, geliat fotografi Indonesia pasti akan terus tumbuh dan semakin seru.

Untungnya, beberapa fotografer, baik dari kalangan hobi atau profesional, mulai memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi, media sosial dan industri percetakan. Satu persatu fotografer kemudian merancang, mendesain, mencetak lalu menjual buku fotonya secara independen, tanpa menunggu ‘ajakan’ dari penerbit besar. Tanpa mengandalkan penjualan di toko buku mayor. Kini, jika  rajin berjejaring di forum maya para pecinta fotografi, kita akan sering sekali disuguhi posting seorang fotografer yang sedang memperkenalkan buku fotonya. 
Aji Susanto Anom misalnya, fotografer muda asal kota Solo ini pada 13 September 2013 lalu merilis buku fotonya secara independen. Aji mengumpulkan foto-fotonya yang menggunakan pendekatan street photography merespon kejadian-kejadian sehari-hari di kota tempat tinggalnya. Buku berukuran sedikit lebih besar dari kartu pos itu kemudian ia beri judul Nothing Personal.

“Aku pengin menerbitkan buku karena aku pengin nyumbang karya dalam bentuk yang lebih nyata buat scene fotografi Indonesia,” tegas Aji yang juga menganggap menerbitkan buku foto dengan semangat Do It Yourself itu lebih mengasyikkan karena kita bisa menunjukkan idealisme dan cara berekspresi dengan sangat bebas. 
Selain Aji, ada juga Rian Afriadi, fotografer hobyist yang menggeluti fotografi pendekatan dokumenter subjektif yang  kini sedang merencanakan penerbitan buku fotonya. Bagi Rian, menerbitkan buku foto itu adalah  art statement. “Kalau gue lebih sebagai art statement dan doing it for love. Bukan demi uang. Apalagi hitung-hitungan profit bagi fotografer indie tentunya tidak terlalu wow,” ungkap Rian.
Bermodal Konsep dan Tekad
Berbicara soal langkah penerbitan buku foto, Ridzki menegaskan bahwa ketika kita ingin menerbitkan buku foto, maka yang paling perlu lakukan adalah mematangkan konsep dari foto-foto kita itu. “Jangan terlalu buru-buru apalagi merasa dikejar untuk menerbitkan photobook. Pematangan konsep dan tema foto itu lebih dibutuhkan,” ungkap Ridzki yang juga merekomendasikan kita untuk melihat sebuah photobook independen tentang joki cilik di pacuan kuda di NTB yang pengumpulan fotonya digarap oleh Romi Perbawa selama empat tahun. 
Matang di konsep dan tema, langkah selanjutnya adalah mendesain dan mencetak buku. Untuk tahap ini, kita bisa mengerjakan sendiri seluruh alur pengerjaan buku sendiri seperti yang dilakukan oleh Aji. Lulusan jurusan Desain Grafis ini mengerjakan sendiri desain tata letak, penulisan, pemilihan kertas dan pencetakan hingga penjilidan buku. 
proses pembuatan buku Nothing Personal. (foto dicomot dari FB Aji Susanto Anom)
Namun, jika belum menguasai teknik produksi buku, tak perlu risau. Dengan modal tekad yang kuat, kita pasti tetap bisa membuatnya, dengan menggunakan bantuan kawan misalnya, seperti yang dilakukan oleh Rian. Ia banyak berkonsultasi dengan desainer, teman-temannya yang sudah pernah berurusan dengan pencetakan buku, penulis dan editor.

O ya, metode kolaborasi juga bisa jadi opsi. Terutama jika kita punya kawan yang pendekatan fotografinya sama. Astrid Prasestianti dan Renaldy Fernando misalnya, yang pada 2012 lalu merilis buku berisi kumpulan foto-foto terbaiknya dari kamera analog. Buku yang diberi judul 88 itu dikerjakan secara kolaboratif. Setelah foto-foto dipilih bersama, Astrid yang sehari-harinya bekerja sebagai desainer mengerjakan urusan desain buku, sementara Renaldy banyak berperan di urusan promosi dan penjualan.
Satu hal lagi yang mesti diperhatikan dalam penerbitan buku foto adalah penyuntingan yang mencakup pemilihan foto, penentuan alur dan urutan penempatan foto. Dalam tahap ini, menurut Ridzki, fotografer memerlukan second opinion agar penyuntingan foto tak melulu mengikuti ego fotografer.
Pendapat Rian juga senada dengan Ridzki, katanya, “Si fotografer cenderung punya bias terhadap foto-fotonya. Ada kalanya kita ingin mempertahankan foto favorit padahal di mata viewer, foto itu malah dianggap merusak alur photobook.
Nah, soal pencetakan, seperti yang sudah kita tahu, kini jasa digital printing sudah menjamur. Semua pasti menyanggupi layanan cetak buku foto. Harga produksinya pun tak akan begitu mahal, apalagi jika kita langsung cetak banyak. Cukup siapkan file siap cetak, pilihan kertas dan jilidnya, selanjutnya kita serahkan ke para petugas percetakan.

Promosi dan Penjualan Bisa Tanpa Modal
Lewat media sosial kita bisa sangat mudah memperkenalkan buku foto kita dan menjualnya. Syaratnya pun simpel, cukup rajin berjejaring dengan forum-forum (group) pehobi fotografer dan pecinta buku foto. Setelahnya, cukup dengan membuat posting promosi yang menarik, kita sudah bisa mendapatkan peminat. 
Enaknya lagi, kita bahkan tak butuh banyak modal banyak untuk menerbitkan buku foto. Seperti yang dilakukan oleh Aji, dan duo Astrid-Renaldy yang menerapkan sistem pre-order. Jadi, kita hanya perlu modal untuk mencetak dummy, lalu kita promosikan via media sosial dan mengajak teman-teman yang berminat membeli untuk membayar uang mukanya terlebih dahulu. Uang muka itulah yang menjadi modal kita mencetak buku. Aji dan duo Astrid-Renaldy pun bisa mencapai target penjualan seperti yang diharapkannya. 
“Aku pertama cuma berencana bikin 100 buku, tapi ternyata permintaannya sampai 150 buku. Lumayan lah,” cerita Aji. 
Tentu, keberhasilan penjualan buku foto ini juga berbanding lurus dengan seberapa besar jaringan pecinta fotografi yang sudah dibangun si fotografer. “Pasar photobook itu sebenernya kecil. Tapi tergantung dengan networking si fotografernya juga,” ujar Ridzki. 
Perlunya Meningkatkan Pencapaian

Tren photobook ini jelas menjadi kabar baik bagi scene fotografi Indonesia. Namun, walau begitu, seperti yang disebutkan Ridzki, kita masih perlu juga meningkatkan pencapaiannya. Pertama, buku foto independen baiknya tak hanya disasar ke lingkup jaringan pertemanan di media sosial saja, melainkan ke segmen yang lebih luas lagi. “Para penerbit buku foto independen di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura itu perhitungan pasarnya sudah nyebar ke negeri-negeri lainnya,” ungkap Ridzki. 
Selain itu, sekali lagi Ridzki mengingatkan jika kita ingin menjual buku foto, kita perlu mematangkan konsep atau setidaknya punya alasan kenapa khalayak mau membeli buku kita tersebut. “Karena itu, artist talks setelah buku foto dirilis perlu digelar sebagai sarana bedah buku dan ajang sharing cerita di balik pembuatan buku foto tersebut,” tambah Ridzki lagi. 
Nah, biar makin semangat, selalu ingatlah juga ungkapan “foto yang baik adalah foto yang dicetak.” Walau pun sekarang kita bisa mudah melihat foto di layar gadget, tetapi sensasi melihat foto kita tercetak dengan baik di kertas pilihan, apalagi dalam bentuk buku itu tak akan ada yang bisa menggantikannya. Selalu membahagiakan. Karena itulah, Mari kita cetak buku foto kita sendiri, seperti saran Aji jika kita ingin  menerbitkan buku foto maka, “Just do it! aja.”
Selamat mencoba. 😀
=======
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Juli. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  

Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama

Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda.
Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.
Tak ada catatan pasti kapan Kassian pertama kali berlatih fotografi, tapi jika dilihat dari waktu tinggal Simon di Yogyakarta, maka Kassian mulai menggeluti fotografi pada kisaran 1861-1871.
Kassian tak salah jika kita anggap istimewa. Pertama, Kassian berkesempatan memiliki suatu alat penanda modernitas yang saat itu begitu mahal harganya dan hanya biasa dimiliki oleh warga negara asing. Kedua, Kassian  adalah penanda pertama kali dimulainya eksplorasi fotografis Indonesia oleh pribumi. Tapi coba lihat foto-fotonya, mungkin kalian akan punya kegelisahan yang sama seperti RA Kartini.
”Kerap kali benar saya ingin memiliki alat foto dan dapat memotretnya kalau kami melihat hal-hal yang aneh pada bangsa kami, yang tidak difahami oleh orang Eropah. Banyak benar yang ingin kami tulis disertai gambar-gambar, yang kiranya dapat memberi gambaran yang murni kepada orang Eropah tentang kami, bangsa Jawa,” 
Itu adalah sepotong tulisan Kartini dalam dalam suratnya yang ditujukan untuk Mr. J.h. Abendanon tanggal 1 Januari 1903. Saat itu sudah lebih dari tiga puluh tahun Kassian memotret dan pastinya foto-fotonya pun sudah menyebar luas, termasuk (mungkin) ke daerah tempat Kartini tinggal. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Kartini masih merasa perlu membuat foto yang memberi gambaran murni tentang bangsa Jawa? Padahal sudah ada Kassian, pribumi yang membuat foto Tanah Airnya sendiri.
Dari situ, bisa muncul sebuah jawaban bahwa memang Kassian tidak melihat Indonesia secara kritis. Indonesia dalam foto-foto Kassian selalu terlihat sangat indah, kebanyakan merupakan foto pictorial – fotografi yang mengedepankan nilai estetika. Kassian memotret Sultan dengan busana kesultanannya yang megah dan tak jarang dilengkapi atribut-atribut keeropaan, perempuan-perempuan Jawa yang didandani hingga terlihat begitu eksotis, kelompok yang sedang membawakan tarian tradisional, foto arsitektural bangunan-bangunan bersejarah Indonesia dan foto-foto lainnya, seperti foto potret di studio foto komersilnya.
Representasi Indonesia dalam foto-fotonya Kassian adalah baku, mewah, eksotis, dan Jawa sekali. Pemandangan keseharian masyarakat Yogya, seperti apa masyarakat bekerja, apa yang terjadi di rumah rakyat kelas bawah atau suasana penindasan oleh para penjajah tak akan kita tahu dalam foto-foto dari kamera  Kassian.
Tentu, fotografi itu tak bisa lepas dari subjektivitas. Fotografer bebas menentukan bagaimana, apa, dan siapa yang akan difotonya Tapi, sebagai pemirsa, kita juga juga tak salah mempertanyakan asal-usul subjektivitas Kassian. Mari kita telusuri
Pribumi Rasa Eropa
Kassian lahir di Yogyakarta pada 15 Januari 1845. Cephas adalah nama baptisnya yang mulai ditambahkan pada namanya sejak 1860. Sudah sejak kecil Kassian dekat dengan  Belanda. Ia pernah tinggal bersama keluarga Philips Steven, seorang Belanda yang menjadi guru agama Kassian di Purworejo. Selain itu, sebagai seorang Kristen, Kassian juga kian mudah lekat dengan pergaulan Belanda.
Pada 1860an Kassian kembali ke Yogya dan bekerja di lingkungan Keraton. Di sanalah ia belajar fotografi kepada Simon. Setelah paham pengoprasian kamera, Kassian ditunjuk menjadi jurufoto pemerintah oleh Sultan Hamengkubuwono VI pada kisaran 1877. Hingga pada kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana VII Kassian mulai banyak berkarya.
Karier fotografi Cephas pun berjalan dalam naungan Belanda. Kassian banyak bekerja untuk Isaac Groneman, seorang dokter kebangsaan Belanda yang juga memiliki minat besar pada sejarah dan budaya Jawa. Bersama Isaac Groneman, Kassian kerap melakukan penelitian. Kassian membantu pendokumentasian objek-objek penelitian Isaac. Sejak itu, foto-foto Kassian banyak bermunculan di sejumlah publikasi seperti surat kabar, buku-buku kebudayaan, dan dokumen arsip yang dipesan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Untuk pekerjaan arkeologi dan kebudayaannya itu Kassian memotret bangunan-bangunan bersejarah seperti istana air Taman Sari, Candi Borobudur, Komplek Candi Loro Jonggrang di Prambanan dan kumpulan adegan tari-tari tradisional yang ada di Jawa.  Dalam beberapa proyek, Sem Cephas, anak Kassian juga ikut membantu pemotretan.
Tak lama setelah banyak bekerja memotret untuk Belanda, Kassian pun menjadi bukan orang Jawa biasa lagi. Apalagi jika kita tahu bahwa sejak 1891 pun Kasian bersama dua anaknya, Sem dan Fares berhasil mendapatkan pengakuan status hukum sebagai orang Eropa oleh Gubernur Jendral. Tentu, status barunya itu membuat Kassian tidak diperlakukan berdasarkan hukum pribumi lagi melainkan hukum Eropa.
Di luar pekerjaan penelitianya itu, Kassian juga sebenarnya memotret atas namanya sendiri. Dengan mengandalkan Daguerrotype-nya, Kassian juga ikut bersaing dengan fotografer-fotografer Belanda lainnya dengan membuka studio foto di rumahnya di Lodji Ketjil Wetan yang kini menjadi Jalan Mayor Suryotomo. Kassian tak tanggung-tanggung mempromosikan usahanya. Saat di Yogya pertama kali terbit surat kabar yang bernama Mataram, Cephas memasang iklan penawaran jasa fotonya di edisi pertama surat kabar itu. Orang-orang pun berdatangan untuk dibuatkan foto potret, baik itu potret sendiri atau pun bersama keluarganya. Di luar studionya, Cephas juga sering membuat foto bangunan, jalanan dan monumen kuno.
Setelah sekian lama menggunakan Daguerrotype, akhirnya pada 1886 Kassian pun punya mainan baru, yaitu apa yang disebut photographie instantanee, kamera yang lebih ringkas yang mampu mencuplik cahaya dengan kecepatan 1/400 detik. Dengan begitu foto, terutama foto potret, lebih mudah dibuat. Tidak seperti sebelumnya yang mengharuskan objek yang difoto tak boleh bergerak untuk beberapa detik. Sejak teknologi fotografi mulai berkemang saat itu, foto-foto Kassian juga mulai direproduksi bukan hanya untuk arsip saja, tetapi juga untuk dijadikan official merchandise Kesultanan dan dijual dalam bentuk kartu pos ataupun album kumpulan foto.
Keterlibatan Kassian dalam proyek-proyek dari pemerintah Belanda ditambah dengan kedekatannya dengan Kesultanan Yogya kian melambungkan reputasi Kassian. Buktinya, Kassian ditunjuk sebagai anggota luar biasa oleh Masyarakat Seni dan Ilmiah Batavia. Kemudian, Saat Raja Chulangkorn dari Thailand  yang pernah berkunjung ke Yogya tahun 1896 dan menghadiahinya tiga buah kancing permata. Lalu, Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda memberi penghargaan medali emas untuk Kassian atas kerjanya melestarikan peninggalan arkeologis dan budaya Jawa.
Kita boleh berbangga hati mendengar reputasi serta prestasi Kassian dalam merekam Indonesia. Tapi kita juga perlu tahu, bahwa saat itu, fotografi juga didominasi oleh kepentingan politik, komersial selain juga ilmu pengetahuan. Bangsa Eropa yang menjajah suatu negara menggunakan fotografi untuk mengumpulkan inventaris visual atas daerah jajahannya. Foto-fotonya sengaja dibuat untuk menunjukkan eksotisme, keindahan dan keunikan budaya daerah jajahannya.
Kassian yang sudah begitu akrab dengan budaya Eropa dan memang berada dilingkungan masyarakat kelas atas pun mengikuti perspektif tersebut dalam memotret Jawa. Tak salah rasanya jika kita simpulkan bahwa sejak awal motivasi Kassian memotret adalah untuk kepentingan Eropa. Kassian mengenalkan Jawa kepada mata Eropa dan masyarakat kelas atas lainnya. Jawa yang dipotret Kassian adalah Jawa sebagai objek, Jawa yang dibuat dengan setting, tidak melihat Jawa  bukan sebagai subjek yang juga memiliki kuasa, yang bisa bebas dan tidak dipaksakan nilai-nilai, seperti keluguan, kecantikan dan eksotisme.
Barangkali juga karena ongkos pemotretan saat itu sangat mahal, Kassian pun mau tak mau mengedepankan nalar ekonominya ketimbang jiwa kritisnya. Jadi, Kassian hanya melakukan pemotretan atas sesuatu yang kiranya dapat menggantikan biaya pemotretan dan menghasilkan keuntungan. Karena itu sasaran pemirsa karya-karya fotonya adalah mereka yang Eropa dan masyarakat kelas atas yang memiliki cukup uang, bukan untuk rakyat Indonesia dari kelas bawah, dan kalangan-kalangan menengah yang nasionalis, seperti ibu kita Kartini.
***
Tulisan ini merupakan versi belum diedit untuk zine The Future of The Past. Perlu saya sebutkan juga sepertinya bahwa saya ini penulis yang baru belajar. Penulusuran serta analisis foto-foto Kassian Cephas di sini juga salah satu bentuk pembelajaran saya. Jadi kalau menemukan kejanggalan, ketidaktepatan analisis atau kesalahan menyebut nama, tahun, atau tempat, mohon beri tahu saya yah. Terima kasih.  😀
sumber rujukan: 
Artikel“Kassian Cephas, Juru foto Pribumi Pertama” oleh Budi Darmawan (www.seribukata.com)
Artikel “Kassian Cephas Hanya Membuat Foto-foto Indah” OlehNurainiJuliastutipada
Buku “Membaca Fotografi Potret: Teori, Wacana, dan Praktik” oleh Irwandi dan M. FajarApriyanto
*** 
Penampakan di The Future of The Past edisi 2: 

Advertorial Indosat: Saatnya Lupakan BBM Pending

HAI magazine edisi 46, November 2012 
Saatnya Lupakan BBM Pending
Lewat paket Blackberry Premium nggak ada lagi cerita BBM pending atau browsing lemot. Semua lancar!
Setuju dong kalau koneksi internet pada ponsel Blackberry kita itu adalah yang penting? Apalagi sekarang ini, seluruh informasi dan komunikasi didapat dari media sosial yang butuh koneksi internet. Sudah pasti, koneksi yang lemot bisa jadi bencana. 
Coba bayangkan deh, tim sepak bola kesayanganmu sedang bermain, sementara kamu jauh dari televisi, satu-satunya akses untuk update skor pertandingan adalah Twitter. Nah, nggak enak kan rasanya kalau tiba-tiba koneksi Blackberry kamu lemah, kamu jadi nggak bisa mengikuti pertandingan deh. Itu masih mending, kalau kita sedang janjian sama pacar lalu pesan BBM kita pending, pasti bisa membawa masalah besar, tuh. Sang pacar bisa ngambek seharian. 
Tapi tenang dulu, bencana seperti itu nggak bakal terjadi lagi, karena Indosat memberikan kita penyelamatnya. Sekarang Indosat punya program dan paket berlangganan Blackberry yang asik banget. Namanya Blackberry Premium. Paket ini selalu siap melayani kebutuhan koneksi internet BB Full Service selama 30 hari dengan sinyal yang jauh lebih optimal. 
Upaya peningkatan serta modernisasi jaringan sudah dilakukan Indosat demi memuaskan kebutuhan kita para penggunanya. Jadi nggak ada lagi tuh yang namanya BBM pending, browser lemot atau ketinggalan update cerita terkini dari media sosial. 
Asiknya lagi, dengan tarif Rp 149.000,- perbulan, Indosat juga memberikan banyak gratisan. Selain gratis internetan hingga 500 MB dengan kecepatan mencapai 7,2 Mbps kita juga sudah sekaligus mendapatkan akses gratis di seluruh spot Super WiFi-nya Indosat. 
Untuk yang belum tahu, Indosat Super Wi-Fi adalah layanan akses internet pada handset dan tablet dengan koneksi Wi-Fi Hotspot Indosat yang sekarang ini udah tersebar di lebih dari 1000 titik dengan kecepatan hingga 20 Mbps. Asik, kan? 
Cukup? Belum. Paket Blackberry Premium ini masih menyimpan banyak keuntungan untuk kita. Selain banyak keuntungan dalam internetan, kita juga bakal dapat gratis 100 menit nelpon dan 100 sms ke teman-teman kita yang pakai Indosat juga.  
Hmm… kayaknya sederetan keuntungan yang bisa kita dapat dari paket Blackberry Premium ini sangat sayang untuk kita biarkan begitu saja. So, ayo segera manfaatkan paket ini dengan menekan *123*6*1*2*4#. Kabar baiknya, paket teranyar ini berlaku untuk pelanggan lama mau pun baru selamanya.