Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang

Saya pernah ke Semeru, dan karena itu saya melewati juga jalur yang dilewati para pelancong yang menaruh Bromo pada tujuannya. Tapi sampai 11 Juni 2017 saya belum pernah mengunjungi pegunungan mungil yang pemandangannya banyak betul didamba orang tersebut.

Perjalanan ini nggak ada di rencana saya. Betul-betul mendadak. Adik saya yang kuliah di Malang sakit. Mamah saya pengin menjenguknya. Karena kami sekeluarga nggak mungkin membiarkan mamah terbang sendiri, akhirnya saya ikut pesan tiket juga. Kebetulan saya sedang dapat shift libur dua hari berturut-turut.

Saya juga sudah sering ke Malang sebenarnya. Selain ke Semeru, saya pernah ke Pulau Sempu saat kuliah dulu, dan tahun lalu juga diminta liputan ke sini. Tapi kunjungan-kunjungan itu nggak membuat saya merasa akrab sama Malang. Itulah juga yang memicu saya untuk berangkat ke sana.

Rencana untuk cabut ke Bromo baru muncul setelah isya. Paska urusan-urusan pengobatan adik saya selesai dan ia terlihat membaik keadaannya. Di perjalanan pulang dari rumah sakit menuju penginapan, adik saya bercerita tentang pengalamannya berkendara motor menuju Bromo. Butuh empat jam perjalanan, katanya. Pun, nggak bisa sembarang motor. Motor matic punya adik saya terhitung renta untuk mendaki jalanan menanjak dan medan berbatu. Jadi, kalau pun saya mau berangkat, pilihan menggunakan motor mesti dicoret.

Saya banyak bertanya.

“Kalau ke Bromonya siang enak nggak sih? atau harus malam?”

“Di sana cuma enak lihat sunrise, yah?”

“Kira-kira ada travel nggak ya, Fal?” tanya saya kepada adik.

Continue reading Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang

Advertisements

Seperti Menemukan Tahu Sumedang di Belitung

Kunjungan saya ke Belitung ini besar dipengaruhi oleh Rima yang berulang tahun. Ia ingin merayakannya dengan nyobain solo traveling  di saat-saat ia menuju usia 23 tahun. Rima sudah merencanakannya sejak lama. Sejak September kalau nggak salah. Doi sudah beli tiket pesawatnya–lewat penjual tiket promo di Instagram–sudah memesan kamar untuk dirinya di Surya, penginapan yang paling direkomendasikan para bloger karena biaya permalamnya berkisar 80-150 ribu; dan sudah merencanakan tempat-tempat yang akan dikunjunginya kemudian. 

Nah, yang terakhir itu Rima nggak mau banyak menceritakannya. Ya nggak masalah. Rima punya hak untuk memiliki rencana perjalanannya sendiri; sebagaimana saya punya hak untuk diam-diam punya rencana untuk menyusulnya.

Saya berangkat Sabtu siang bermodal tiket Sriwijaya yang saya beli sekitar Rp 350.000. Agak nggak mau kalah dari Rima, saya pun ingin mencicip pengalaman menjelajah daerah baru sendirian. Setibanya di Belitung saya langsung menaruh barang di penginapan, menyewa motor Kharisma beserta helmnya dengan ongkos Rp 70.000 perhari, lalu ngebut–tapi sayang, kecepatannya cuma mentok di 60 km/jam–ke daerah Pantai Tanjung Klayar yang berjarak sekitar 35 km dari kota Tanjung Pandan, dengan mengandalkan GMaps tentunya. Jalanan yang saya lewati itu adalah jalanan yang paling damai, bersahaja, dan sepi yang pernah saya lewati. Di kota tempat kita bisa meninggalkan motor dengan kunci masih terpasang sekali pun, tanpa merasa resah akan ada yang mencurinya ini, jalanan sepi nggak menyimpan ancaman.

Continue reading Seperti Menemukan Tahu Sumedang di Belitung