Bunga

Kelak akan kukirimkan

ucapan selamat untukmu

berupa bunga-bunga

yang tidak wangi

tapi abadi.

 

Kamu bisa menyiraminya dengan apa saja

air banjir depan rumahmu

air kopi buatan pembantu barumu

air mata demonstran yang tak ditanggapi.

air raksa bekas penelitian biologi di sekolah adikmu

air kencing anjingmu

 

Bunga itu kubuat dari batu.

Advertisements

Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Taman

Di kamus yang ada di sekolah, kamu adalah sinonim dari taman.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.

Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.

“Di sana kami belajar, kok, Bu” kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, “Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan.”

Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.

Sebelum Amin

Seorang guru bertanya pada muridnya,
“apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?”

“Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos.”

“Tidakkah kamu merasa kafir?”

“Aku merasa khusyuk.”

“Mereka nasrani.”

“Mereka ciptaan Tuhan kita.”

“Doamu hanya akan diantar malaikat magang.”

“Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini.”

“Apa isi doamu?”

“Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu.”

Kucing Dimakan Kota

Pagiku tadi rusak,
Aku menyaksikan langsung kucing tertabrak.
Ingin menyebrang jalan raya,
kucing itu melompat tanpa kuda-kuda.

Baru satu lompatan ia mundur.
Namun nyalinya belum kendur,
Ia menyebrang lagi.
Kali itu berlari, tanpa lihat kanan kiri.
Motor-motor juga berlari kencang,
tanpa lihat atas bawah.

Kucing di kota beda dengan kucing di hutan.

Kucing kota bisa ikut makan daging sapi, kerbau, atau ikan laut.
Kucing hutan mana bisa.
Tapi kucing kota sering digilas bebek.
Kucing hutan mana mungkin.

Kucing hutan dan kucing kota punya permintaan yang sama.
Mereka butuh menteri yang khusus mengurus satwa

Kucing hutan tak ingin diciduk lalu dipaksa bekerja
jadi kucing penghibur keluarga,
Kucing hutan tak ingin juga ketika nyawanya pergi,
jasadnya diawetkan, dipajang di museum negara.

Kucing kota menuntut pemerataan pembagian Kaskin,
Whiskas untuk kucing miskin.
Kucing kota juga ingin memohon pendidikan menyeberang,
agar ketika ada yang nyawanya terusir di jalan, mayatnya yang gepeng nggak jadi tontonan.