Dari Hai Club, Pers Abu-abu Hingga Hai School Crew

Perjalanan Komunitas Wartawan Pelajar Majalah Hai Dari Masa ke Masa.

“Mas, Koran SMA, tuh, dulu berhentinya tahun berapa?”

“Tahun 2008. Pertama kali terbit 2005.”

“Berarti ada vakum 3 tahun yah sebelum rubrik My School Page muncul di zaman Mate.”

“Iya. Mate yang bikin MSP. Nama MSP itu diambil dari salah satu rubrik di Koran SMA dulu.”

“Ohh! Baru tau gue.”

“Kalau dulunya lagi, namanya Pers Abu-abu.”

Itu percakapan saya dengan mas Yorgi pada Jumat, 3 Juni kemarin, sekitar tiga jam sebelum acara buka bersama sekaligus reuni komunitas wartawan sekolah Hai dimulai. Saya perlu menanyakan hal tersebut karena di acara nanti saya mau cerita kilas balik tentang keterlibatan anak-anak SMA di majalah Hai. Mas Yorgi, editor Hai yang sebentar lagi gantung keyboard dari jalan Panjang. hiks, adalah orang yang membentuk Koran SMA.

Di acara reuni ini, kami bertukar cerita tentang pengalaman jadi wartawan sekolah dan mengisi rubrik My School Page dari tahun ke tahun. Dimulai dari Adhie, alumni SMA Yadhika yang pada 2005 gabung jadi wartawan untuk Koran SMA Hai, lalu Mate (Rahmat Budiman), mantan managing editor Hai yang membentuk rubrik My School Page, dilanjut Rian Sidik, pengurus MSP 2013-2014, ditutup cerita dari saya yang ngangon Hai School Crew sejak 2016.

Hai adalah media yang segitunya dalam mengulik segala cerita seputar sekolah. Tanpa mendapat press release, tanpa bisa googling demi mencari tambahan data, Hai datang langsung ke sekolah, sok asik gabung ke tongkrongan, dan ngobrol di chat demi bisa mendapat cerita seru seputar anak SMA, dari yang berbau akademis, urusan pensi, korupsi di sekolah, tawuran, geng motor, sampai skandal syur remaja di era informatika ini. Hai selalu ngasih ruang untuk bahasan sekolah,  selain bahasan tentang pop culture dan gaya hidup remaja. Bahkan, sampai ada desk-nya sendiri. Rubrik khusus wartawan sekolah itu adalah salah satu bagian dari rubrik Skul yang lebih gede lagi.

Di artikel ini, ada baiknya sekalian saja saya bikin cerita tentang rubrik khusus wartawan SMA di majalah Hai dari masa ke masa. Toh, sekarang ini saya bisa menelusuri majalah Hai dari tahun jebot sampai yang terbaru hanya dengan klik-klik-klik. Semua ini berkat mas Muluk, pengarsip segala data redaksi, yang sudah mendigitalisasi seluruh edisi Hai. Jadi, saya bisa mudah mencari tahu perjalanan rubrik sekolah di majalah Hai ini.

Dan setelah ditelisik lagi, ternyata sebelum Pers Abu-abu saya jadi tahu bahwa HAI punya HAI Club. Wah apa lagi tuh? tahan sebentar. Saya jelaskan di bawah.

HAI Club (1979-1980-an)

Hai pertama kali terbit pada tahun 1977, tak lama setelahnya, Hai tampaknya sudah punya banyak penggemar. Buktinya, hingga di tahun 1979, Hai sudah sering mengumpulkan pembaca setianya di kandang Hai, yang saat itu masih di Jalan Palmerah Selatan.

Dari pertemuan-pertemuan itu, Hai dan pembacanya punya ide untuk bikin “sesuatu”. Dicetuskanlah nama Hai Club untuk menyebut perkumpulan para pembaca setia suka menulis dan antusias dengan dunia media cetak. Di masa awal pembentukan, Hai Club bisa menjaring 30 remaja untuk mengisi formasi organisasi. Dan mereka nggak sekadar kumpul-kumpul. Mereka berhimpun untuk fokus membuat publikasi yang kemudian dinamakan KOMA alias Koran Remaja.

Gagasan ini muncul karena mereka merasa media saat itu nggak ada yang benar-benar mewakili perspektif remaja dalam melihat dunia. Remaja pun butuh corong untuk menyampaikan suaranya.

Beberapa nama yang ikut Hai Club adalah  Jay Bimo. Musril Rahimsa, Arya Dipayana, Leila S. Chudori, Nony Lukito dan Wiwiet Wicaksono. Konon, mereka adalah penulis cerpen yang langganan dimuat Hai. Belakangan, Hilman Hariwijaya (pengarang Lupus) bergabung juga dengan Hai Club saat ia sudah masuk masa SMA.

Saya belum tahu pasti kapan KOMA berakhir. Namun, di Hai edisi ulang tahun ke 10, saya menemukan cerita bahwa KOMA dan HAI Club sudah padam saat itu.

“Sayang umurnya pendek sekali. Keluar dari perut bumi seolah cuma aksi lalu melempem. Hingga sekarang tidak terbit lagi,” tulis Hai di tahun 1986 tentang KOMA.

Kiprah Sekolah – Pers Abu-abu (1988-1990-an)

Rubrik Kiprah Sekolah Hai nomor 21 tahun 1990

Di lumbung arsip Hai saya mengetik kata kunci “Pers Abu-abu” dan menemukan rubrik yang bernama Kiprah Sekolah. Rubrik ini diisi oleh kumpulan artikel singkat kiriman anak sekolah. Tema artikelnya nggak jauh dari acara sekolah dan ekskul.

Di waktu yang sama, Hai sering roadshow ke sekolah-sekolah membawakan materi tentang jurnaslistik. Mas Wendo yang kerap jadi pembicaranya. Dia ngomporin anak SMA untuk jadi Pers Abu-abu. Mencari anak-anak SMA yang bisa diajak untuk jadi wartawan kontributor. Dalam perjalanannya, komunitas Pers Abu-abu yang terbentuk dari Hai juga bikin tabloid tentang masa SMA yang diberi nama Hermes. Dino Martin adalah salah satu petingginya. Sekarang Dino Martin dikenal sebagai CEO dari Karir.com

HAI nomor 19 tahun 1991

Dari hasil penelurusan saya dengan kata kunci “Kiprah Sekolah”, saya menemukan rubrik ini aktif di periode 1989-1991. Setelah periode itu, para Pers Abu-abu dapat akses untuk mengisi rubrik-rubrik lain di luar rubrik tentang sekolah. Yoris Sebastian saya temui pernah menulis tentang musik dan film di masa-masa ini. Saat itu Yoris adalah siswa SMA Pangudi Luhur Jakarta.

Kalau kamu pembaca Lupus karangan Hilman, maka akan tahu bahwa Lupus yang seturut cerita fiksi itu bersekolah di SMA Merah Putih, adalah juga wartawan contributor Hai masa 1991. Saat itu editornya adalah Dharmawan dan Redaktur Pelaksananya adalah mas Iwan.

Belakangan saya tahu bahwa mereka berdua jago betul di dunia tulis-menulis. Suatu hari di Februari lalu, saya bertemu dengan mas Dharmawan di kedai milik yang diasuhnya, Kedai Tjikini, saya kasih lihat dia Hai terbaru dan dibuat kikuklah saya. Mas Dharmawan detil betul memindai artikel demi artikel menemukan sejumlah kejanggalan dalam penulisan dan tata letak.

Balik ke Lupus. Lupus sering bikin liputan feature untuk Hai. Beberapa yang pernah saya baca adalah liputan Lupus tentang anak SMA yang mudik lebaran. Liputan tersebut membuat Lupus malah kebawa kereta sampai ke Yogya saking asiknya wawancara. Lupus juga pernah ikut liputan konser Duran Duran di Hongkong dan mewawancara idolanya. Dan terakhir, saat Lupus baru masuk kuliah, ia liputan tentang cewek-cewek SMA yang suka diskotek. Dasar playboy, sambil liputan, Lupus ngegebet Phia si narasumbernya yang masuk kelas 2 SMA itu. Artikel jadi, pacaranpun pasti.

Perekrutan wartawan kontributor dari kalangan pelajar terus berlanjut sampai era 90-an akhir. Beberapa nama yang saya tahu pernah jadi salah satu anggotanya adalah Kristupa Saragih (pendiri Fotografer.net), dan Felix Dass, hingga kini aktif sebagai pengamat musik dan penggerak sidestream scene di kisaran Jakarta. Kalau ditilik dari Instagramnya, sih, mas bewok satu ini sedang di London. Asik betul.

Koran SMA (2005-2008)

rapat Koran SMA dipimpin oleh mas Yorgi Gusman (Baju merah)

Yang membentuknya adalah Mas Yorgi, wartawan sekolah Hai saat itu. Seperti namanya, jenis konten bukan sekedar rubrik di dalam majalah, melainkan koran mini 10 halaman yang dibuat oleh anak SMA . Koran SMA disisipkan di majalah Hai secara berkala.

“Waktu itu gue bikin pengumuman perekrutan wartawan SMA lewat iklan kecil di majalah. Besoknya banyak banget anak SMA yang nelpon ke kantor. Banyak juga yang mau ikut,” cerita mas Yorgi tentang awal mula Koran SMA.

Dengan terpilih menjadi anggota, mereka-mereka itu resmi jadi wartawan sekolah. Sebuah predikat yang bikin ngerasa keren. Ya coba aja bayangin, ketika temen-temen lo ke pensi sebagai pengunjung biasa, mereka datang sebagai wartawan. Masuk nggak bayar, dan sepulangnya nama mereka dikenal, karena namanya ada di akhir berita yang mereka bikin. Udah gitu, tiap kali nulis di Koran SMA bakal dikasih honor.

Sebagaimana koran, Koran SMA pun punya sejumlah rubrik. Ada rubrik CCP-an yang berisi profil cewek cakep dari suatu sekolah yang asik untuk bahan curi-curi pandang. Ada juga rubrik liputan pensi tentunya.

Kalau dilihat dari tahunnya, sih, Koran SMA terbit saat saya kelas 2 SMA. Dan asal kalian tahu, sekolah saya adalah SMA yang paling dekat dengan kantor Hai. Nggak sampai 500 meter. Tapi sayang, saya belum punya minat gede sama majalah dan jurnalistik jadi nggak segitunya sama majalah Hai dan nggak kena terpa info soal perekrutan wartawan SMA ini. Saat itu saya baru di tahap hobi ngumpulin majalah-majalah gratis dan segala pamflet yang ada di distro saja.

Banyak banget anak Koran SMA yang setelah lulus kuliah lanjut bekerja di majalah Hai sebagai wartawan. Bahkan ada yang selulus SMA sampai ia lulus kuliah nggak putus jadi kontributor Hai.

My School Page (2010-2015)

Rubrik MSP 2012

Agak lama yah jeda kosong antara Koran SMA dan My School Page. Tiga tahun! Kalau nggak salah inget, Mas Yorgi cerita bahwa Koran SMA tuh berhenti karena biaya cetaknya lumayan. Jadi disudahkan saja.

Hingga pada 2010, inisiatif untuk bikin komunitas wartawan sekolah muncul lagi. Adalah Rahmat Budiman alias Mate inisiatornya.

“Dulu gue masuk Hai tuh tahun berapa yah, 2008 kalau nggak salah. Setelah beberapa lama gue sering liputan ke sekolah gue mendapati banyak anak SMA yang nanya gimana caranya  ikut nulis untuk majalah Hai. Dari situ gue kepikiran untuk bikin rubrik khususnya. Gue konsultasi ke Yorgi dan akhirnya pakai nama rubrik yang dulu pernah ada di Koran SMA dulu yaitu My School Page,” cerita Mate di acara bukber yang saya ceritakan tadi.

MSP Angkatan 1
Rapat MSP tahun 2010 bersama Mate

My School Page terdiri dari dua halaman. (kalau dilihat dari jumlahnya yang jamak itu, seharusnya nama rubrik ini adalah My School Pages. Hehe) Isinya adalah artikel feature yang dikerjakan oleh 3-5 anak MSP sekaligus. Temanya beragam dari yang ringan kayak daftar aturan ngeri di sekolah, cerita horor di sekolah, hingga kebiasaan pacaran para anak SMA.

Hampir setiap bulan sekali, para anak MSP itu selalu rapat di kantor Hai. Membicarakan ide tema artikel yang sekiranya asik untuk dibahas sebulan ke depan. Setelah ide artikel ditentukan, pembagian kerja dilakukan. Setelahnya, ya kerja deh. Deadline pengumpulan artikelnya ya sama kayak anak redaksi, tiap Rabu! Makanya, password akun-akun MSP tuh nyerempet-nyerempet urusan deadline. 

Dosma, salah satu alumninya cerita tentang serunya proses kerja sebagai anak MSP. “Gue angkatan pertama MSP. Gue inget banget dulu diminta nulis tentang sekolah-sekolah yang punya cerita horornya. Terus, pernah juga H-1 ujian nasional gue ditelpon Mate diminta bantuin nulis. Tentang bocoran UN, kalau nggak salah,” kata Dosma.

Mate kemudian naik menjadi editor Hai, mandat kepengurusan MSP dilanjutkan ke Ananda Rasulia. Terus, setelah Nanda cabut dari Hai, Rian Sidik yang megang, lalu Satria Perdana dan baru deh pindah ke saya. Kami para pengasuhnya ini bertugas untuk supervisi rapat, mengoordinasi liputan, menyunting tulisan, dan nraktir pizza atau nasi padang.

My School Pages “HSC” (2015-…)

Rubrik MSP tahun 2015

Di masa kepengurusan Satria dan saya, kami mengusulkan nama Hai School Crew (HSC) untuk menyebut para wartawan SMA ini. Sempat kepikiran untuk menamainya Hai School Press atau Hai School Squad. Tapi setelah dipikir-pikir, nama Hai School Crew lebih asik bin kekinian. Maksud utamanya adalah, agar keterlibatan para anggotanya nggak terbatas pada kegiatan “Press” saja.

Satria cabut pada 2016 awal. Sontak saya jadi satu-satunya pengurus. HSC masa kepengurusan ini bisa dibilang spesial karena merasakan tiga Pemimpin Redaksi, dan tiga perubahan medium: dari mingguan ke bulanan lalu berhenti cetak dan jadi full digital.

Udah gitu, saat masih mingguan MSP tahun ini panjangnya jadi 8 halaman.

“Kita perlu lebih banyak melibatkan anak SMA nih untuk nulis di Hai. Biar meningkatkan engagement,” kata mas Adit, managing editor, di suatu rapat tengah 2016. Saya cuma bisa nelan ludah sampe ke lidah-lidahnya saat mendengar.

Oh berarti jumlah HSC sekarang ini harus diperbanyak. Untuk mengisi 10 halaman itu, pikir saya saat itu. Saat perekrutan pun saya memilih sekitar 70 orang untuk ikut gabung. Domisilinya kebanyakan di Jakarta, tapi ada juga di Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Magelang, dan Kalimantan.

Cuplikan rubrik MSP 2016

Konten MSP pun berubah. Karena 8 halaman, saya mantapkan namanya menjadi My School Pages dengan ‘s’ di belaakang. Kalau sebelumnya hanya satu artikel, MSP ini kami bagi menjadi 5 rubrik, yaitu: School Story (artikel feature tentang sekolah), Hiplist (daftar segala yang hip di sekolah), Art n Lit (puisi dan gambar kiriman pembaca), Skul Star (profil anak-anak SMA yang menonjol di sekolahnya), dan Student Talks (opini pelajar tentang suatu fenomena)

Pola kerja HSC pun agak beda dengan masa lima tahun lalu. Kalau dulu untuk koordinasi liputan mesti telpon, dan untuk rapat mesti datang ke kantor, sekarang ini HSC bisa ngalor-ngidul di grup percakapan LINE. Thanks to Brown and Conny.

Rapat HSC di suatu malam di 2017
Hai School Crew saat meliput pensi Skyave 2016. Berfoto di depan panggung yang roboh ditiup badai.

MSP 10 halaman ini berjalan hingga 7 edisi dan padam karena Hai berubah jadi bulanan. Mas Pemred memutuskan untuk mencabut rubrik MSP dari majalah dan memindahkan saja ke Hai-online. Kami semua sedih. Bagaimanapun ngerjain MSP di majalah ada keseruan tersendirinya, deadline-nya ketat dan artikelnya di-layout dengan asik. Jadi lebih ena’ dilihat.

Ya, MSP Goes Online. Di Hai-online dibuat kanal khusus MSP yang isinya segala tulisan bikinan para Hai School Crew ini. Kami semua menulis tentang sekolah, tapi bisa juga menulis hal-hal lain. Dalam setahun ini, setelah saya hitung, HSC sudah menulis 95 artikel untuk MSP di online ini. Wuih.

We need more space!

Cover majalah HAI edisi terakhir

Juni 2017 adalah bulan terakhir majalah Hai terbit. Di media sosial, banyak banget warganet yang menyatakan dukanya. Dengan melihat bahwa warganet yang kaget dengan tutupnya majalah Hai lebih banyak yang berusia 30 tahun ke atas ketimbang yang masih berseragam SMA, tanpa diberi tahu lagi pun, kita bisa tahu alasan majalah Hai berhenti cetak kan? Hehe.

Iya, kami menyatakan diri lulus dari media cetak, tapi tak memilih punah. Lulus satu, Hai akan tumbuh seribu. Konten-konten Hai akan tetap hidup, tumbuh, di media yang tak pernah punya batasan jumlah halaman, nggak butuh ongkos cetak, dan nggak mentok pada kertas saja, tetapi bisa mengeksplor multi media.

Satu hal yang pasti lagi adalah Hai akan terus menjadi majalah remaja yang dengan senang hati mengajak anak-anak SMA untuk terlibat membuat konten. Para Hai School Crew bisa membuat liputan pensi dalam bentuk vlog atau laporan langsung lewat Instagram LIVE, misalnya, sambil tetap membuat artikel panjang tentang cerita seru di sekolahnya untuk dimuat di Hai-online. Dan masih banyak kemungkinan jenis konten yang bisa dibuat lagi di jagad digital ini.

Ah, saya jadi ingat salah satu novel Lupus yang menceritakan Lupus lulus SMA dan lanjut berkuliah. Sebagaimana Lupus, majalah Hai juga lulus dari media cetak. Kalau cerita Lupus itu diberi judul, “Idih Lupus udah gede”, cerita majalah Hai ini cocok untuk ditajuki “Idih, Hai udah digital.”

Advertisements

Tips Menyenangkan untuk Bersedih

Andai tak ada kesepakatan tak tertulis antar para laki-laki untuk tidak saling memedulikan perasaannya masing-masing, pemuda R pasti akan menghampiri pemuda K, memberikan senyumnya yang paling sederhana lalu menepuk pundaknya sambil berkata, “Ada apa?”

Dan pemuda K pun takkan menjawab karena ia lebih senang sesunggukan mengikuti irama tangisannya.

Setengah jam yang lalu, pemuda K wara-wiri dari satu situs ke situs lain. Ia ingin menonton film yang ia sudah tonton dua tahun lalu tapi ia lupa sama sekali apa judulnya. Yang ia ingat betul adalah, setengah jam terakhir film itu membuat ia menangis, seperti seorang anak sulung pertama kali melihat foto bapak kesayangannya ada di sampul buku Yasin.

Film itu bercerita tentang seorang pewarta foto perang. Ia wanita. Semakin lama, suaminya semakin mengutuk profesinya itu. Siapa pula keluarga yang mau ditinggal pergi dalam kurun waktu yang lama, dan tak pernah jelas bisa pulang ke rumah atau ke makam. Pun, durasi kerjanya yang lama itu kerap bikin si suami keki membohongi syahwat barangkali. Di setengah jam terakhir itu, si pewarta foto dirundung dilema luar biasa: gantung kamera, atau ia akan kehilangan keluarga. Manusia memang tak diciptakan untuk bisa memelihara dua cinta sekaligus, agaknya. Jadi, ia harus memilih.

Continue reading Tips Menyenangkan untuk Bersedih

Gramedia.com dan Niat Baiknya Yang Perlu Dibenahi

20161225194440

Sekitar pukul 09 pagi, di Senin (12/12) yang libur itu, saya dapat kabar. “Gramedia.com ikutan Harbolnas juga, tuh.”

Sambil kaget, saya langsung meniliknya. Astaga, udah gila kali nih, Gramedia, pikir saya saat itu. Novel O karangan Eka Kurniawan yang selalu saya tunda beli karena harganya mahal, melesat turun harga menjadi Rp 29.000–sebelumnya Rp 90.000. Begitu juga dengan kumpulan cerita pendeknya. Rerata hanya Rp 15 ribu.

Saya yang sering mengikuti obral buku Gramedia heran. Buku-buku terbitan Kompas Gramedia yang populer, tuh, jarang banget direlakan masuk ke rak obral. Lah, di Harbolnas kemarin, nyaris semua buku mereka sunat harganya.

Continue reading Gramedia.com dan Niat Baiknya Yang Perlu Dibenahi

Antara Migrasi Blog dan Melawan Romantisme

Ini adalah posting tersayang di blog yang baru saja saya rancang sejak siang tadi, dan hingga sekarang belum jelas juntrungannya. Masih belum sreg dengan desainnya. Tapi, mau mengutak-atiknya pun kemampuan saya terbatas adanya.

Saya memutuskan migrasi ke WordPress.com dengan alasan sederhana: Wp fitur-fiturnya lebih asik. Sebelumnya, saya sudah punya beberapa blog Wp sebenernya. Tapi bukan diperuntukkan untuk blog pribadi. Tiap kali pengin memindahkan blog dari Blogger ke Wp, selalu cemas akan banyak hal, seperti:

  • Gue mau jadi orang yang setia. Termasuk sama blogging platform.
  • Gue nggak mau menyerah. Walau sering dibikin keki oleh Blogger yang sulit sekali ditemukan template sesuai keinginan, gue akan terus mencari dan utak-atik kodenya.
  • Pindah blog sama dengan mengiklaskan ratusan viewers yang sudah gue capai.
  • WordPress walau pun fitur yang sudah disediakan itu asik. Tapi membatasi pengguna untuk mengutak-atik.
  • dan sederetan alasan klise lainnya.

Continue reading Antara Migrasi Blog dan Melawan Romantisme

Resensi Novel “KAMU Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya” karangan Sabda Armandio Alif

13694745_1232036093475817_368024539_n
Bela-belain foto buku ini saat ke pantai, demi mengenang adegan terakhir di novel. Tiga tokohnya tiba-tiba pergi ke pantai, mengingat semua yang sudah terjadi.

Suka banget sama novel ini. Ceritanya seru nan ajaib; sepanjang buku bertaburan kalimat-kalimat cerdas; dan pemikiran-pemikiran dua tokoh utama: si aku (narator) dan Kamu sangat cespleng. Dari mulai pemikiran soal sekolah dan sistem pendidikan, negara, agama, cinta, kenangan, sampai masalah kesepian.

Tiap baca buku, saya selalu menandai potongan cerita, atau kalimat yang gue suka. Nah, di novel ini, gue menghabiskan nggak kurang dari 30 lembar post-it! Ini beberapanya:

“Aku cuma senang tertawa. Kau tahu kenapa? Mungkin aku hanya sedang berusaha mengecoh kesepian.”

“Aku ingin jadi pengarang agar bisa memetakan pikiran dan perasaanku sendiri.”

dan ini juga:

“Suatu hari aku mau jadi petani. Mencangkul sambil menyanyikan lagu-lagu AC/DC, kayaknya gagah sekali. Aku baca di koran, katanya pembangunan mal di Jakarta masuk rangking sepuluh besar di dunia, dan orang-orang bangga. Aku justru heran, sebenarnya itu kemajuan atau kemunduran, sih?”

Bahkan–ini norak–ada satu bagian yang saat saya baca, saya sampai melempar bukunya ke tembok, sambil cengegesan, saking greget kagum sama cerita dan olahan-olahan kalimatnya

Kalau dipikir-pikir, 70 persen novel ini berisi tumpahan pemikiran si aku yang memang hobi banget melamun (si aku adalah pelamun yang lebih suka mie instan ketimbang senja). Di satu titik saya ngerasa buku ini lebih terasa sebagai panduan melamun dan merapihkan pikiran, alih-alih sebagai novel. Sampai sekarang pun, tokoh si aku dan Kamu semacam hidup di dalam kepala. Tiap kali sedang melamun, saya membayangkan saya bercerita ke mereka gitu. Waa

Mau tau ceritanya? kira-kira gini:

Di suatu malam, si aku mengenang sahabatnya yg bernama Kamu. Saat SMA, jelang ujian nasional, mereka hatrick bolos: tiga hari berturut-turut. Hari pertama, cerita ajaib dialami di alam mimpi

Hari 2, si aku menemani mantan pacarnya yang hamil entah oleh siapa, ke dokter. Hari ketiga, mereka bertemu Permen.

Selesai baca saya bertanya, berapa banyak buku lagi yang mesti gue baca ya biar bisa nulis cerita seasik ini

Resensi Buku How To Be Alone karya Sara Maitland

Buck How To be Alone ole Sara Maitland

Bingung kan, kesendirian saja perlu diajarkan. Tapi mau gimana, betapapun kita menggadang-gadang kebebasan berekspresi, dan suka dengan petuah motivasional “jadilah diri sendiri”, nyatanya kita masih menganggap aneh mereka yang suka ngapain-ngapain sendiri.

Pun, sekarang kan eranya aku-pacaran-maka-aku-ada. Kesendirian dirayakan sekaligus dipojokkan. Kesendirian itu, kata Sara Maitlan, sering dikesankan sebagai sesuatu yang, “sad, mad, bad.”

Semua tahap-tahap untuk jadi seorang penyendiri, berpendirian, dan berdikari yang ditulis di sini adalah segala hal yang “yaelah gue udah tau ini, sih.” Tapi sungguh sulit untuk dilaksanakan. Sara menuliskan proses-proses itu mendetil, pun ia urai dulu mengapa harus melakukannya. Jadinya, buku ini asik dibaca, dan perlu.

Pada akhirnya buku ini makin menegaskan ke saya betapa perlunya kita untuk bisa sendiri-bersama, dengan siapa pun.

Saya membeli buku ini di Aksara Cilandak Town Square dengan harga Rp 190.000. Terpicu membeli karena sebelumnya saya suka sekali dengan School of Life, lembaga di Inggris sana yang doyan memberi materi tentang hal-hal esensial soal hidup. Belakangan, saya jadi gandrung juga dengan kanal YouTUBE mereka.

Usai baca buku ini, kemudian saya bikin artikel menyoal kesendirian. Bisa dibaca di baca dengan mengklik tautan ini. 

Lepas dari buku, saya baru nemu kata yang cocok untuk menggambarkan orang yang suka sendiri. Kata itu adalah… “Langgas”. Cek di KBBI deh artinya apa.