Cara Bayi Melepas Duka

Akang, keponakan saya yang berusia dua tahun, ikut saya dan ibunya mengantar kakek-neneknya ke bandara pagi tadi. Ia senang betul ketika tiba di bandara. Melihat troli pengangkut koper, ia menolak diangkat didudukkan  di sana. Akang ingin ikut mendorong troli. Di bandara Soetta terminal 3 yang megah nan nyaman itu, Akang juga berlari-larian, apalagi ketika melihat ada taman kecil di tengah-tengah. Neneknya ikut girang melihat Akang yang aktif dan periang itu. Beberapa kali ia mengeluarkan ponsel lalu memfoto akang dan aksinya.

Hingga jam penunjukkan pukul 08.00.  Satu jam sebelum mamah-papah saya itu harus masuk ke ruang tunggu pesawat. Mamah sudah tahu betul bahwa Akang akan menangis begitu pisah. Akang memang lengket banget sama mamah. Mamah jago mengajak bicara akang, suka menggendongnya dan mengajak main.

Biar nggak terlalu bersedih saat ditinggalkan, mamah bersiasat, ia bilang ke akang bahwa di lantai bawah ada perosotan, wahana permainan favorit Akang. Benar saja, Akang girang bukan main. “Ayo kita ke pocotan,” kata Akang berkali-kali.

Continue reading Cara Bayi Melepas Duka

Advertisements

Meninggalkan 28

28 adalah angka yang saya bangga-banggakan. Alasannya sederhana. Saya lahir di tanggal itu. Saya kemudian mencari kebanggaan lain, mencari-cari hubungan antara angka tanggal lahir, bulan lahir dan tahun lahir. Kesemuanya kelipatan 4. Sama dengan genap. Tidak ganjil.

Saat menyambut usia 27, sahabat saya, Sundea, bilang kalau itu akan jadi umur yang istimewa. Maklum, sejarah mencatat banyak pesohor yang meninggal di umur segitu: The 27 Club; sebuah kelompok yang anggotanya masuk tanpa mendaftar lebih dulu, setelahnya pun tak ada yang sadar sudah bergabung. Kurt Cobain dan Chairil Anwar bisa disebut sebagai salah duanya.

Saya ingat, saat menjalani umur 27 itu, saya sedang mencapai titik puas. Pun, saya sudah pernah merasakan gimana rasanya hidup akan berakhir, dalam mimpi. Jadi, kalau pun semesta pengin klik kanan lalu men-delete saya dari kehidupan, saya nggak akan merasa saya dilempar ke trash bin.

Continue reading Meninggalkan 28

Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

IMG_20170417_200255

Saya sudah lama tahu novel ini. Pertama kali saat kuliah, salah satu teman baik saya, Andra, punya satu di kamarnya. Ia pernah bercerita bahwa ini adalah novel tentang kemarahan.

Baru pada 2015 saya membelinya: versi bahasa Inggris. Nemu di sebuah obral buku. Dijual cuma Rp 45 ribu. Saya coba baca, duh, bahasa Inggris saya kurang mumpuni ternyata. Jadi, saat dengar kabar penerbit Banana cetak ulang versi bahasa Indonesia ya saya niatkan beli.

Saya selalu suka cerita-cerita tentang cowok SMA beranjak dewasa. Nah, cerita Holden ini menawarkan tema baru. Hidup Holden penuh masalah dan karena itu ia senang mempermasalahkan banyak hal. Ia nggak dikeluarkan dari sekolah karena nilainya kurang baik–kecuali bahasa Inggris. Guru yang berpengaruh baginya pun cuma bisa menolongnya dengan nasihat alih-alih kenaikan kelas. Teman sekamarnya kencan dengan kasih tak sampainya.

Continue reading Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

1

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

Continue reading Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Lupa

Aku tahu mengapa sekolah hanya mengajarkan kita untuk menghapal tapi untuk urusan melupa, kita mesti otodidak. Karena hilaf adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Butuh banyak usaha dan banyak waktu untuk bisa menghapal dengan baik. Tapi untuk melupa? kita hanya butuh sedetik pengabaian agaknya.

Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.

Continue reading Lupa