Menonton The Impossible

Ada empat alasan mengapa saya pengin menonton film ini. Pertama, Tom Holand. Pertama kali tahu film pun dari Tom Holland. Ketika saya sedang mencari tahu tentang film-film Tom, saya menemukan The Impossible sebagai film pertama yang dibintangi Tom sebagai aktor. Sebelumnya, ia sudah pernah terlibat di film sebenarnya, film garapan studio ghibli pula. Cuma aja, di film itu Tom hanya jadi pengisi suara.

Saat menonton The Impossible ini, saya membayangkan tokoh Lucas yang diperankannya adalah jelmaan dari Peter Parker muda. Dia tangguh banget sebagai anak kecil, namun ada rapuhnya juga.

“Aku adalah anak yang pemberani, Bu. Tapi sekarang ini aku takut sekali,” katanya di tengah-tengah banjir tsunami yang sudah menyeretnya jauh, tak lama setelah ((( akhirnya ))) ia bertemu dengan ibunya.

Kedua, Ewan McGreggor. Ya walau film ini masih berasa menye-menyenya, tapi nggak terlalu gamblang diceritakannya. Si sutradara apik membuat saya “merasa” tanpa perlu “mengetahui” sepenuhnya apa yang terjadi. Udah gitu, di film ini ada Ewan McGreggor! Saya sedang kangen film Beginners yang dia perankan. Tapi saya takut menontonnya. Maklum, di film itu saya akan menemukan dialog “make it easy to end up alone.” Kalau kalian main Mobile Legends, maka kalimat itu sama sakitnya seperti serangan dari Karina. Ia selalu menghilang ketika menyerang, tapi dampaknya nyata sekali. Cepat pula ditinjukannya.

Saya pikir, dengan menonton film melankolis lainnya yang menampilkan Ewan McGreggor yang entah gimana parasnya itu melankolik sekali, saya bisa jadi merasa sedikit sensasi film Beginners.

Di film The Impossible, Ewan berperan menjadi si kepala keluarga. Sebelum ombak tsunami menumpasnya, ia sedang berenang bersama dua dari tiga anaknya. Ia adalah ayah yang hmm, lagi-lagi, kuat tapi pecah belah alias rapuh juga.

Semoga kalian belum lupa kalau di tulisan ini saya ingin menyebut empat alasan. Alasan ketiga adalah, karena ini film tentang keluarga. Saya sedang merasa perlu menerpa cerita-cerita tema keluarga agaknya, dengan alasan yang sebaiknya saya nggak sebut di sini. Kalau kalian tetep maksa pengen saya cerita, berarti kalian sama saja seperti anggota keluarga yang “jauh” tapi hobi betul mengajukan pertanyaan seolah merekalah yang menjalani hidupmu. Hhh~

Keempat, ini adalah film tentang bencana. Somehow, saya suka melihat bagaimana cara manusia bertahan diri di ujung hidupnya. Dan melihat apa yang mereka perjuangkan serta apa yang mereka lepas ketika kekuatan mereka sedikit. Ketika dalam bencana, tingkat kesadaran manusia terhadap kematian melonjak drastis. Beda dengan pernikahan, naik haji, naik jabatan, atau lolos seleksi; kematian adalah momen yang pasti terjadi, tapi agaknya tak pernah menjadi pencapaian siapa pun selama sedang hidup. Nah, di saat bencana manusia (kayaknya (aing belum pernah)) memikirkan kematian dua kali lebih sering daripada bernafas.

Di saat bencana pula, Tuhan dan semestanya membanjiri hidup dengan kemungkinan, sederas mungkin. Apakah ada batang pohon yang bisa dipeluk agar tak terbawa tsunami lagi; apakah akan ada Coca Cola yang bisa diminum ketika selamat; apakah anak itu akan bertemu ayahnya lagi; apakah jika turun dari mobil untuk kencing, sopir galak akan meninggalkanmu; semua hanya bisa dijawab dengan “mungkin.”

Ada satu adegan yang saya suka dari film ini. Yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menahan kematiannya demi memperjuangkan sesuatu. Ia seperti sudah melihat malaikat maut bilang “assalamualaikum”, tapi ia berhasil menyuruh si malaikat menunggu di teras dulu, nggak langsung masuk ke dalam rumah lalu menjambret nyawamu.

Begitulah, pemirsa. Manusia hidup akan mati. Tapi manusia yang sudah terlanjur  hidup, akan terus menghidupi hidupnya. Semungkin mungkin.

Advertisements

Gramedia.com dan Niat Baiknya Yang Perlu Dibenahi

20161225194440

Sekitar pukul 09 pagi, di Senin (12/12) yang libur itu, saya dapat kabar. “Gramedia.com ikutan Harbolnas juga, tuh.”

Sambil kaget, saya langsung meniliknya. Astaga, udah gila kali nih, Gramedia, pikir saya saat itu. Novel O karangan Eka Kurniawan yang selalu saya tunda beli karena harganya mahal, melesat turun harga menjadi Rp 29.000–sebelumnya Rp 90.000. Begitu juga dengan kumpulan cerita pendeknya. Rerata hanya Rp 15 ribu.

Saya yang sering mengikuti obral buku Gramedia heran. Buku-buku terbitan Kompas Gramedia yang populer, tuh, jarang banget direlakan masuk ke rak obral. Lah, di Harbolnas kemarin, nyaris semua buku mereka sunat harganya.

Continue reading Gramedia.com dan Niat Baiknya Yang Perlu Dibenahi

Antara Migrasi Blog dan Melawan Romantisme

Ini adalah posting tersayang di blog yang baru saja saya rancang sejak siang tadi, dan hingga sekarang belum jelas juntrungannya. Masih belum sreg dengan desainnya. Tapi, mau mengutak-atiknya pun kemampuan saya terbatas adanya.

Saya memutuskan migrasi ke WordPress.com dengan alasan sederhana: Wp fitur-fiturnya lebih asik. Sebelumnya, saya sudah punya beberapa blog Wp sebenernya. Tapi bukan diperuntukkan untuk blog pribadi. Tiap kali pengin memindahkan blog dari Blogger ke Wp, selalu cemas akan banyak hal, seperti:

  • Gue mau jadi orang yang setia. Termasuk sama blogging platform.
  • Gue nggak mau menyerah. Walau sering dibikin keki oleh Blogger yang sulit sekali ditemukan template sesuai keinginan, gue akan terus mencari dan utak-atik kodenya.
  • Pindah blog sama dengan mengiklaskan ratusan viewers yang sudah gue capai.
  • WordPress walau pun fitur yang sudah disediakan itu asik. Tapi membatasi pengguna untuk mengutak-atik.
  • dan sederetan alasan klise lainnya.

Continue reading Antara Migrasi Blog dan Melawan Romantisme

Resensi Buku How To Be Alone karya Sara Maitland

Buck How To be Alone ole Sara Maitland

Bingung kan, kesendirian saja perlu diajarkan. Tapi mau gimana, betapapun kita menggadang-gadang kebebasan berekspresi, dan suka dengan petuah motivasional “jadilah diri sendiri”, nyatanya kita masih menganggap aneh mereka yang suka ngapain-ngapain sendiri.

Pun, sekarang kan eranya aku-pacaran-maka-aku-ada. Kesendirian dirayakan sekaligus dipojokkan. Kesendirian itu, kata Sara Maitlan, sering dikesankan sebagai sesuatu yang, “sad, mad, bad.”

Semua tahap-tahap untuk jadi seorang penyendiri, berpendirian, dan berdikari yang ditulis di sini adalah segala hal yang “yaelah gue udah tau ini, sih.” Tapi sungguh sulit untuk dilaksanakan. Sara menuliskan proses-proses itu mendetil, pun ia urai dulu mengapa harus melakukannya. Jadinya, buku ini asik dibaca, dan perlu.

Pada akhirnya buku ini makin menegaskan ke saya betapa perlunya kita untuk bisa sendiri-bersama, dengan siapa pun.

Saya membeli buku ini di Aksara Cilandak Town Square dengan harga Rp 190.000. Terpicu membeli karena sebelumnya saya suka sekali dengan School of Life, lembaga di Inggris sana yang doyan memberi materi tentang hal-hal esensial soal hidup. Belakangan, saya jadi gandrung juga dengan kanal YouTUBE mereka.

Usai baca buku ini, kemudian saya bikin artikel menyoal kesendirian. Bisa dibaca di baca dengan mengklik tautan ini. 

Lepas dari buku, saya baru nemu kata yang cocok untuk menggambarkan orang yang suka sendiri. Kata itu adalah… “Langgas”. Cek di KBBI deh artinya apa.