Cara Bayi Melepas Duka

Akang, keponakan saya yang berusia dua tahun, ikut saya dan ibunya mengantar kakek-neneknya ke bandara pagi tadi. Ia senang betul ketika tiba di bandara. Melihat troli pengangkut koper, ia menolak diangkat didudukkan  di sana. Akang ingin ikut mendorong troli. Di bandara Soetta terminal 3 yang megah nan nyaman itu, Akang juga berlari-larian, apalagi ketika melihat ada taman kecil di tengah-tengah. Neneknya ikut girang melihat Akang yang aktif dan periang itu. Beberapa kali ia mengeluarkan ponsel lalu memfoto akang dan aksinya.

Hingga jam penunjukkan pukul 08.00.  Satu jam sebelum mamah-papah saya itu harus masuk ke ruang tunggu pesawat. Mamah sudah tahu betul bahwa Akang akan menangis begitu pisah. Akang memang lengket banget sama mamah. Mamah jago mengajak bicara akang, suka menggendongnya dan mengajak main.

Biar nggak terlalu bersedih saat ditinggalkan, mamah bersiasat, ia bilang ke akang bahwa di lantai bawah ada perosotan, wahana permainan favorit Akang. Benar saja, Akang girang bukan main. “Ayo kita ke pocotan,” kata Akang berkali-kali.

Continue reading Cara Bayi Melepas Duka

Advertisements