Raffi Ahmad, Pengajian Ibu-Ibu Yang Sepi dan 8 M

“Salah satu wujud representasi postfeminisme itu adalah Rafi Ahmad,” kata si Bapak usai kawan saya bercerita tentang rencana tesisnya yang menyoal post-feminisme di media wanita. 
Rafi Ahmad, menurut si Bapak, nggak masalah menangis saat sungkem dengan ibunya di pernikahannya dengan Nagita Slavina Tengker 16-17 Oktober kemarin.
Si Bapak pun melanjutkan ceritanya. Ia heran sekali dengan pemirsa Indonesia yang begitu gandrung kepada Raffi Ahmad. bahkan, stasiun televisi yang diasuhnya sampai menyiarkan langsung prosesi pernikahannya selama dua hari, 14 jam tiap harinya. 
Saking herannya, si Bapak pun akhirnya datang ke pernikahan tersebut, memenuhi undangan. 
“Tapi saya nggak mau lewat pintu depan. Saya cari-cari pintu samping dan saya masuk lewat situ. Di sana pun saya cuma kumpul sama teman-teman saya. Ngobrol.” 
Seperti yang diceritakan di awal, Raffi Ahmad menangis saat sungkem kepada ibunya. Adegan tersebut, menurut observasi si Bapak, sukses membuat ibu-ibu terharu. “Sedih, loh, itu Raffi Ahmad sampai menangis gitu,” si Bapak menirukan ucapan seorang kapster salon yang saat ia kunjungi sedang menyimak tayangan langsung pernikahan Raffi.  
“Sebenernya Raffi itu nggak mau nangis. Tapi kru pada minta dia untuk nangis. Gimana pun caranya, dia harus nangis” si Bapak tentu tahu proses produksi tayangan itu,”Raffi kayaknya udah susah ya membedakan mana dunia nyata, mana dunia acting.” 

Cerita si Bapak pun loncat. Di lain waktu, ia menelpon familinya, (maaf saya lupa di mana tempat tinggal familinya itu). Si Bapak bertanya padanya, “Gimana di sana?” 
“Jalan sepi, Pak. Pada nonton Raffi Ahmad. Pengajian ibu-ibu juga jadi sepi. Bahkan sampe ustadzahnya sampe ngomong lewat microphone majelis,’ini ibu-ibu pada nggak ngaji pada nonton Raffi, ye?'” 
Kami terbahak.
“Kita ngasih ke Raffi 1 M. dan kita dari dia kita dapet 8 M,” si Bapak nyeletuk. Cerita ditutup. Saya tertegun.  
Advertisements

"Yang Ditonton Mah Udah Kemana-mana, Kita Mah masih Disini!"

Waktu senggang emang paling asik kalo kita abisinn untuk nonton tv sambil selonjoran dan bermalas-malasan. Apalagi untuk anak kecil yang masih belum punya banyak pikiran, nonton TV bisa sangat menyenangkan. Sambil pelan-pelan melupakan kalau besok ada PR.

Tapi hal seperti itu nggak pernah akan dibiarkan oleh seorang ibu. Bermalas-malasan adalah hal yang harus dibuang jauh-jauh. Nah, hampir semua orangtua selalu mengatakan hal yang sama ketika nyuruh anaknya berhenti nonton TV.

Begitu juga dengan ibu saya, dia selalu berkata seperti ini “Ngapain nonton TV mulu, nggak maju-maju, yang ditonton mah udah kemana, kita masih di sini, males-malesan. Udah sana belajar!”

Tapi setelah barusan saya pikir-pikir, ada benarnya juga yah perkataan itu. Coba deh, orang yang kita tonton itu pasti dapet honor banyak untuk tampil di Tv, sementara kita yang nonton nggak dapet apa-apa kecuali hiburan serta waktu yang terbuang. 

Kita sibuk mengamati perkembangan hidup para selebriti di acara infotainment, sementara mereka tau kita aja nggak kan. Padahal kita udah perhatian sama mereka.

ya, ini hanya sedikit pemikiran, nggak mesti diadopsi semuanya. Intinya mah, jangan keseringan nonton Tv dan ayo bergerak!

.