Dari Hai Club, Pers Abu-abu Hingga Hai School Crew

Perjalanan Komunitas Wartawan Pelajar Majalah Hai Dari Masa ke Masa.

“Mas, Koran SMA, tuh, dulu berhentinya tahun berapa?”

“Tahun 2008. Pertama kali terbit 2005.”

“Berarti ada vakum 3 tahun yah sebelum rubrik My School Page muncul di zaman Mate.”

“Iya. Mate yang bikin MSP. Nama MSP itu diambil dari salah satu rubrik di Koran SMA dulu.”

“Ohh! Baru tau gue.”

“Kalau dulunya lagi, namanya Pers Abu-abu.”

Itu percakapan saya dengan mas Yorgi pada Jumat, 3 Juni kemarin, sekitar tiga jam sebelum acara buka bersama sekaligus reuni komunitas wartawan sekolah Hai dimulai. Saya perlu menanyakan hal tersebut karena di acara nanti saya mau cerita kilas balik tentang keterlibatan anak-anak SMA di majalah Hai. Mas Yorgi, editor Hai yang sebentar lagi gantung keyboard dari jalan Panjang. hiks, adalah orang yang membentuk Koran SMA.

Di acara reuni ini, kami bertukar cerita tentang pengalaman jadi wartawan sekolah dan mengisi rubrik My School Page dari tahun ke tahun. Dimulai dari Adhie, alumni SMA Yadhika yang pada 2005 gabung jadi wartawan untuk Koran SMA Hai, lalu Mate (Rahmat Budiman), mantan managing editor Hai yang membentuk rubrik My School Page, dilanjut Rian Sidik, pengurus MSP 2013-2014, ditutup cerita dari saya yang ngangon Hai School Crew sejak 2016.

Hai adalah media yang segitunya dalam mengulik segala cerita seputar sekolah. Tanpa mendapat press release, tanpa bisa googling demi mencari tambahan data, Hai datang langsung ke sekolah, sok asik gabung ke tongkrongan, dan ngobrol di chat demi bisa mendapat cerita seru seputar anak SMA, dari yang berbau akademis, urusan pensi, korupsi di sekolah, tawuran, geng motor, sampai skandal syur remaja di era informatika ini. Hai selalu ngasih ruang untuk bahasan sekolah,  selain bahasan tentang pop culture dan gaya hidup remaja. Bahkan, sampai ada desk-nya sendiri. Rubrik khusus wartawan sekolah itu adalah salah satu bagian dari rubrik Skul yang lebih gede lagi.

Di artikel ini, ada baiknya sekalian saja saya bikin cerita tentang rubrik khusus wartawan SMA di majalah Hai dari masa ke masa. Toh, sekarang ini saya bisa menelusuri majalah Hai dari tahun jebot sampai yang terbaru hanya dengan klik-klik-klik. Semua ini berkat mas Muluk, pengarsip segala data redaksi, yang sudah mendigitalisasi seluruh edisi Hai. Jadi, saya bisa mudah mencari tahu perjalanan rubrik sekolah di majalah Hai ini.

Dan setelah ditelisik lagi, ternyata sebelum Pers Abu-abu saya jadi tahu bahwa HAI punya HAI Club. Wah apa lagi tuh? tahan sebentar. Saya jelaskan di bawah.

HAI Club (1979-1980-an)

Hai pertama kali terbit pada tahun 1977, tak lama setelahnya, Hai tampaknya sudah punya banyak penggemar. Buktinya, hingga di tahun 1979, Hai sudah sering mengumpulkan pembaca setianya di kandang Hai, yang saat itu masih di Jalan Palmerah Selatan.

Dari pertemuan-pertemuan itu, Hai dan pembacanya punya ide untuk bikin “sesuatu”. Dicetuskanlah nama Hai Club untuk menyebut perkumpulan para pembaca setia suka menulis dan antusias dengan dunia media cetak. Di masa awal pembentukan, Hai Club bisa menjaring 30 remaja untuk mengisi formasi organisasi. Dan mereka nggak sekadar kumpul-kumpul. Mereka berhimpun untuk fokus membuat publikasi yang kemudian dinamakan KOMA alias Koran Remaja.

Gagasan ini muncul karena mereka merasa media saat itu nggak ada yang benar-benar mewakili perspektif remaja dalam melihat dunia. Remaja pun butuh corong untuk menyampaikan suaranya.

Beberapa nama yang ikut Hai Club adalah  Jay Bimo. Musril Rahimsa, Arya Dipayana, Leila S. Chudori, Nony Lukito dan Wiwiet Wicaksono. Konon, mereka adalah penulis cerpen yang langganan dimuat Hai. Belakangan, Hilman Hariwijaya (pengarang Lupus) bergabung juga dengan Hai Club saat ia sudah masuk masa SMA.

Saya belum tahu pasti kapan KOMA berakhir. Namun, di Hai edisi ulang tahun ke 10, saya menemukan cerita bahwa KOMA dan HAI Club sudah padam saat itu.

“Sayang umurnya pendek sekali. Keluar dari perut bumi seolah cuma aksi lalu melempem. Hingga sekarang tidak terbit lagi,” tulis Hai di tahun 1986 tentang KOMA.

Kiprah Sekolah – Pers Abu-abu (1988-1990-an)

Rubrik Kiprah Sekolah Hai nomor 21 tahun 1990

Di lumbung arsip Hai saya mengetik kata kunci “Pers Abu-abu” dan menemukan rubrik yang bernama Kiprah Sekolah. Rubrik ini diisi oleh kumpulan artikel singkat kiriman anak sekolah. Tema artikelnya nggak jauh dari acara sekolah dan ekskul.

Di waktu yang sama, Hai sering roadshow ke sekolah-sekolah membawakan materi tentang jurnaslistik. Mas Wendo yang kerap jadi pembicaranya. Dia ngomporin anak SMA untuk jadi Pers Abu-abu. Mencari anak-anak SMA yang bisa diajak untuk jadi wartawan kontributor. Dalam perjalanannya, komunitas Pers Abu-abu yang terbentuk dari Hai juga bikin tabloid tentang masa SMA yang diberi nama Hermes. Dino Martin adalah salah satu petingginya. Sekarang Dino Martin dikenal sebagai CEO dari Karir.com

HAI nomor 19 tahun 1991

Dari hasil penelurusan saya dengan kata kunci “Kiprah Sekolah”, saya menemukan rubrik ini aktif di periode 1989-1991. Setelah periode itu, para Pers Abu-abu dapat akses untuk mengisi rubrik-rubrik lain di luar rubrik tentang sekolah. Yoris Sebastian saya temui pernah menulis tentang musik dan film di masa-masa ini. Saat itu Yoris adalah siswa SMA Pangudi Luhur Jakarta.

Kalau kamu pembaca Lupus karangan Hilman, maka akan tahu bahwa Lupus yang seturut cerita fiksi itu bersekolah di SMA Merah Putih, adalah juga wartawan contributor Hai masa 1991. Saat itu editornya adalah Dharmawan dan Redaktur Pelaksananya adalah mas Iwan.

Belakangan saya tahu bahwa mereka berdua jago betul di dunia tulis-menulis. Suatu hari di Februari lalu, saya bertemu dengan mas Dharmawan di kedai milik yang diasuhnya, Kedai Tjikini, saya kasih lihat dia Hai terbaru dan dibuat kikuklah saya. Mas Dharmawan detil betul memindai artikel demi artikel menemukan sejumlah kejanggalan dalam penulisan dan tata letak.

Balik ke Lupus. Lupus sering bikin liputan feature untuk Hai. Beberapa yang pernah saya baca adalah liputan Lupus tentang anak SMA yang mudik lebaran. Liputan tersebut membuat Lupus malah kebawa kereta sampai ke Yogya saking asiknya wawancara. Lupus juga pernah ikut liputan konser Duran Duran di Hongkong dan mewawancara idolanya. Dan terakhir, saat Lupus baru masuk kuliah, ia liputan tentang cewek-cewek SMA yang suka diskotek. Dasar playboy, sambil liputan, Lupus ngegebet Phia si narasumbernya yang masuk kelas 2 SMA itu. Artikel jadi, pacaranpun pasti.

Perekrutan wartawan kontributor dari kalangan pelajar terus berlanjut sampai era 90-an akhir. Beberapa nama yang saya tahu pernah jadi salah satu anggotanya adalah Kristupa Saragih (pendiri Fotografer.net), dan Felix Dass, hingga kini aktif sebagai pengamat musik dan penggerak sidestream scene di kisaran Jakarta. Kalau ditilik dari Instagramnya, sih, mas bewok satu ini sedang di London. Asik betul.

Koran SMA (2005-2008)

rapat Koran SMA dipimpin oleh mas Yorgi Gusman (Baju merah)

Yang membentuknya adalah Mas Yorgi, wartawan sekolah Hai saat itu. Seperti namanya, jenis konten bukan sekedar rubrik di dalam majalah, melainkan koran mini 10 halaman yang dibuat oleh anak SMA . Koran SMA disisipkan di majalah Hai secara berkala.

“Waktu itu gue bikin pengumuman perekrutan wartawan SMA lewat iklan kecil di majalah. Besoknya banyak banget anak SMA yang nelpon ke kantor. Banyak juga yang mau ikut,” cerita mas Yorgi tentang awal mula Koran SMA.

Dengan terpilih menjadi anggota, mereka-mereka itu resmi jadi wartawan sekolah. Sebuah predikat yang bikin ngerasa keren. Ya coba aja bayangin, ketika temen-temen lo ke pensi sebagai pengunjung biasa, mereka datang sebagai wartawan. Masuk nggak bayar, dan sepulangnya nama mereka dikenal, karena namanya ada di akhir berita yang mereka bikin. Udah gitu, tiap kali nulis di Koran SMA bakal dikasih honor.

Sebagaimana koran, Koran SMA pun punya sejumlah rubrik. Ada rubrik CCP-an yang berisi profil cewek cakep dari suatu sekolah yang asik untuk bahan curi-curi pandang. Ada juga rubrik liputan pensi tentunya.

Kalau dilihat dari tahunnya, sih, Koran SMA terbit saat saya kelas 2 SMA. Dan asal kalian tahu, sekolah saya adalah SMA yang paling dekat dengan kantor Hai. Nggak sampai 500 meter. Tapi sayang, saya belum punya minat gede sama majalah dan jurnalistik jadi nggak segitunya sama majalah Hai dan nggak kena terpa info soal perekrutan wartawan SMA ini. Saat itu saya baru di tahap hobi ngumpulin majalah-majalah gratis dan segala pamflet yang ada di distro saja.

Banyak banget anak Koran SMA yang setelah lulus kuliah lanjut bekerja di majalah Hai sebagai wartawan. Bahkan ada yang selulus SMA sampai ia lulus kuliah nggak putus jadi kontributor Hai.

My School Page (2010-2015)

Rubrik MSP 2012

Agak lama yah jeda kosong antara Koran SMA dan My School Page. Tiga tahun! Kalau nggak salah inget, Mas Yorgi cerita bahwa Koran SMA tuh berhenti karena biaya cetaknya lumayan. Jadi disudahkan saja.

Hingga pada 2010, inisiatif untuk bikin komunitas wartawan sekolah muncul lagi. Adalah Rahmat Budiman alias Mate inisiatornya.

“Dulu gue masuk Hai tuh tahun berapa yah, 2008 kalau nggak salah. Setelah beberapa lama gue sering liputan ke sekolah gue mendapati banyak anak SMA yang nanya gimana caranya  ikut nulis untuk majalah Hai. Dari situ gue kepikiran untuk bikin rubrik khususnya. Gue konsultasi ke Yorgi dan akhirnya pakai nama rubrik yang dulu pernah ada di Koran SMA dulu yaitu My School Page,” cerita Mate di acara bukber yang saya ceritakan tadi.

MSP Angkatan 1
Rapat MSP tahun 2010 bersama Mate

My School Page terdiri dari dua halaman. (kalau dilihat dari jumlahnya yang jamak itu, seharusnya nama rubrik ini adalah My School Pages. Hehe) Isinya adalah artikel feature yang dikerjakan oleh 3-5 anak MSP sekaligus. Temanya beragam dari yang ringan kayak daftar aturan ngeri di sekolah, cerita horor di sekolah, hingga kebiasaan pacaran para anak SMA.

Hampir setiap bulan sekali, para anak MSP itu selalu rapat di kantor Hai. Membicarakan ide tema artikel yang sekiranya asik untuk dibahas sebulan ke depan. Setelah ide artikel ditentukan, pembagian kerja dilakukan. Setelahnya, ya kerja deh. Deadline pengumpulan artikelnya ya sama kayak anak redaksi, tiap Rabu! Makanya, password akun-akun MSP tuh nyerempet-nyerempet urusan deadline. 

Dosma, salah satu alumninya cerita tentang serunya proses kerja sebagai anak MSP. “Gue angkatan pertama MSP. Gue inget banget dulu diminta nulis tentang sekolah-sekolah yang punya cerita horornya. Terus, pernah juga H-1 ujian nasional gue ditelpon Mate diminta bantuin nulis. Tentang bocoran UN, kalau nggak salah,” kata Dosma.

Mate kemudian naik menjadi editor Hai, mandat kepengurusan MSP dilanjutkan ke Ananda Rasulia. Terus, setelah Nanda cabut dari Hai, Rian Sidik yang megang, lalu Satria Perdana dan baru deh pindah ke saya. Kami para pengasuhnya ini bertugas untuk supervisi rapat, mengoordinasi liputan, menyunting tulisan, dan nraktir pizza atau nasi padang.

My School Pages “HSC” (2015-…)

Rubrik MSP tahun 2015

Di masa kepengurusan Satria dan saya, kami mengusulkan nama Hai School Crew (HSC) untuk menyebut para wartawan SMA ini. Sempat kepikiran untuk menamainya Hai School Press atau Hai School Squad. Tapi setelah dipikir-pikir, nama Hai School Crew lebih asik bin kekinian. Maksud utamanya adalah, agar keterlibatan para anggotanya nggak terbatas pada kegiatan “Press” saja.

Satria cabut pada 2016 awal. Sontak saya jadi satu-satunya pengurus. HSC masa kepengurusan ini bisa dibilang spesial karena merasakan tiga Pemimpin Redaksi, dan tiga perubahan medium: dari mingguan ke bulanan lalu berhenti cetak dan jadi full digital.

Udah gitu, saat masih mingguan MSP tahun ini panjangnya jadi 8 halaman.

“Kita perlu lebih banyak melibatkan anak SMA nih untuk nulis di Hai. Biar meningkatkan engagement,” kata mas Adit, managing editor, di suatu rapat tengah 2016. Saya cuma bisa nelan ludah sampe ke lidah-lidahnya saat mendengar.

Oh berarti jumlah HSC sekarang ini harus diperbanyak. Untuk mengisi 10 halaman itu, pikir saya saat itu. Saat perekrutan pun saya memilih sekitar 70 orang untuk ikut gabung. Domisilinya kebanyakan di Jakarta, tapi ada juga di Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Magelang, dan Kalimantan.

Cuplikan rubrik MSP 2016

Konten MSP pun berubah. Karena 8 halaman, saya mantapkan namanya menjadi My School Pages dengan ‘s’ di belaakang. Kalau sebelumnya hanya satu artikel, MSP ini kami bagi menjadi 5 rubrik, yaitu: School Story (artikel feature tentang sekolah), Hiplist (daftar segala yang hip di sekolah), Art n Lit (puisi dan gambar kiriman pembaca), Skul Star (profil anak-anak SMA yang menonjol di sekolahnya), dan Student Talks (opini pelajar tentang suatu fenomena)

Pola kerja HSC pun agak beda dengan masa lima tahun lalu. Kalau dulu untuk koordinasi liputan mesti telpon, dan untuk rapat mesti datang ke kantor, sekarang ini HSC bisa ngalor-ngidul di grup percakapan LINE. Thanks to Brown and Conny.

Rapat HSC di suatu malam di 2017
Hai School Crew saat meliput pensi Skyave 2016. Berfoto di depan panggung yang roboh ditiup badai.

MSP 10 halaman ini berjalan hingga 7 edisi dan padam karena Hai berubah jadi bulanan. Mas Pemred memutuskan untuk mencabut rubrik MSP dari majalah dan memindahkan saja ke Hai-online. Kami semua sedih. Bagaimanapun ngerjain MSP di majalah ada keseruan tersendirinya, deadline-nya ketat dan artikelnya di-layout dengan asik. Jadi lebih ena’ dilihat.

Ya, MSP Goes Online. Di Hai-online dibuat kanal khusus MSP yang isinya segala tulisan bikinan para Hai School Crew ini. Kami semua menulis tentang sekolah, tapi bisa juga menulis hal-hal lain. Dalam setahun ini, setelah saya hitung, HSC sudah menulis 95 artikel untuk MSP di online ini. Wuih.

We need more space!

Cover majalah HAI edisi terakhir

Juni 2017 adalah bulan terakhir majalah Hai terbit. Di media sosial, banyak banget warganet yang menyatakan dukanya. Dengan melihat bahwa warganet yang kaget dengan tutupnya majalah Hai lebih banyak yang berusia 30 tahun ke atas ketimbang yang masih berseragam SMA, tanpa diberi tahu lagi pun, kita bisa tahu alasan majalah Hai berhenti cetak kan? Hehe.

Iya, kami menyatakan diri lulus dari media cetak, tapi tak memilih punah. Lulus satu, Hai akan tumbuh seribu. Konten-konten Hai akan tetap hidup, tumbuh, di media yang tak pernah punya batasan jumlah halaman, nggak butuh ongkos cetak, dan nggak mentok pada kertas saja, tetapi bisa mengeksplor multi media.

Satu hal yang pasti lagi adalah Hai akan terus menjadi majalah remaja yang dengan senang hati mengajak anak-anak SMA untuk terlibat membuat konten. Para Hai School Crew bisa membuat liputan pensi dalam bentuk vlog atau laporan langsung lewat Instagram LIVE, misalnya, sambil tetap membuat artikel panjang tentang cerita seru di sekolahnya untuk dimuat di Hai-online. Dan masih banyak kemungkinan jenis konten yang bisa dibuat lagi di jagad digital ini.

Ah, saya jadi ingat salah satu novel Lupus yang menceritakan Lupus lulus SMA dan lanjut berkuliah. Sebagaimana Lupus, majalah Hai juga lulus dari media cetak. Kalau cerita Lupus itu diberi judul, “Idih Lupus udah gede”, cerita majalah Hai ini cocok untuk ditajuki “Idih, Hai udah digital.”

Advertisements

Masa Depan Cerah Tren Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Tren Kamera Lama

Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

1

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

Continue reading Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Jejak Sastrawan di Majalah HAI

Ini adalah majalah HAI 2 Januari 1978. Ada cerpen karangan Leila Chudori di situ, ceritanya tentang Peter, siswa SMA yang mengigau saat tidur di kelas. Gurunya yang jadi sasaran, ia dikatai Peter dalam igauannya itu. Leila yang kelahiran 1962, saat itu berusia 16 tahun.

12 tahun setelahnya, di HAI edisi 11 tahun 1990, saya nemu nama Eka Kurniawan di rubrik surat pembaca. “EKA Kurniawan, kelas III A, SMPN 1 Pangandaran” begitu jelasnya. Dugaan saya, itu adalah Eka Kurniawan yang novelis itu. Doi kan emang asal Tasikmalaya.

Sembilan tahun kemudian, di HAI edisi 44 tahun 1999 ada cerpen Teman Kencan karangan Eka. Menurut buku kumcer Corat-coret di Toilet, sih, senggaknya ada tiga cerpen Eka yang pernah dimuat HAI. Eka kelahiran 1975, saat itu dia berusia 24 tahun. Sedang kuliah Filsafat di UGM berarti.

Saya juga pernah nemu cerpen Peluk karangan Dewi Lestari di HAI tahun 90-an saat lagi iseng menjelajah arsip majalah HAI.

HAI jaman baheula rupanya punya peran penting bagi para calon penulis besar yang saat itu masih muda. HAI jaman dulu, selalu ngasih ruang banyak untuk cerpen, puisi, dan komik.

Singkatnya, banyak penulis idola saya saat masih muda menjadikan HAI sebagai salah satu batu loncatannya. Gue jadi agak nyesel, waktu SMA belum segitunya sih sama dunia tulis menulis dan media. Jadi, kenal HAI cuma seadanya

Bagaimana dengan sekarang? Tinggal nunggu aja sih, lima tahun lagi deh. Saya yakin anak-anak SMA yang suka kirim artikel, ngajuin diri minta liputan ini-itu, bersikeras kirim puisi atau cerpen berkali-kali ke email redaksi walau tau HAI sekarang cuma sesekali aja nampilin sastra, mereka pasti bakal menjelma jadi sosok muda yang gue idolakan juga.
.
Dan saat itu umur gue cuma beda beberapa tahun sama umur HAI yang hari ini, 5 Januari ini, genap 40 tahun :/

Ngomong-ngomong, selamat ultah HAI. Semoga rubrik cerpen dimunculin dan digiati lagi, bukan cuma diadain untuk nambel aja tiap kali tiba2 masih halaman kosong. :p

Tulisan Feature Pertama untuk HAI

Artikel Cewek B.B.B di HAI

Karena HAI lagi ulang tahun ke-40 gue jadi inget artikel ini, artikel feature pertama yang saya tulis untuk HAI. Saat itu 2010, saat saya di HAI sebagai reporter magang. Masih jadi mahasiswa pastinya.
.
“Gue pengen nyoba lo bikin artikel panjang ,” kata mas Yorgi, editor desk sekolah, saat itu, “temanya tentang cewek B.B.B.”
.
Di masa itu, istilah cewek BBB emang hits, untuk merujuk para ciwik-ciwik yang memakai behel, penenteng Black Berry, dan berambut gaya belah tengah. Singkatnya, para cewek BBB adalah cewek-cewek hits, gaul, elit, dan kekinian pada masanya.
.
Saat dikasih tawaran nulls feature, saya senang. tapi saat dijabarin tugasnya saya keki. Saya mesti cari 3 cewek BBB yang beneran cakep dan gaul, terus wawancara 3 cowok SMA untuk minta testimoni mereka tentang cewek BBB ini. Maklum, dulu masih kikuk menghadapi narasumber, apalagi cewek cakep nan elit.

Coba aja dulu udah ada LINE, saya nggak mesti keliling-keliling sekolah daerah Bulungan, Kebayoran Lama, untuk nyari cewek BBB yang mau diwawancara dan diajak ke kantor untuk foto.

Dan kocaknya, ada salah satu cewek BBB narsum gue yang komplain dengan artikelnya saat terbit.

“Kak, cerita gue suka dugem, kok, lo tulis sih?”

“Wah, emang kenapa? kan lo sendiri yang cerita”

“Nyokap gue baca. Jadi ketauan deh. Gue diomelin nih!” .

Eng ing eng.

Hari ke-6: HAI yang Selalu Menyapa Pria untuk Merayakan Masa Mudanya

Dalam serial cerita Lupus terbitan 1995 yang berjudul Interview Duran-Duran, dikisahkan, Lupus SMA yang jadi kontributor Majalah HAI, diberi tawaran untuk hengkang ke Hongkong menyaksikan konser band idolanya, Duran Duran. Tawaran itu diberikan oleh mas Iwan, Wakil Pemred majalah Hai saat itu, karena ia tahu Lupus sudah paham betul seluk-beluk band tersebut. Maklum, majalah Hai dapet kesempatan eksklusif untuk mewawancara band yang cukup nge-hip di era 90-an itu, jadi Lupus bakal jadi garda depan majalah Hai untuk memburu cerita langsung dari para personilnya.
Sontak Lupus pun girang. Tanpa babibu, ia menerima tawaran itu. Walau mas Iwan nggak menggratiskan ongkos pesawat, Lupus nggak patah arang, bersikeras ia berusaha untuk cari tambahan uang untuk beli tiket pesawat, yang saat itu, menurut bukunya, seharga USD 600. Bantuin Maminya bikin kue bahkan sampai ikut kerja di bengkel abangnya Boim.  Tak lama, berangkatlah Lupus bersama dua orang awak Hai, Denny, wartawan Hai yang merasa minder untuk wawancara Duran Duran dan Sute sang fotografer.
Singkat cerita, akhirnya Lupus sukses menyaksikan secara langsung penampilan band pujaannya itu,  menyapa lalu ngobrol bareng dan pastinya berfoto bersama Nick Rhodes, salah satu personilnya yang gaya rambut jambulnya begitu menginspirasi Lupus. Tak hanya Lupus yang senang, seluruh anak muda se-Indonesia pasti turut bergembira, karena atmosfer konser tersebut jadi bisa dirasakan melalui artikel liputan yang dibuat Lupus di majalah Hai.
Nah, di sini saya ingin sedikit bercerita tentang majalah Hai. Sepengamatan saya (sepertinya sih akurat) majalah ini adalah majalah Indonesia pertama dengan segmentasi pembaca remaja pria.  Sudah sejak tahun 1977, majalah Hai terbit secara berkala satu minggu sekali.
Dilihat namanya, ‘hai’ adalah sebuah kata sapaan sehari-hari, walau sempat diduga sebagai alih bahasa dari high  yang merujuk pada situasi saat seseorang mengawang-awang – biasanya karena pengaruh narkotika dan alkohol – majalah ini tetap konsisten menggunakan nama tersebut hingga sekarang. Hanya logonya sajalah yang beberap kali diubah, untuk mengikuti tren visual mungkin. Nyatanya, imej cutting edge yang diusung oleh Hai memang bukan menjurus ke arah yang negatif seperti istilah high tersebut
Penggunaan filosofi sapaan tersebut sangatlah menarik. Hai, selalu bisa menjadi akses bagi para remaja pria untuk bisa menyapa dunianya. Remaja pria dari masa ke masa. Coba deh, hitung jumlah cowok yang saat SMA tidak membaca Hai, pasti nggak banyak. Apalagi untuk pemuda era 90-2000an yang saat itu belum punya banyak media massa seperti sekarang, Hai seolah menjadi kitab suci untuk mejadi remaja urban.
Lewat informasi yang disajikan dengan gaya tutur yang sederhana dan mengalir khas anak muda, Hai menjadi teman bagi para remaja untuk menikmati ketertarikannya dalam hidup. Musik, film, olahraga, sastra, komik, seni rupa, fotografi, teknologi, dll. Tak ketinggalan juga, hal yang selalu menjadi bahan obrolan setiap remaja pria: wanita.
Hai adalah teman yang baik, yang tak pernah memaksakan siapa pun untuk mengakrabinya. Berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan para pembaca dan sumber berita Hai, anak-anak seperti Lupus lah yang pasti senang bersahabat dengan Hai. Anak-anak yang selalu punya hasrat besar untuk merayakan masa mudanya dengan menggeluti minat serta ketertarikan tertentu. Pada anak-anak seperti itulah Hai adalah sahabat yang baik. Yang memudahkan pembacanya untuk ‘ngobrol’ dengan idolanya, bercerita tentang kehidupan pergaulan di sekolah, mengumpulkan dan menjaring segala macam informasi yang dibutuhkan, dan mendorong semangat berkarya dengan menyediakan halaman untuk menampilkan karya pembaca, entah itu berupa fotografi, desain, ilustrasi atau pun cerita pendek. Hai adalah wadah besar hasrat para pemuda. Hai adalah tiket dengan kisaran harga Rp 15.000 – Rp. 25.000 yang siap mengantarkan pemuda ke dunianya. Hai adalah youth passion station.
“Youth is the engine of the world” Begitulah kutipan dari Matiyashu yang tertera pada salah satu lift di gedung tempat Hai berada.
Perjalanan waktu adalah hal yang tak bisa dihindarkan, umur Hai pun selalu bertambah tiap tahunnya. Namun, Hai pasti sadar akan perannya yang penting pada banyak remaja di Indonesia dari generasi ke generasi. alih-alih menjadi tua, Hai sepertinya memilih untuk tetap menonaktifkan perkembangan psikologisny dan memilih tetap menjadi remaja selamanya, demi menemani anak muda untuk menghidupi hasrat meraih dunianya.

Selamat 36 tahun majalah Hai. 

Terima tengkyu udah jadi sahabat sekaligus sekolah bagi saya juga. Super salut untuk seluruh awak Hai. 🙂